Home > Berita > Riau

Pesan Rektor Umri kepada Peserta KKN 2018: Kembangkan Muhammadiyah

Sabtu, 05 Mei 2018 22:19 WIB
Muhamad Maulana
pesan-rektor-umri-kepada-peserta-kkn-2018-kembangkan-muhammadiyahRektor Umri Dr Mubarak Msi memberi kata sambutan sesaat sebelum membuka acara pembekalan untuk mahasiswa calon peserta Kuliah Kerja Nyata 2018, Sabtu (5/5/2018).
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Rektor Universitas Muhammadiyah Riau (Umri), DR Mubarak MSi buka acara pembekalan untuk mahasiswa yang akan menjalani kuliah kerja nyata (KKN) tahun 2018, Sabtu (5/5/2018). Tercatat, ada 830 mahasiswa yang akan terjun mengabdi ke masyarakat lewat program ini.
Dalam sambutannya, rektor menegaskan, seluruh mahasiswa yang akan menjalani KKN wajib mengikuti pembekalan sebelum terjun ke masyarakat. Menurut dia, pembekalan perlu dilakukan untuk memastikan para mahasiswa menjalani KKN dengan baik.

Rektor menyebut, ada beberapa hal yang perlu ditanamkan mahasiswa ketika berada di tengah-tengah masyarakat. Pertama yaitu harus paham bahwa di beberapa masyarakat, mahasiswa kerap dianggap sebagai kelompok yang memiliki adab baik karena mengenyam pendidikan tinggi.

”Bagaimana adab itu ditunjukkan. Sederhananya bisa dengan menghargai orang lain yang berbicara. Kalau ada yang sedang bicara, jangan sibuk memainkan HP. Tapi perhatikanlah apa yang dibicarakan,” ungkapnya.

Kemudian, perlu juga memahami orang lain. ”Hindari sikap meminta orang lain memahami diri kita. Kalau minta orang memahami diri kita, orang lain kan tidak tahu kita ini siapa. Karena itu, mahasiswa itu sendirilah yang mestinya memahami orang lain,” ujar Mubarak.

Rektor juga berpesan kepada mahasiswa yang KKN agar proaktif mengembangan Muhammadiyah di lokasinya masing-masing. Mulai dari kegiatan di tingkat ranting. Kalau tidak paham dengan Muhammadiyah, ia menyarankan agar peserta KKN membaca materi terkait pengembangan al Islam dan Kemuhammadiyahan.

”Baca buku panduan bagaimana mendirikan ranting, cabang, Pemuda Muhammadiyah, Tapak Suci dan sebagainya agar persyarikatan Muhammadiyah menjadi besar,” ungkap rektor.

Dia menegaskan, sangat penting mengembangkan Muhammadiyah sebagai organisasi yang mendorong tiap anggotanya memiliki akhlak yang mulia dan menerapkan Islam sebagaimana yang diajarkan.

Rektor mencontohkan, mahasiswa KKN jangan hanya membuat program pengadaan plang nama jalan dan sebagainya. Karena rektor yakin, saat ini nama jalan sebenarnya sudah ada di mana-mana.

Namun, yang perlu dilakukan peserta KKN adalah bagaimana menerapkan ilmu yang didapat di bangku kuliah ke tengah masyarakat. Misalnya, jika di suatu daerah bermasalah dengan ketersediaan arus listrik, si mahasiswa dapat menjadi mediator untuk mencari solusinya agar masyarakat tak tergantung dengan PLN.

Hal itu bisa diwujudkan lewat terjalinnya kerja sama dengan perusahaan yang memiliki surplus daya listrik. ”Kalau memang butuh tiang untuk mengalirkan, mahasiswa dapat memediasi ke pemerintah agar mau menyediakan perangkat yand diperlukan,” ujar rektor.

Demikian pula jika di lapangan menemukan masalah sulitnya mengakses air bersih. Si mahasiswa harus mampu menganalisa apa yang menjadi penyebabnya. Kemudian, bisa menjalin komunikasi dengan jurusan MIPA atau teknik untuk merancang alat tertentu demi membantu masyarakat.

”Dengan kata lain, keberadaan mahasiswa KKN mesti menyelesaikan masalah. Bukan sebaliknya malah menambah masalah,” ungkap Mubarak yang disambut tawa calon peserta KKN.

Terakhir, ia menekankan pentingnya peserta KKN menjaga kekompakan dengan mahasiswa lainnya. Hal itu, tambahnya, bakal dipelajari selama mereka menjalani bimbingan ini.

Sementara itu, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Umri, M Ridha Fauzi menjelaskan, ada tiga sampai empat kali pembekalan yang dilakukan. Semua itu dilakukan agar mahasiswa mampu menelurkan program yang memang bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Selama menyusun program, mahasiswa akan didampingi oleh dosen pendamping. Mereka akan menggodok mana program yang bakal bermanfaat. Bahkan, program itu didorong berbasis keilmuan mereka.

Program yang sudah bagus bakal diterapkan. Misalnya, mahasiswa akuntasi, bisa berperan mendidik pemilik warung-warung yang ada di desa agar mampu mengatur keuangannya dengan cara yang sederhana.

Ridha menekankan, program yang sudah dibuat peserta ini akan diperlombalan. ”Akan dilihat bagaimana bentuk kegiatan dan hasilnya. Akan ada tim untuk memonitoring kondisi di lapangan. Kemudian, tiap kelompok bakal mempresentasikan program mereka. Jika menarik, maka kelompok itulah yang menjadi pemenangnya,” ujarnya. ***

Kategori : Riau, Umum
wwwwww