PotretNews.com Selasa 20 November 2018

Jejak Pekanbaru dari Zaman ke Zaman; 1886, 1928, 1930 dan Ruko Pertama

Jejak Pekanbaru dari Zaman ke Zaman; 1886, 1928, 1930 dan Ruko Pertama

Rumah H Yahya, toke karet di masa lampau. Rumah ini sudah ada sejak tahun 1887. (foto: bahanamahasiswa.wordpress.com)

Sabtu, 12 Maret 2016 14:45 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Eliza Netscher (1825-1880), seorang Sekretaris Jenderal Belanda di Batavia (1848) dan pernah menjabat sebagai Residen Wilayah Riau (1861-1870), dalam bukunya De Nederlander in Djohor En Siak (1602-1865) menyebutkan, di abad ke-17 nama Senapelan sudah dikenal sampai ke Melaka dan Johor dengan sebutan Chinapalla.Elisa Netscher lahir di Rotterdam, 7 Desember 1825, dia meninggal di Batavia (sekarang Jakarta), 2 April 1880 pada umur 54 tahun. Elisa Natser adalah pegawai negeri, kemudian menjadi residen dan gubernur. Karena pengetahuannya dalam bahasa Melayu, Netscher berkali-kali ditunjuk sebagai pejabat senior oleh pemerintah.

Sebelum diangkat sebagai Residen Riau, ia mengunjungi Karesidenan Riau sebanyak tiga kali, yakni pada 1849, 1856, dan 1857. Pada tahun 1861 Netscher diangkat sebagai residen Riau dan untuk pekerjaannya tersebut ia dianugerahi virtus nobilitat.

Setelah masa jabatannya habis, Netscher menerbitkan sejumlah makalah, terutama karya-karya yang diatasnamakan Perhimpunan Batavia. Catatan Netscher tentang keberadaan awal Kota Pekanbaru menarik dicermati, ini menunjukkan bahwa Pekanbaru sudah terkenal, walau saat itu baru dikenal Senepalan, karena keberadaan penduduk tak jauh dari Sungai Senapelan.

Ads
BACA JUGA:

. Benteng Huis Van Behauring di Bengkalis, Penjara Zaman Belanda Rumah Tahanan Para Raja Nusantara

. Kelezatan Es Durian Ini Begitu Melegenda di Pekanbaru

Ini menunjukkan bahwa Sungai Senapelan merupakan sungai yang bersejarah. Tapi saat penulis melihat Sungai Senapelan yang lokasinya tak jauh dari jembatan leighton, ternyata sungai itu nyaris hilang.

Pemerintah membangun pintu air untuk mengatur air jika Sungai Siak banjir, agar warga di sekitar Jembatan Leigton tidak kebanjiran. Penelusuran berikutnya ke arah hulu Sungai Senapelan yang lebih pantas disebut parit ini, ternyata sungai ini nyaris habis ditutupi bangunan, bahkan ditutupi bangunan beton seperti terlihat dari Jalan Riau.

”Dulu sungai ini bisa ditelusuri sampai ke Panam, waktu itu masih hutan,” ujar Muhamad Yusuf (62), salah seorang warga di Kelurahan Kampungbaru, Kecamatan Senapelan.

Jika Sungai Melaka dipertahankan oleh Pemerintah Malaysia, maka nasib Sungai Senapelan jauh berbeda, walau keduanya memiliki latar belakang sejarah yang mirip. Padahal jika saja pemerintah mau sedikit peduli, sungai bersejarah ini layak menjadi lokasi wisata sejarah.

SIMAK:

. SAYEMBARA: Ada Hadiah Senilai Rp 100 Juta untuk Warga Pekanbaru yang Melaporkan Aktivitas Judi di Satu Lokasi

Setelah menelusuri Sungai Senapelan yang ditulis Netsher sudah ramai penduduknya pada awal abad 1700-an, penulis menjenguk Makam Sultan Marhum Bukit (Sultan Siak V) yang memerintah 1766-1980.

