PotretNews.com Kamis 15 November 2018

Panjang Makamnya 10 Meter, Benarkah Datuk Dubalang Sakti Nenek Moyang Suku Talang Mamak?

Panjang Makamnya 10 Meter, Benarkah Datuk Dubalang Sakti Nenek Moyang Suku Talang Mamak?

Makam Datuk Dubalang Sakti, di pinggir sungai Desa Pasir Kelampaian Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau.

Minggu, 22 November 2015 01:49 WIB
INHU, POTRETNEWS.com - Datuk Dubalang Sakti, disebut-sebut sebagai Kepala Suku Talang Mamak yang hidup sekitar abad ke-15 hingga 16. Sesuai namanya, Dubalang yang hidup di tengah hutan pinggiran sungai itu dikenal memiliki kesaktian tinggi di masanya.Di akhir hayatnya, Datuk Dubalang Sakti dimakamkan di pinggir sungai Desa Pasir Kelampaian Kecamatan Pasir Penyu, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau.

"Datuk Dubalang Sakti memang bukan keturunan raja. Namun, beliau dikenal sebagai Kepala Suku Talang Mamak yang sangat sakti, hingga makamnya dibuat panjang sebagai penghargaan atas kesaktiannya selama hidup," ujar Saharan Staf Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batu Sangkar Wilayah Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau, beberapa waktu lalu, seperti dikutip potretnews.com dari merdeka.com.

Menurut Saharan, pada zaman kerajaan dulu, orang yang memiliki kesaktian diberi gelar datuk sebagai rasa hormat. Namun demikian, datuk itu tidak pernah menunjukkan ataupun pamer kesaktian.

Ads
"Datuk biasanya hidup menyendiri, di tepi sungai jauh dari keramaian. Akses jalan saat itu selain jalan kaki dari hutan, juga dengan rakit yang mereka buat melalui jalur sungai," terang Saharan.

Datuk Dubalang Sakti memang tidak terlalu muncul ke permukaan atau bekerja dengan raja. Dia hanya hidup menyendiri seperti melakukan aktivitas yang kurang diperhatikan oleh masyarakatnya saat itu.

"Kalau tidak salah, Datuk Dubalang Sakti hidup sejak abad 15 hingga abad 16, setelah masa Kerajaan Indragiri di bawah kekuasaan Raja Narasinga II," jelas Saharan.

Kini, makam Datuk Dubalang Sakti ditumbuhi semak belukar yang tidak begitu rumpun. Namun, makam yang dianggap keramat tersebut kerap disinggahi oleh pemuda setempat jika hendak merantau dari kampungnya ke luar daerah.

"Makamnya memang panjang sekitar 10 meter, dan itu bukan karena tubuhnya sepanjang itu. Melainkan karena rasa hormat dan penghargaan atas kesaktiannya oleh penduduk terhadapnya, makanya makamnya dibuat panjang," ujar Saharan. ***

(Akham Sophian)
Kategori : Potret Riau
Sumber:Merdeka.com
wwwwww