Sejarah Pacu Jalur di Kuantan Singingi Riau: Bermula dari Kisah Perayaan Ratu Wilhelmina hingga Kini Mendunia lewat Sosok Dikha

Kamis, 10 Juli 2025 22:53 WIB
bsejarah-pacu-jalur-di-kuantan-singingi-riau-bermula-dari-kisah-perayaan-ratu-wilhelmina-hinggaFoto: Kolase perlombaan Pacu Jalur di masa lalu dan Rayyan Arkan Dhika.

Oleh Regi Yusti Ramadhan*

PACU Jalur, sebuah tradisi balap perahu tradisional dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Provinsi Riau, semakin populer dan mendunia berkat viralnya gerakan "aura farming" yang dilakukan oleh para penari di ujung perahu.

Secara etimologi, kata Pacu Jalur terdiri dari dua kata yakni ’pacu’ dan ’jalur’. Pacu dalam bahasa Indonesia adalah lomba. Jalur adalah sampan yang terbuat dari kayu di hutan tertentu dengan syarat tertentu pula.

Keterangan tersebut tercatat dalam Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar Volume 1 No 1 Februari 2017 berjudul ”Nilai Karakter dalam Budaya Pacu Jalur pada Masyarakat Teluk Kuantan Provinsi Riau” yang ditulis Hendri Marhadi dan Erlisnawati dari Universitas Riau.

Sejarah Pacu Jalur

Dinukil dari situs Pemkab Kuansing, sejarah Pacu Jalur ternyata dimulai sejak abad ke-17 di wilayah Rantau Kuantan, sepanjang hulu Sungai Kuantan. Kini kawasan itu masuk wilayah Kecamatan Hulu Kuantan hingga Kecamatan Cerenti, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau.

Mengutip artikel dalam Jurnal Pendidikan Tambusai Volume 7 Nomor 3 Tahun 2023 berjudul ”Perlombaan Pacu Jalur di Kuantan Singingi (2009-2019)” yang ditulis Risman, Meri Erawati, dan Kaksim dari Program Studi Pendidikan Sejarah, Universitas PGRI Sumatra Barat, diuraikan, pada masa itu transportasi darat belum berkembang. Sehingga angkutan hasil bumi memanfaatkan jalur sungai dengan jalur atau sampan. Hasil bumi yang diangkut jalur seperti pisang dan tebu, sekaligus mengangkut manusia hingga 40-60 orang.

Dari kebiasaan ini muncul jalur-jalur yang diberi ukiran indah seperti ukiran kepala ular; buaya; atau harimau; baik di bagian lambung maupun selembayung-nya, ditambah lagi dengan perlengkapan payung; tali-temali; selendang; tiang tengah (gulang-gulang); serta lambai-lambai (tempat juru mudi berdiri).

Kemudian, kegiatan tersebut berkembang menjadi lebih dari sekadar alat angkut. Kampung-kampung di sepanjang Batang Kuantan mulai menggelar Pacu Jalur untuk memperingati dan merayakan berbagai hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, Hari Raya Idul Fitri, memperingati Tahun Baru Islam (1 Muharam), dan sebagainya.

Saat Belanda masuk ke dalam wilayah Rantau Kuantan dengan menduduki Kota Teluk Kuantan, Pacu Jalur dimanfaatkan untuk merayakan hari ulang tahun (HUT) atau kelahiran Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus. Perayaan Pacu Jalur tak lagi di hari-hari besar Islam, tetapi hanya digelar setahun sekali saat HUT Ratu Wilhelmina yang membuat warga Rantau Kuantan menganggap sebagai datangnya Tahun Baru.

Itulah sebabnya sampai saat ini Pacu Jalur ada yang masih menyebutnya Tambaru (tahun baru).

Proses Pembuatan Jalur

Ternyata untuk membangun jalur atau sampan yang diperlombakan, butuh proses panjang. Artikel di jurnal itu juga menguraikan proses pembuatan jalur. Begini prosesnya:

1. Rapat partuo atau penunjukan
Rapat dihadiri oleh kepala desa, tokoh pemuda, panitia jalur sebelum jalur dibuat.

2. Mencari kayu jalur
Setelah partuo dibentuk, maka dicari kayu untuk membuat jalur. Jenisnya dicari dari yang tahan air dan tak mudah pecah bila dibentuk jalur, biasanya dari jenis kure atau kayu benio. Dukun jalur dilibatkan dalam proses ini karena dianggap mengetahui mambang-mambang (makhluk gaib) yang mendiami kayu.