Sultan yang mendirikan istana di Kampung Bukit ini menarik dicermati, tapi sayang tak banyak sumber primer yang penulis temukan, bahkan bentuk asli makam sudah tertutup oleh bentuk makam yang baru dibangun dengan menggunakan keramik dan bentuknya tinggi.

Padahal, kalau saja bentuk nisan lamanya masih diperlihatkan, maka akan tergambar bagaimana batu nisan yang digunakan saat itu. Kabarnya saat itu Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah atau Sultan Siak IV, mendirikan masjid, yang dikenal Masjid Nur Alam pada tahun 1762. Bentuk Masjid Raya Pekanbaru ini pun sudah tidak lagi ditemukan yang aslinya.

”Bentuk aslinya kecil. Pokoknya makam itu masih terjaga di dalam. Jadi makam yang baru itu melindungi makam yang lama,” ujar penjaga makam sultan, Dadang.

Tak puas dengan penjelasan penjaga makam, penulis memperhatian sekitar lokasi makam. Dadang menjelaskan, bahwa belum lama ini dia menemukan lokasi awal Mesjid Raya Pekanbaru ini. Penulis perhatikan bentuk yang diduga bekas mesjid raya lama ini, ditemukan batu pondasi dan bekas batu bata lama.

”Ini masih dalam penelitian arkeologi, makanya tidak boleh dirusak dan dipindah-pindahkan,” ujar penjaga makam yang banyak paham sejarah Senapelan ini.

Perhatian penulis berikutnya pada makam Marhum Pekan, yakni Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Sultan Siak ke-5) memerintah pada tahun 1780-1782 yang mendirikan Pekanbaru.

Bentuk makamnya pun sudah tidak asli lagi. Jika saja makam itu masih terlihat yang aslinya, maka akan terbayang dipikiran orang yang melihatnya bahwa bentuk nisan pada tahun 1782 ini seperti itu.

Tiga lokasi inilah (Sungai Senapelan, Makam Marhum Bukit, Makam Marhum Pekan) titik awal sejarah Pekanbaru. Bagaimana kondisi Pekanbaru saat itu? Untuk sementara tidak bisa dibayangkan.

Di catatannya, Netsher hanya menjelaskan bahwa Senapelan sudah dikenal di Melaka. Artinya penduduk Senapelan sudah ramai.

Pekanbaru 1886
Jika tahun 1700-an tidak ditemukan benda yang masih asli. Tetapi pada tahun 1886, penulis menemukan rumah tua di Jalan Perdagangan.

Rumah tua ini dulunya milik H Yahya, kemudian diwariskan ke anak perempuannya yakni Hj Ramnah Yahya Cs (saudaranya lain), kemudian diwariskan lagi ke M Yusuf Cs.

Dari rumah tua ini, penulis mendapatkan sedikit gambaran Pekanbaru masa lalu. Rumah H Yahya ini tak jauh dari Sungai Siak, hanya 12 meter. Tinggi lantai dasar sekira 160 meter.

”Ketinggian lantai rumah ini memberikan gambaran kepada kita, bahwa ini posisi aman banjir yang diperkirakan warga Pekanbaru saat itu. Seingat saya banjir Sungai Siak paling besar terjadi pada akhir tahun 1963 sampai awal tahun 1964. Waktu itu awal akhir bulan Desember dan ternyata rumah ini tidak terendam,” ujar pegawai Tirta Siak ini.

M Yusuf yang kelahiran 1956 ini pun sering mendengarkan cerita rumah ini dari ibunya, yakni Hj Ramnah, bahwa pembangunan rumah ini menghadap ke Sungai Siak, karena saat itu transportasi hanya menggunakan kapal atau sampan. Jadi di belakang rumah ini belum ada jalan. Yusuf pun menantang penulis dengan pertanyaan.

”Coba Anda cari rumah tua yang menghadap ke Sungai Siak? kalau ada, tunjukkan ke saya. Seingat saya ada satu di Tanjungbatu,” jelasnya.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/12032016/potretnewscom_g26np_323.jpg
BENTUK EROPA: Rumah Tuan Qadhi H Zakaria bin Abu Bakar di Jalan Senapelan Gang Pinggir Kelurahan Kampung Bandar, satu-satu rumah berbentuk bangunan Eropa. (foto: meityintan.blogspot.com)

Di rumah ini Yusuf menunjukkan penyambungan tiang yang tidak menggunakan paku. ”Orang dulu membangunnya dengan menggunakan pasak. Ini dia contohnya, pasaknya di tengah,” ujarnya. Menurut Yusuf, kayu yang digunakan pohon tembusu, sekarang sulit ditemukan.

