PotretNews.com Minggu 19 Agustus 2018

Memburu Sisa Sejarah di Bukit Rimbang Bukit Baling; Kisah Romusha Bangun Rel Kereta Api Pekanbaru-Sijunjung

Memburu Sisa Sejarah di Bukit Rimbang Bukit Baling; Kisah Romusha Bangun Rel Kereta Api Pekanbaru-Sijunjung

Monumen Kereta Api dan Tugu Pahlawan Kerja di Jalan Kaharuddin Nasution Pekanbaru.

Rabu, 09 Maret 2016 22:35 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Lokomotif tua itu terpajang di atas beton, tidak ada gerbong, rel sepanjang 6 meter pun cukup jadi tempat bertengger, bagian roda tampak ditumbuhi lumut.Di sekeliling lokomotif berwarna hitam itu banyak kuburan tua, dari tulisan yang tersurat di batu cadas, menjelaskan kuburan itu adalah makam para romusha zaman penjajahan Jepang, yang disebut Pahlawan Kerja.

Monumen Lokomotif dan Tugu Pahlawan Kerja ini terletak di Jalan Kaharuddin Nasution, Kecamatan Marpoyan Pekanbaru. Namun keberadaan monumen tersebut terkesan hanya sebagai pajangan saja.

Tidak banyak yang tahu, monumen lokomotif ini menyimpan sejarah, diresmikan tanggal 17 Agustus 1958, sebagai bukti sejarah bahwa kereta api pernah ada di Bumi Lancang Kuning. Konon, ribuan romusha harus meregang nyawa, bekerja dibawah siksaan pasukan Jepang membangun rel kereta api sepanjang 220 km, dari Pekanbaru hingga Muaro Sijunjung.

Ads
Banyak masyarakat Riau tidak tahu sejarah dan asal usulnya."Saya tidak tahu lokomotif itu punya sejarah, saya pikir cuma pajangan," ujar Agus, Warga Jalan Arengka Pekanbaru, Riau, beberapa waktu silam.

Bersama rombongan World Wide Fund (WWF) Riau, Tempo menelusuri sisa-sisa sejarah yang hilang itu. Selain di Pekanbaru, ternyata masih ada satu lokomotif lagi yang tersisa di Desa Lipat Kain, Kampar Kiri, Kabupaten Kampar. Jaraknya 80 kilometer dari Pekanbaru.

Lokomotif di Lipat Kain kondisinya lebih memprihatinkan, letaknya di tengah perkebunan karet milik warga, tepat ditepian sungai subayang. Bentuknya tidak lagi utuh, karatan dan berlumut, banyak bagian yang hilang.

Menurut warga setempat Ahud, 56 tahun. Lokomotif tersebut merupakan peninggalan Jepang, dulunya masih ada gerbong dan rel, namun sejak tahun 1980, lokomotif perlahan lenyap dipreteli masyarakat. "Besinya dijual kiloan oleh masyarakat," ujarnya.

Warga Desa Petai, Badhuramin, 75 tahun, menceritakan sejarah singkat kereta api di Riau. Sebelumnya penjajah Belanda sudah merencanakan pembangunan jaringan rel kereta api dari Pekanbaru ke Muaro Sijunjung, namun hambatan yang dihadapi cukup berat. Alasan kondisi alam yang berbukit, dibelah banyak anak sungai, hutan yang dihuni harimau, diperkirakan harus membangun banyak jembatan dan terowongan, namun akhirnya rencana itu batal.

Sekitar 1942, Jepang berhasil menguasai Indonesia, Jepang mengetahui rencana Belanda tersebut. Jalur ini dimanfaatkan sebagai sarana transportasi yang menghubungkan Sumatra Barat dan Pantai Timur Sumatra, untuk menghindari Padang dan Samudra Hindia yang telah dikuasai kapal sekutu. Tujuan lain, kereta api ini dimanfaatkan sebagai angkutan batu bara dari Logas Tangko ke Muaro Sijunjung.

