PotretNews.com Selasa 28 Maret 2017
Home >  Berita >  Riau

Mengenal Lebih Dekat Fahmizal Usman, Kepala Dinas Pariwisata Riau yang Punya Cerita Sedih Penuh Air Mata karena Kehilangan Satu Mata Sejak Usia 9 Tahun

Mengenal Lebih Dekat Fahmizal Usman, Kepala Dinas Pariwisata Riau yang Punya Cerita Sedih Penuh Air Mata karena Kehilangan Satu Mata Sejak Usia 9 Tahun

Kepala Dinas Pariwisata Riau Fahmizal Usman.

Kamis, 05 Januari 2017 12:23 WIB
LAHIR di Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 20 Oktober 1971, sosok Fahmizal Usman kecil, awalnya tumbuh normal seperti anak-anak kebanyakan. Dari kecil menikmati kehidupan dengan penuh kasih sayang dari kedua orangtua. Namun keceriaanya buyar ketika suatu ketika ia mengalami peristiwa dahsyat yang hingga saat ini masih tak bisa dilupakan.Anak kecil yang saat itu mengalami kecelakaan hebat pada usia 9 tahun atau usia sekolah dasar. Dalam sebuah perbincangan sebagaimana dikutip potretnews.com dari GoRiau.com, dia pun menceritakan kejadian yang membuat dirinya trauma dan selalu meneteskan air mata.

"Kejadian masa kecil itu, tidak bisa saya lupakan. Kecelakaan itu menyebabkan mata saya cacat," ujar anak kedua mantan Bupati Indragiri Hilir yang juga mantan wali kota pertama Batam, Usman Draman, Selasa (3/1/2017).

Meskipun hanya mata sebelah kiri, namun saat itu kata dia, iapun terganggu penglihatanya (buta, red). ''Saya tak bisa melihat sejak SD atau usia 9 tahun. Saat itu di kampung sedang musim durian, hobi kami sebagai anak kampung saat bermain taji. Karena dulu belum ada gadget seperti sekarang,'' tukasnya.

Ads
''Taji itu sendiri adalah mainan seperti pisau kecil yang terbuat dari paku dan ditancapkan biji durian, untuk memotong biji durian yang lainnya. Karena di Tanjung Pinang tidak ada kereta api seperti di Jawa untuk memipihkan paku, saat itu Fahmizal Usman kecil membuatnya dengan cara membakar.

"Ya awalnya saya bakar kemudian saya ketok jepitan arang. Waktu itu memang saya yang bandel, karena sepupu saya sudah melarang, tapi saya ngeyel. Jadi kejadianya, begitu saya pukul paku itu ternyata lepas dan menancap di mata,'' cerita Fahmi sambil sesekali mengusap matanya yang terlihat keluar air matanya.

Setelah kejadian tersebut, Fahmi pun mengalami proses operasi berkali-kali. ''Saat itu dr Mulyadi yang pertama kali menangani dan mengobati saya, namun kemudian saya harus dirujuk dan dibawa ke Singapura. Kecelakaan ini cukup berat, karena mata saya tidak tertolong lagi. Dan menurut dokter di Singapura, saya tidak bisa langsung menjalani operasi total karena harus menunggu usia 20 tahun,'' imbuhnya lagi.

Namun begitu Fahmizal tetap menyelesaikan sekolahnya di kampung dan menamatkannya di sekolah menengah pertama di SMP Negeri 2 Tanjung Pinang. Dengan kondisi cacat Fahmizal remaja berhasil tamat di sekolah yang saat itu difavoritkan banyak orang, dimana kebanyakan adalah keturunan China.

Menginjak remaja dan masuk SMA, Fahmizal Usman akhirnya harus meninggalkan kedua orangtua, karena harus ikut kakaknya yang kuliah di Bandung. Tepatnya di Jalan Lengkong, ia pun masuk SMA 7 Bandung dengan jurusan fisika. Pada tahun 1991 iapun berhasil menyelesaikan sekolah dan masuk bangku kuliah di Unpas Bandung.

Di saat kuliah, yang saat itu usianya sudah sampai 20 tahun matanya pun kembali kambuh dan ia merasakan sakit yang teramat dahsyat. Waktu itu orangtuanya yang kebetulan menjabat sebagai Bupati Indragiri Hilir, dan berdomisili di Tembilahan dan menyarankan agar dirinya cek up di Cicendo Bandung. Namun karena tak puas dengan pelayanan, iapun langsung mengambil inisiatif sendiri berobat ke Singapura.

Sampai di Singapura, ternyata dokter yang pernah memeriksanya saat SD, sudah meninggal dunia. ''Dan akhirnya setelah diperiksa, mata saya ternyata sudah mengalami kebutaan total. Karena menurut dokter sarafnya sudah hangus terbakar. Yang beratnya satu lagi, karena mulai tumbuh tumor dan harus dioperasi,'' paparnya.

Pengangkatan tumor itu, proses operasinya cukup lama hingga sampai tiga hari. Jadi sejak saat itu saya resmi tidak punya mata sebalah kiri. ''Dari umur 9 tahun saya merasa sebagai penyandang disabilitas, dan tahun 1993 saya resmi memakai mata palsu. Efeknya saat ini saya masih trauma yang mendalam, apalagi kalau mendengar ketok paku,'' paparnya lagi.

Dengan kondisi fisik yang cacat meski saat kuliah, Fahmizal termasuk mahasiswa mapala (mahasiswa paling lama). Karena baru lulus tahun 1998. Ia pun akhirnya lulus dan kembali pulang ke Riau tepatnya di Pekanbaru dan coba-coba menjadi pebisnis pakang-pakangan mobis,'' ceritanya.