Dari bentuk kayu ini penulis mendapat gambaran bahwa kayu sepanjang delapan meter ini saat itu masih gampang diperoleh. Beberapa bantuk asli dari bangunan tua ini selain tiang-tiang besar yang membentuk rumah ini, juga struktur bangunannya.

Rumah terlihat seperti tingkat, padahal jika dimasuki, yang bagian atas itu hanya untuk menyimpan barang-barang, seperti alat-alat masak dan lainnya.

Di bagian kolong (bawah bangunan) tersedia ruangan untuk menyimpang benda-benda seperti dipan atau ranjang bekas dan lainnya.

”Saya tidak mengubah struktur bangunan ini. Ini sangat penting, agar orang sekarang ini bisa melihat masa lalu Pekanbaru itu bagaimana,” ujarnya.

Penulis pun ingin melihat bagaimana kondisi tahun 1886 di wilayah Riau, selain di Pekanbaru melalui penjelajahan sejarah. Ternyata berdasarkan catatan sejarah, Istana Siak Istana Siak Sri Inderapura yang merupakan kediaman resmi Sultan Siak, mulai dibangun pada tahun 1889, yaitu pada masa pemerintahan Sultan Syarif Hasyim. Istana ini merupakan peninggalan Kesultanan Siak Sri Inderapura yang selesai dibangun pada tahun 1893 oleh arsitek Jerman.

Jembatan Istana Siak tahun 1899. Balai Kerapatan Tinggi Siak dibangun pada 1889. Bangunan ini menghadap ke arah sungai.

Gambaran lainnya, yakni Istana Maimon di Kerajaan Deli, Medan, dibangun 18 Mei 1891 oleh arsitek Itali. Istana ini dibangun masa kepemimpinan sultan Deli, Sultan Makmun Al-Rasyid.

Gedung Terminal Kereta Api di Medan dibangun 1885 dan banyak bangunan lainnya yang dibangun Belanda.

Mengapa pikiran penulis sampai ke Medan, karena pembangunan wilayah pesisir Sumatera ini atas kesepakatan Traktat Siak 1865. Sat itu, Pemerintah Belanda membuat perjanjian dengan Kerajaan Siak, dengan kesepakatan itu, makanya seluruh pesisir Sumatera kuasai Belanda, sebab dianggap seluruh pesisir Timur di bawah kekuasaan Siak.

Selain itu, gambaran tentang bangunan di pesisir Sumatera pada tahun 1980-an akan memberikan gambaran perbandingan kepada warga Pekanbaru, bangunan rumah H Yahya adalah bagian rumah yang megah saat itu.

Sementara di Siak sudah mulai berdiri Istana Siak yang megah dan di Medan juga dibangun Istana Maimun dan infastruktur pembangunan lainnya.

Tapi sayang pada tahun 1880-an atau akhir abad dua puluh ini, penulis belum menemukan bangunan permanen lainnya di Pekanbaru. Tapi yang jelas saat itu banyak rumah yang semegah rumah H Yahya, cuma kerena tidak terawat, tinggal rumah tua ini saja yang masih tersisa.

Pekanbaru 1928
Pekanbaru pada tahun 1928 sudah banyak bangunan yang kokoh dan megah. Hal ini dibuktikan adanya Mesjid Raya Pekanbaru yang berdiri megah, tapi sayang bangunan itu sekarang sudah hilang. Bangunan yang seumur dengan masjid raya ini, yakni rumah tuan Qodhi H Zakaria, lokasinya tak jauh dari Mesjid Raya Pekanbaru.

