PotretNews.com Minggu 22 Juli 2018

Sekelumit Kisah tentang Minas, Chevron dan Sumur Minyak Pertama di Riau

Sekelumit Kisah tentang Minas, Chevron dan Sumur Minyak Pertama di Riau

Sumur Minas 01. Sumur yang terletak di tepi jalan lintas Pekanbaru Medan ini adalah sumur yang pertama kali dibor oleh Chevron. Hasil minyak ini dibawa ke Perawang untuk di ekspor, sebelum Pelabuhan Dumai berdiri. (foto:renputra.blogspot.com)

Redaksi
Rabu, 18 November 2015 03:13 WIB
SIAK, POTRETNEWS.com - Sebelum melakukan pengeboran di Riau, Chevron Pasific Indonesia yang pada saat itu merupakan perusahaan gabungan dari Standard Oil Company of California (Socal) dan Texas Oil Company (Texaco) membentuk sebuah perusahaan patungan di daerah Sumatera yang bernama NV Nederlandsche Pasific Petroleum Maatschappij (NPPM) pada tahun 1924.Saat itu, Standard Oil Company of California (Socal) melakukan penelitian di Sumatera Tengah dengan mengirimkan ahli geologinya, Richard N Nelson. Pada tahun 1938, seorang ahli geologi Amerika bernama Walter E Nygren ditugaskan mempelajari daerah di sekitar Minas.

Enam buah jalan rintis yang sejajar, masing-masing terpisah enam kilometer, dibuat dengan menembus hutan belantara lebat Riau, jalan eksplorasi ini memanjang dari timur laut ke barat daya. Di setiap dua ratus meter digali lubang sedalam enam meter untuk mendapatkan contoh-contoh dari dasarnya.

Tiga ribu buah lubang semacam itu dibuat oleh Nygren dengan menggunakan gurdi yang diputar dengan tangan. Nama Minas, mengambil nama sebuah perkampungan masyarakat adat Sakai yang berdekatan dengan daerah survei pertama ini.

Ads
Setahun setelah Nygren melakukan eksplorasi, pada tahun 1939, ahli geologi lainnya yang bernama Richard H Hopper dikirim ke Minas untuk menguji hasil perkiraan rombongan yang dipimpin Nygren. Pemetaan seismik di Minas pada 1940 menunjukkan adanya suatu anticline.

Anticline merupakan lapisan batuan yang berbentuk cembung berukuran besar yang tersusun dari lapisan lapisan batu. Anticline merupakan tempat ideal bagi minyak berkumpul. James P. Fox, ahli geologi utama pada Kantor Caltex di Medan, memilih suatu lokasi pada titik tertinggi pada peta sebagai tempat untuk mengebor sumur percobaan No 1. Jika titik ini berhasil dibor, diperkirakan produksi minyak per hari adalah dua ribu barrel minyak.

Sayangnya, sebelum sempat mengebor. Perang Dunia II pecah dengan diserangnya Pearl Harbour oleh Jepang pada tanggal 7 Desember 1941. Disusul dengan pendaratan tentara Jepang di Malaya, Filipina dan Indonesia. Tentara Jepang dengan cepat bergerak ke kawasan Asia Tenggara. Karyawan-karyawan Chevron diperintahkan meninggalkan Minas.

GN de Laive, seorang sarjana Teknik Perminyakan yang ikut ditangkap oleh Jepang, menceritakan kepada dua karyawan pengeboran yang berasal dari Indonesia, Gedok dan Saadi, bahwa tentara Jepang telah mengebor sumur Minas No 1 di tempat yang dipilih Chevron dengan menggunakan peralatan dan beberapa orang bekas karyawan Chevron.

Pengeboran ini dipimpin oleh geologis yang berasal dari Jepang, dia bernama Toru Oki, perusahaan tempat Oki berkerja adalah Japan Petroleum Exploration Company (Japex). Percakapan antara Gedok dan Saadi terjadi saat dua pegawai pengeboran ini mengunjungi GN de Laive di camp tawanan perang pasifik Pekanbaru.