3. Menobang (menebang)
Apabila kayu sudah diperoleh, diadakan upacara menobang yang dipimpin dukun jalur. Upacara dimaksudkan untuk menghindari hal-hal tak diinginkan bagi tukang kayu dan orang-orang yang menyaksikan penebangan kayu.

4. Pembuatan jalur
Pada prinsipnya pembuatan jalur sama dengan membuat perahu biasa. Panjang jalur atau sampan berkisar 20 sampai 30 meter, lebar 1 sampai 1,5 meter, muatan jalur dibuat memuat 40 sampai 60 orang yang disebut dengan anak pacu.

5. Maelo (menarik)
Menarik jalur dilakukan dengan aba-aba dengan tali pengikat rotan yang kuat dan panjang. Tali diikat pada telinga jalur bagian depan-belakang untuk ditarik orang banyak agar jalur bisa lurus.

6. Melayur perahu jalur (mengasapi)
Proses pembakaran atau pengasapan jalur. Proses ini dimulai dari menaikan jalur ke atas rampaian (tempat pengasapan) setinggi 1,20 meter.

7. Menghiasi dan memberi nama Pada tahap ini jalur dilengkapi dengan hiasan, terutama pada bagian selembayung jalur. Selain sebagai tempat berpegang tukang onjai (menggoyang jalur), selembayung merupakan suatu kesatuan bentuk sebuah jalur yang tidak dapat dipisahkan. Setelah dihiasi bagian terakhir adalah pemberian nama pada jalur yang mengidentifikasikan suatu kampung.

Siapa Saja yang Harus Ada di Jalur untuk Berkompetisi?

Setelah jalur jadi dan siap dilombakan dalam pacu jalur, siapa saja sih yang harus ada dengan perannya masing-masing? Semua yang termuat dalam jalur disebut 'pangayuah' yang berfungsi untuk mendayung jalur yang terdiri dari:
1. Tukang tari
2. Tukang concang/onjai
3. Tukang kayuah/anak pacu
4. Tukang kemudi

Nah aksi yang sedang viral dan gerakan-gerakannya diikuti dalam berbagai versi adalah aksi tukang tari. Pendayung berpacu, sedangkan penari asik menari saat jalur melaju membelah Sungai Kuantan menuju garis finish.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Roni Rakhmat menyebut ada tiga anak menari di jalur sepanjang 25-40 meter tersebut. Tiga penarik cilik itu pun memiliki peran masing-masing.

”Tiga anak ini disebut penari atau joki, timbo ruang dan tukang onjai. Ini elemen yang ada dalam pacu jalur di luar anak pacu," kata Roni pada Rabu (2/7/2025), dilansir detikSumut, Kamis (3/7/2025).

Penari cilik dilibatkan karena lebih ringan. Apalagi posisinya berada di ujung jalur dengan pendayung 40-60 orang atlet dari aliran Sungai Kuantan.

3 Tahun Jatuh Bangun Latihan Menari Kini Gerakannya Jadi Tren Aura Farming

Popularitas yang dituai Rayyan Arkan Dhika saat ini tak lepas dari aksi menanam. Pertama, tentulah menari tak semudah itu. Siapa pun yang berlatih untuk pertama kali, pasti ada proses jatuh bangunnya. Itu pula yang dilakukan bocah ini selama 3 tahun.

”Pertama dulu takut, beberapa kali jatuh. Tapi sekarang sudah enggak takut jatuh karena sudah terbiasa. Kan bisa renang," ujar anak kedua dari Rani Ridawati dan Jufriono ini.

Selama latihan, bocah yang akrab disapa Dikha ini Dikha mengaku, memang disiapkan khusus buat menari di bagian depan jalur. Peran ini berbeda sama tukang onjai yang posisinya di belakang dan biasanya usianya lebih dewasa.

Kini, setelah aksinya viral hingga jadi tren aura farming, Dikha pun mulai banjir undangan untuk diberi penghargan. Di antaranya dinobatkan Gubernur Abdul Wahid sebagai Duta Pariwisata dan diundang khusus oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Selamat buat Dikha!***

*Penulis mahasiswa Ilmu Komunikasi
Universitas Hang Tuah Pekanbaru, Riau

Kategori : Wisata
wwwwww
www.amsi.or.id