Penelusuran penulis ke rumah H Zakaria di Jalan Senapelan Gang Pinggir, terlihat bangunan itu sangat kokoh. Tapi tren bangunan seperti ini, neo-eropa klasik, tidak hanya milik tuan Qodhi H Zakaria, di Medan pada tahun 1928, banyak bangunan yang berbentuk seperti ini, bahkan lebih megah, seperti Kantor Pos Medan dibangun 1920, terminal kereta api 1920, rumah Kapten Tjong Ah Fie 1900, Mesjid Raya Al-Maksum Medan 1906 dan bangunan di pusat perdagangan di Kesawan Medan yang megah.

Demikian juga di Singapura dan daerah lainnya, bangunan neo-eropa klasik seperti ini sudah menjadi tren. Pekanbaru sudah mengalami perubahan sama dengan kota lainnya di pesisir Timur Pantai Sumatera, yakni terkena imbas pengaruh tren banguan neoklasik.

Dua pilar besar di depan rumah H Zaharia ini mirip dengan pilar enam tiang di Masjid Raya Pekanbaru yang saat ini masih dipertahankan. Kabarnya, para pekerja yang membangun rumah H Zakaria itu adalah mereka yang juga yang membangun Mesjid Raya, cuma mereka membangun mesjid dulu, setelah selesai baru membangun rumah H Zakaria. Kabarnya di rumah ini Sultan Siak sering singgah jika berkunjung ke Pekanbaru.

Model bangunan ini bisa dilihat dari ciri jenis desain arsitekturnya yang banyak menggunakan lis profil sebagai permainan dekorasi pada dinding.

Bentuk jendela pun dibuat besar-besar dan seragam serta karakter bangunannya yang terasa ”dingin” karena plafon dan atapnya didesain cukup tinggi. Begitu pun pada bagian interiornya, bangunan ini sangat konsisten.

Bila dilihat dari cirinya, tipe bangunan ini adalah tipe yang penggunaan dindingnya lebih tebal. Begitu pun struktur bangunannya yang sangat kokoh karena ditopang dinding- dinding yang tebal dan masif.

Sementara, untuk pintu dan jendelanya, rumah model ini menggunakan material berkualitas baik dengan ukuran yang giant atau tinggi dengan penanganan detail yang teliti. Bentuk jendela dibuat seragam pada semua bagian rumah.

”Rumah H Zakaria itu sama tuanya dengan Mesjid Raya Pekanbaru, sebab yang membangun rumah H Zakaria adalah tim yang membangun Mesjid Raya,” ujar Dadang, penjaga Kompleks Makam Marhum Pekan.

Bangunan lainnya yang dibangun pada tahun 1928, yakni rumah tuan Qadhi H Zakaria di Jalan Perdagangan. Rumah ini menghadap ke Jalan Perdagangan.

Posisi rumah ini sekarang nyaris dibawah Jembatan Siak III. Rumah ini berbentuk rumah Melayu. Di tangga rumah tertulis 23-7-1928. Jika melihat tanggal yang tertera di rumah ini, maka rumah ini dibangun 23 Juli 1928. Artinya rumah ini juga tak jauh beda masanya dengan pembangunan Masjid Raya Pekanbaru 1928.

Rumah ini juga memberikan gambaran bagaimana kondisi Pekanbaru saat itu, mulai dari penyebaran bangunan (rumah penduduk), bentuk bangunan dan penyebaran penduduk, yang sudah mulai merata di sepanjang tepi Sungai Siak.

Melihat Ruko Pertama
Perjalanan penulis berikutnya pada pencarian bangunan ruko (rumah toko) pertama di Pekanbaru. Untuk sementara penulis memastikan bahwa bangunan ruko pertama yakni rumah Penghulu Zain di Jalan Hasyim.

Mengapa dikatakan tertua, karena surat tanahnya yang bertuliskan Bahasa Belanda. Di surat tanah tersebut disebutkan bangunan rumah Penghulu Zain berlokasi di Hasyim Straat (Jalan Hasyim).

Rumah ini tak jauh dari Mesjid Raya Pekanbaru, sekira 10 meter. Letaknya antara Pasar Bawah dengan Mesjid Raya Pekanbaru. Jalan Hasyim, menurut penjelasan tokoh masyarakat di sini, Tanwir Ayang, bahwa jalan ini merupakan jalan paling tua.

