PotretNews.com Kamis 15 November 2018

Inilah Empat Versi Asal Mula Nama Kuantan

Inilah Empat Versi Asal Mula Nama Kuantan

Sungai Kuantan tempo dulu. (foto: twitter @Debi Saputra ?@thebie1977 )

Senin, 23 November 2015 09:23 WIB
KUANSING, POTRETNEWS.com - Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) adalah salah satu kabupaten di Povinsi Riau, Indonesia. Disebut pula dengan Rantau Kuantan atau sebagai daerah perantauan orang-orang Minangkabau (Rantau nan Tigo Jurai).Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Kuansing menggunakan adat istiadat serta bahasa Minangkabau. Kuantan Singingi pada awalnya merupakan bagian dari Kabupaten Indragiri Hulu. Namun setelah dikeluarkannya Undang-undang Nomor 53 tahun 1999, Kabupaten Indragiri Hulu dimekarkan menjadi 2 (dua) kabupaten yaitu Kabupaten Indragiri Hulu dan Kabupaten Kuantan Singingi dengan Ibu Kota Telukkuantan.

Dulu daerah (Kuantan) ini terdiri dari 4 empat kecamatan, yaitu Kecamatan Kuantan Mudik, Kuantan Tengah, Kuantan Hilir dan Kecamatan Cerenti (sekarang setelah menjadi kabupaten dimekarkan menjadi 13 Kecamatan). Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ruswan et.al, ada empat kemungkinan tentang penamaan ”Kuantan” ini.

- Pertama, sejarah Asal Mula Kuantan berasal dari kata ”Aku + Antan”. Aku berarti pancang batas daerah ini dengan alu (antan).

Ads
-Kedua, asal mula nama Kuantan bermula dari ”Kuak + Tuk Atan”. Kuak berarti rintisan, Tuk Atan adalah nama orang. Jadi Kuantan berarti daerah rintisan yang dilakukan oleh Tuk Atan.

-Ketiga, sejarah nama itu berawal dari ”Akuan + Sultan” yang lama-lama menjadi Kuantan.

-Keempat, asal Mulanya ialah, Kuantan berasal dari Bahasa Parsi yang berarti ”Banyak Air-air”.

Dari keempat kemungkinan itulah yang sampai saat ini diyakini sebagai asal mula nama "Kuantan". Orang Kuantan menggunakan ”bahasa Melayu dialek Kuantan” sebagai bahasa perhubungan. Mereka sangat fanatik dalam mempergunakan bahasa daerahnya.

Orang Kuantan yang berada di luar daerahnya jika bertemu dengan sesama, akan mempergunakan bahasa Melayu dialek Kuantan itu, yang masih erat hubungannya dengan Bahasa-bahasa Melayu di wilayah Provinsi Riau lainnya.

Agama yang dianut orang Kuantan adalah Islam. Mereka sangat mementingkan pendidikan yang tidak ketinggalan jika dibandingkan orang-orang Riau lainnya. Sebagian besar orang Kuantan bermata pencaharian petani (padi), peternak (sapi/kerbau), nelayan, buruh, pedagang, PNS dan lainnya.

Tradisi budaya dan sastra banyak dijumpai di Rantau Kuantan. Pacu Jalur merupakan tradisi yang sangat disukai orang-orang Rantau Kuantan. Olahraga Tradisional Pacu Sampan panjang ini merupakan tradisi yang sudah lama dijumpai di Rantau Kuantan.

Selain itu Rantau Kuantan juga kaya akan tradisi sastra. Misalnya kayat, koba (kaba atau nyanyian panjang), pantun seratus, rarak dan randai. Melalui randai banyak cerita yang disampaikan.

Pantun seratus merupakan pantun yang diciptakan secara spontanitas, yang lahir begitu saja sesuai situasi dan tuntutan pada saat berpantun. Demikian juga dengan kabiasaan bercerita, telah disampaikan secara turun temurun.

Pacu Jalur merupakan festival tahunan terbesar untuk masyarakat daerah Kabupaten Kuantan Singingi khususnya pada ibu kota kabupatennya yaitu Telukkuantan yang berada di sepanjang Sungai Kuantan.

Pada awalnya di maksudkan sebagai acara memperingati hari-hari besar umat Islam seperti Maulid Nabi, ataupun peringatan Tahun Baru Hijriah. Namun setelah kemerdekaan Indonesia, festival pacu jalur ini ditujukan untuk merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia Indonesia.

Pacu Jalur adalah perlombaan mendayung perahu panjang, semacam Lomba Perahu Naga di negeri tetangga Malaysia dan Singapura, yaitu sebuah perahu atau sampan yang terbuat dari kayu pohon yang panjangnya bisa mencapai 25 hingga 40 meter.

Di daerah Telukkuantan sebutan untuk perahu panjang tersebut adalah Jalur. Adapun tim pendayung perahu (jalur) ini berkisar antara 50 - 60 orang.

Sebelum acara puncak "Pacu Jalur' ini dimulai, biasanya di adakan acara-acara hiburan rakyat berupa tarian dan nyanyian untuk menghibur seluruh peserta dan masyarakat sekitar, terutama yang berada di Telukkuantan.

Pada acara Festival Pacu Jalur tahun 2009 yang lalu, mulai di perkenalkan oleh pemerintah daerah setempat istilah "Jalur" Expo 2009, yaitu sebuah acara pekan raya berkaitan dengan Festival Pacu Jalur tersebut.

Tradisi pacu jalur yang diadakan sekali setahun pada peringatan perayaan hari kemerdekaan Indonesia menjadikan Kota Telukkuantan sebagai tujuan wisata nasional. Perlombaan perahu panjang yang berisi lebih kurang 60 orang di Sungai Kuantan ini biasanya diikuti masyarakat setempat, kabupaten tetangga, bahkan juga ikut pula peserta-peserta dari negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand.

Beberapa kawasan wisata lainnya seperti Tambang Emas di Logas, Arung Jeram di Sungai Singingi dan Pangkalan Indarung, Hutan Lindung Bukit Bungkuk dan Bukit Baling di Singingi, Gua Bunian di Bukit Kanua, kawasan hiking dan tracking di Bukit Batabuah. Rumah Tradisional Tua Koto Rajo, Kompleks Candi Sangan. ***

(Akham Sophian)
Kategori : Potret Riau
wwwwww