Setelah Jepang kalah, Richard H Hopper meminta bantuan dari teknisi Japex yang berhasil mengebor titik percobaan itu. Hopper meminta Jepang untuk mengambil contoh inti batuan, contoh minyak dari sumur Minas No 1,catatan mengenai sumur dan hasil percobaan produksinya. Pada bulan September 1946 utusan Chevron berkunjung ke Pekanbaru, mereka berkunjung ke sumur Minas 01.

Pada tahun 1949, terjadilah Konferensi Meja Bunda di Den Haag Belanda. Belanda mengakui kedaulatan dari Negara Republik Indonesia. Sumur sumur yang tadi dikuasai sepihak oleh Belanda saat agresi militer terjadi kembali kepada para pemilik konsesi lahan. Konsesi lahan Chevron yang berada di Minas kembali ketangan mereka. Pada tanggal 1 Desember 1949, pengeboran pertama sumur Minas 01 dimulai.

Pengeboran ini selesai pada tanggal 8 Februari 1950 dengan kedalaman 2.650 kaki. Data dari pihak Jepang, sesuai dengan kondisi yang didapatkan oleh pengeboran awal ini. minyak yang keluar sesuai dengan asumsi data geologis yang ada. Sumur 01 ini menghasilkan 2.000 barrel minyak sehari

Pekerjaan selanjutnya dari Chevron adalah membuat enam buah sumur baru di Minas. Proses konstruksi pun dimulai, rumah-rumah permanen mulai dibangun Keluarga mulai ikut pindah ke Minas dan Rumbai.

Chevron mulai membangun tangki-tangki penimbunan serta memasang jaringan pipa untuk mengalirkan minyak melalui jaringan pipa dua belas inci sepanjang 25 kilometer menuju Perawang. Walaupun Minas merupakan lapangan minyak ketiga yang ditemukan di daerah Chevron di Sumatera, namun ia merupakan yang pertama menghasilkan minyak untuk ekspor.

Saat ekspor minyak pertama ini, yaitu diawal tahun 1950, NPPM berubah nama menjadi Caltex Pacific Oil Company (CPOC ), kemudian, sumur sumur minyak baru pun ditemukan di Duri, Bengkalis, dan Petapahan. Nama Chevron kembali berubah pada 1960-an menjadi Caltex Pacific Company (CPC).

Seiring semakin banyaknya sumur minyak yang ditemukan di konsesi lahan operasi Chevron, peta wilayah kerja pun dibuat. Peta daerah kerja ini disebut Kangaroo Block,karena bentuk daerah kerja yang menyerupai kangguru.

Di luar Kangaroo Block, Chevron (yang pada dekade 1970-an mengubah kembali namanya menjadi PT Caltex Pacific Indonesia/CPI) juga mengoperasikan daerah Coastal Plains Pekanbaru Block (CPP Block) dan Mount Front Kuantan Block (MFK Block).

Setelah lapangan minyak Minas ditemukan pada tahun 1944 dan mulai menghasilkan minyak pada 1952. Diperlukan waktu 17 tahun untuk meraih pencapaian produksi 1 miliar barel di tahun 1969. Sumur produksi pertama dari Chevron di Indonesia sekarang menjadi monumen sejarah perkembangan Industri Migas di Provinsi Riau.

Sumur ini berada di tepi jalan lintas Pekanbaru-Medan, empat kilometer dari Kota Minas. Sumur 01 dengan pompa angguknya bermerek Lufkin, menjadi saksi bisu dalam perkembangan perusahaan besar multi Nasional di Riau.

Saat pompa ini beroperasi, suara ”ngggung, nguuung” dari mesin penggerak pompa akan terus terdengar selama dua puluh empat jam. Pompa yang dicat hitam ini menjadi saksi bagaimana emas hitam yang berasal dari perut Riau diekspor sebagai pendapatan negara. ***

loading...
(Akham Sophian)
Kategori : Potret Riau
Sumber:Gurindam12.co
PMB Unilak 2018/2019
wwwwww