Yakni menghubungkan Mesjid Raya Pekanbaru dengan pasar (pekan). Makanya rumah Penghulu M Zain ini tepat di Jalan Hasyim.

Dari bangunan rumah Penghulu Zain ini memberi gambaran bagaimana awal bentuk ruko di Pekanbaru. Bangunan rumah Penghulu Zain, sebagian besar masih menggunakan papan, hanya bagian bawah yang terbuat dari semen dan batu. Artinya saat itu lebih banyak bangunan menggunakan papan. Bentuk asli rumah ini masih dipertahankan, walau digunakan untuk lembaga pendidikan kursus.

Melewati tahun 1930 sampai pasca kemerdekaan, Kota Pekanbaru mengalami banyak perubahan. Jika sebelumnya bangunan umunya hanya mengandalkan kayu, tetapi masa ini sudah mulai bermunculan toko setengah permanen, yakni setengah batu dan bagian atas masih papan. Ini terlihat dari foto-foto Pekanbaru pada masa tahun 1930-an.

Misalnya Pasar Bawah bangunannya masih sangat sederhana, semi permanen. Hanya ada beberapa mobil yang parkir di dekat Pasar Bawah.

Sejalan dengan perkembangan industri bahan bangunan, maka belakangan bentuk toko pun berubah menjadi lebih permanen, seperti bangunan ruko Kedai Kopi Kim Teng lama di Jalan Saleh Abbas, Kelurahan Kampung Dalam tahun 1938. Kebakaran Pasar Bawah di masa transisi kemerdekaan, menyebabkan bangunan permanen pun mulai bermunculan.

Foto kebakaran Pasar Bawah penulis temukan dari perpustakaan Belanda, yakni saat masa awal kemerdekaan, nampak dalam foto tersebut pasukan Belanda dan Orang Cina yang sedang menunjuk pasar yang hangus terbakar, mungkin perlanan dari para gerilyawan yang menolak kedatangan Belanda ke Pekanbaru.

Heterogenitas penduduk Pekanbaru (Melayu, Cina, Minang dan Kampar), menyebabkan kota ini mengalami berkembang pesat, terutama ruko, makanya makanya bermunculan pecinan (ruko di Jalan Karet), bahkan Kim Teng tahun 1938 sudah memulai usaha kedai kopinya, walau akhirnya dia ikut berjuang ketika masa-masa awal kemerdekaan.

Bangunan permanen lainnya Gedung RRI Pekanbaru di Jalan Juanda, Kelurahan Sago, kabarnya dibangun sekira tahun 1940 dan merupakan basis penyiaran Prolkamasi 17 Agustus 1945.

Belakangan pasca kemerdekaan, bangunan di Kota Pekanbaru mengalami perubahan bentuk dan bahan bangunannya. Sejumlah bangunan permanen bermunculan, seperti bangunan Kodim di dekat Pasar Kodim, jembatan phonton, stasion Boom Baru dan bangunan lainnya.

Pesawat dan Kereta Api
Melihat Pekanbaru masa lalu ternyata tidak lagi bisa hanya menghandalkan peninggalan bangunan yang ada. Tugu pesawat tempur. Tugu pesawat tempur ini sebanarnya buka tugu, tetapi pesawat tempur sebenarnya.

Pesawat ini kabarnya dibeli secara patungan (urunan) sejumlah pengusaha di Pekanbaru, termasuk salah seorang penyumbangnya adalah Saleh Abbas, pengusaha yang bermukim di Pasar Bawah, makanya jalan di Pasar Bawah itu Jalan Saleh Abbas.

Menurut penjelasan Ekmal Rusdy, menantu almarhum H Saleh Abbas, pesawat pesawat terbang Sabre 86 jenis J388. Pesawat tempur ini digunakan untuk melawan Belanda saat masa kemerdekaan.

Yang paling menarik melihat Pekanbaru masa lalu yakni melalui kerja paksa membangun rel dari Muara Sinjunjung (Sumbar) ke Pekanbaru. Sejumlah foto yang dimiliki pasukan tempur dari perpustakaan State Library of Victoria di Australia, terlihat dari atas bentuk Pekanbaru pada September 1945.