Bekerja serabutan dan menjadi pakang mobil, Ia pun memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya 19 Juli 1998 dengan gadis pujaannya yang sudah menjadi PNS.

''Saat itu saya belum PNS, Istri saya justru tahun 1997 sudah jadi PNS. Nah setelah menikah saat itu ada penerimaan pegawai, saya coba ikut tes, dan kemudian setelah tes dan berbagai tahapan akhirnya saya diterima. Dan alhamdulillah dari 19 orang saya berdua dengaan teman saya lulus dan resmi menerima SK pertama kali di Bappeda tingkat satu. Pada tahun 1999 promosi menjadi staf yang saat itu Kepala Bapedanya pak Anwar Rachman,'' kenangnya.

Karier di pegawai negeri ia mulai. Pertama kali menjadi PRK, yang bertugas dan bertanggungjawab menyusunan kegiatan-kegiatan di dinasnya. Setelah sekian tahun iapun dipindah ke bidang ekonomi, industri perdagangan dan pertambangan.

''Nah pada tahun 2000, ada kursus jangka panjang untuk menjadi perencana, namanya PPN (Perencanaan Pembangunan Nasional). Kursus ini dibiayai oleh World Bank melalui OTO Bappenas. Alhamdulillah saya lulus tes dan mengikuti pendidikan selama 6 bulan di UI Salemba Jakarta. Cukup stress juga karena kursus ini memakai ujian dan ada IPK-nya. Ujianya sendiri sampai 4 kali. Kalau IPK dibawah 2,75, maka kita akan dikembalikan secara resmi ke daerah, namun akhirnya saya bisa lulus, setalah kursus ini selesai, selanjutnya saya mengikuti seleksi S2 di UI dan Alhamdulillah lulus dan melanjutkan pendidikan S2 dari 2001-2003 di UI Depok,'' ceritanya lagi.

Setelah itu ia pun pulang ke Pekanbaru. Tidak beberapa lama mendapat undangan pelantikan di Gedung Dang Merdu, sebagai Kasubag Perencanaan Internal sampai sekitar 4 tahun lebih. Kemudian mutasi awal tahun 2008 dirinya dilantik sebagai Kasubag Humas di Pemprov Riau selama 9 bulan dan berlanjut menjadi Kasubag Pejabat Negara dan Legislatif di Biro Tata Pemerintahan.

"Nah yang paling saya tidak bisa lupa, dimana waktu itu saya sempat panik, mau menjalankan ibadah umrah tiba-tiba saya langsung dipromosikan naik eselon 3 jadi Kabag Rumah Tangga. Tapi alhamdulillah semua terlaksana dan diberi kemudahan. Kemudian saya pindah ke Sekretariat Badan Kepegawaian 1,5 tahun dan saya kembali mendapat promosi sebagai Kepala Biro Humas Setdaprov Riau,'' ujarnya.

Karier Fahmizal sebagai pejabat daerah, belum terhenti, pada tahun 2014, tepatnya pada bulan April dia dipindah menjadi Dirut Keuangan Rumah Sakit Umum. ''Nah ini dia, saya sebenarnya bingung karena bukan bidangnya. Saya setahun saja di RS umum,'' paparnya lagi.

Setelah itu iapun ikut assessment dan mendaftar ke Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Dan pada tanggal 24 april 2015, iapun secara resmi bekerja dan menjadi Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang saat ini sudah berganti nama Dinas Pariwisata.

"Alhamdulillah sejak 2015 sampai saat ini saya dipercaya mengemban tugas untuk mempromosikan pariwisata Riau. Apalagi Dinas ini sudah menjadi tipe A, yang membawahi 4 bidang yakni pariwisata, pemasaran, ekonomi dan pengembangan SDM," tukasnya.

Meskipun sudah menjadi pejabat, iapun tetap tidak melupakan kebiasaan sejak kecil, yakni bermain sepeda. ''Kalau sepeda masih sampai sekarang. Kalau tak malu karena sudah tua mungkin saya juga mau main meriam bambu seperti kecil saya di kampung,'' paparnya.

Selain cacat mata, ternyata Fahmizal juga mengalami kejadian dahsyat yang membuatnya juga trauma. Dimana pada tahun 1995, ia mengalami kecelakan dahsyat dimana mobilnya beradu kambing dengan bus di Jambi.

''Allah masih memberikan saya hidup, saat itu mobil saya adu kambing dengan bus, saya sadar setelah ada azan salat Jumat. Jika lihat kejadiannya, orang menyangka saya sudah tak bernyawa. Jadi masih sangat membekas kejadian itu yakni di Simpang Tempino, 25 km sebelum Kota Jambi. Ini menyadarkan saya, bahwa sudah saatnya mengabdikan hidup untuk keluarga, masyarakat dengan kekuatan dan semampu saya," ujarnya.

Ia pun kini memilih fokus mempromosikan pariwisata Riau dan berusaha membangkitkan seluruh destinasi yang ada baik didalam negeri maupun ke luar negeri. Kini Fahmizal juga sudah dikaruniai 3 orang anak, satu laki-laki dan dua kembar perempuan.

Fahmizal Usman yang merupakan anak dari pasangan Raja Usman Draman dan Hj Raja Syahniar Yusuf ini mengaku akan mengabdikan dirinya sampai pensiun nanti. ''Saya cuma punya loyalitas mengabdi. Dan saya menjaga integritas, makanya saya belum berniat bisnis atau yang lain, karena sampai hari ini masih menjaga rumah orang tua dan belum punya rumah sendiri,'' ujarnya. ***

Editor:
Fanny R Sanusi

Sumber:
GoRiau.com

loading...
www www