Tahun 1943, Jepang mengerahkan ribuan romusha membangun rel kereta api sepanjang 220 km, ribuan orang dibawa dari Jawa, bahkan tawanan perang juga diperlakukan sama oleh Jepang. "Masyarakat tempatan juga ada dijadikan romusha," ujar Badhuramin.

Pengerjaan rel kereta api dimulai dari Pekanbaru, Sungai Pagar, Lipat Kain, Petei, Logas Tangko, Muara Lembu hingga Muaro Sijunjung.

Pada 1945, pengerjaan rel kereta api selesai, namun Jepang akhirnya menyerah kepada sekutu. Sejak itu rel kereta api tidak pernah lagi digunakan, rel ditinggalkan begitu saja, para romusha dan tawanan perang yang berkorban nyawa membangun rel ini mati sia-sia.

Muhammad Yulis, 85 tahun, masih mengingat betul hiruk pikuk aktivitas kereta api Jepang kala itu, Yulis mengaku saat itu masih berumur 7 tahun. "Kereta api selalu saya lihat setiap hari melintas," ujarnya.

Badurhamin mengaku rel kereta api mulai dibongkar pada 1975, saat itu seorang Kepala Desa Pencong bernama Arifin mengaku diperintahkan oleh Pemerintah Provinsi Riau. Arifin lalu mengerahkan masyarakat desa membongkar rel tersebut dengan upah Rp 300 permeter. "Saya ikut bekerja membongkar rel itu," kata Badhurami.

Rel yang sudah dibongkar tersebut kemudian dibawa ke Pekanbaru. Sejak saat itu mulailah masyarakat mempreteli rel kereta api untuk dijual kiloan. "Pemerintah waktu itu tidak ada yang melarang," ujar Muhammad Yulis.

Pada tahun 2000, masih terdapat 7 lokomotif lagi di Desa Pencong, desa ini merupakan desa mati yang sudah lama ditinggal penduduk, jaraknya 18 kilometer dari Jalan Lintas Taluk Kuantan, berada tepat di perbatasan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling. Namun perlahan lokomotif tersebut juga punah dipreteli masyatakat, lalu besinya dijual kiloan.

"Semuanya habis dipotong-potong lalu dijual," kata Muhammad Yulis.

Tempo beserta Rombongan WWF menelusuri hutan Suaka Margasatwa Bukit Rimbang Bukit Baling, melewati jalan terjal berbatu melintasi perbukitan, menembus anak sungai menyisir pinggiran hutan. Disebut-sebut rel kereta api membentang di hutan ini, pasalnya hutan Bukit Rimbang Bukit Baling berbatasan dengan lokasi pertambangan batu bara Logas Tangko peninggalan Jepang.

Pencarian jejak rel kereta api membuahkan hasil, dengan ditemukannya sepotong besi rel kereta api ukuran dua meter muncul ke permukaan tanah, namun bagian yang tertanam belum dapat dideteksi berapa panjangnya. "Ini sisa-sisa sejarah yang harus kita lindungi," ujar aktivis WWF Sunarto.

Sunarto menyebutkan, sebelumnya WWF juga menemukan rel kereta api sepanjang dua meter di hutan Bukit Rimbang Bukit Baling, namun besi itu akhirnya hilang juga karena tidak dipantau.

WWF Riau sangat menyayangkan hilangnya sejarah pahlawan kerja, Menurut Sunarto, peninggalan sejarah penting untuk dilestarikan, apalagi ribuan romusha harus rela menjadi korban kerja paksa Jepang membangun rel kereta api, namun akhirnya perjuangan mereka sia-sia. Sunarto menyebutkan, sejarah rel kereta api Sumatra ini juga diabadikan di Staffordshire Inggris, dibuat dalam bentuk monumen yang disebut Sumatra Railway di Taman National Memorial Arboretum Inggris.

"Ini ironis sekali, di saat bangsa kita tidak menghargai sejarah, negara lain justru mengabadikan sejarah kita," ujarnya. ***

Editor:
M Yamin Indra

Sumber:
Tempo.co

Kategori : Potret Riau
Tour de Siak 2018
wwwwww