Pesawat tempur milik Australia ini membantu menyelamatkan tawanan perang yang dipaksa Jepang untuk membangun rel kereta api jalur Muara Sinjungjung sampai ke Pekanbaru.

Sejumlah foto dari udara memperlihatkan bentuk bandara udara Sultan Syarif Kasim di Simpang Tiga yang masih sederhana dikelilingi hutan saat itu.

Tim penyelamatkan pun memoto sejumlah titik-titik kamp penampungan tawanan perang yang dipaksa bekerja membangun rel. Misalnya foto pelabuhan di dekat Pasar Bawah, dari foto ini terlihat arah jalan di Pekanbaru yang masih sederhana.

Memahami Pekanbaru masa lalu lebih lengkap melalui foto-foto peninggalan Belanda, khususnya sekitar 1943-1945, dimana 4.000 tawanan perang (Belanda, Australia, Amerika, Belgia, Selandia Baru dan lawan Jepang lainnya) dipaksa bekerja membangun rel kereta api.

Sebuah buku berjudul Eindstation Pekan Baru 1944-1945-Dodenspoorweg door het Oerwoud yang ditulis oleh Henk Hovinga memberi gambaran bagaimana Pekanbaru saat itu.

Untuk menulis buku ini Henk Hovinga mewawancari lebih dari 700 tawanan perang yang masih hidup dan tersebar di Eropa, Australia dan Kanada.

Luar biasa, bagaimana Henk menggambarkan kondisi tawanan perang saat itu. Bahkan seorang warga New Zaeland menelusuri sendiri sisa-sisa rel kereta api yang masih ada, sebab orang tuanya dulu juga pernah dipaksa bekerja di jalur rel kereta api ini.

Foto-foto bagaimana warga Pekanbaru pun ada pada saat itu, termasuk pasukan KNIL menyebarangi Sungai Siak yang masih sederhana.

Ada Foto dan Bangunannya Masih Utuh
Setelah berkeliling menelusuri peninggalan Kota Pekanbaru masa dulu akhirnya Riau Pos melihat Pekanbaru melalui sejumlah situs internet. Riau Pos menemukan sejumlah foto bangunan masa lalu, tapi sering kali bangunan di foto itu sudah tidak ada lagi saat dilakukan penelusuran ke lapangan.

Misalnya Balai Kerapatan Adat yang sudah berubah menjadi kantor polisi dan bentuk bangunan aslinya pun sudah hilang. Balai Kota berubah menjadi Plaza Senapelan, tugu jepang sudah dihancurkan karena di lokasi rumah dinas wali kota Pekanbaru saat ini, dan masih banyak rumah dan bangunan lain yang dibiarkan hilang.

Tapi ada satu foto bangunan yang masih sesuai antara foto yang tertulis 1951 tetapi setelah dilakukan penelusuran lapangan ternyata bangunan itu masih utuh, yakni foto bangunan di depan Pasar Kodim (sekarang bangunan itu tidak dimanfaatkan lagi tetapi masih milik Kodim). Dalam foto tersebut tertulis Gedung BNI pada tahun 1951 Jalan Bangkinang (sekarang Jalan Ahmad Yani), dan ternyata bangunannya masih ada, sekarang digunakan untuk jualan makanan. Seharusnya bangunan ini tetap dipertahankan.

Selain itu, semua aset sejarah lainnya hilang seperti Pasar Bawah yang diubah menjadi pasar modern, Mesjid Rahman, termasuk Mesjid Raya Pekanbaru (Nur Alam) yang saat ini dalam proses perombakan, foto Balai Kota menjadi Plaza Senapelan.

Bahkan Dang Merdu pun berubah menjadi gedung menjulang tinggi milik Bank Riau-Kepri dan masih banyak bangunan lainnya yang hilang. Jangan katakan salah siapa, mari selamatkan yang tersisa. *** #Semua Berita Kota Pekanbaru, Klik di Sini

Editor:
Mukhlis

Sumber:
Riaupos.co/Jarir Amrun

Kategori : Potret Riau
wwwwww