Home > Berita > Umum

Cerita Masjid Pulau Penyengat Dibangun dari Putih Telur Sumbangan Warga karena Jumlahnya Terlalu Banyak sampai tak Habis Dimakan Pekerja

Cerita Masjid Pulau Penyengat Dibangun dari Putih Telur Sumbangan Warga karena Jumlahnya Terlalu Banyak sampai tak Habis Dimakan Pekerja
Sabtu, 07 Januari 2023 13:26 WIB
TANJUNGPINANG, POTRETNEWS.com — Pulau Penyengat yang berada di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) saat ini menjadi daya tarik luar biasa dan tujuan wisata bagi wisatawan yang datang ke Kota Tanjungpinang. Padahal dulunya pulau ini merupakan pulau kosong yang hanya dimanfaatkan pedagang-pedagang untuk mengisi persediaan air tawar.
Namun kemudian, Pulau Penyengat berubah menjadi pusat pemerintahan dari Kerajaan Riau, Lingga Johor, dan Pahang. Menurut sejarah, Sultan Mahmud yang menikahi Raja Hamidah menjadikan pulau ini sebagai hadiahnya atau mas kawin.

”Jadi dulu ada yang mengatakan juga pulau ini dijadikan mas kawin pernikahan antara Sultan Mahmud dengan Raja Hamidah," kata Tetua Adat Pulau Penyengat, Raja Al Hafiz.

Adanya sejarah masa lampau, menjadikan Pulau Penyengat memiliki beberapa tempat bersejarah. Objek wisata utama yang menjadi target kunjungan wisatawan adalah Masjid Raya Sultan Riau Penyengat. Lokasi masjid ini berada di dekat dermaga dan tepat di depan gerbang bertuliskan "Selamat Datang". Sekilas jika memandang dari luar, bangunan tersebut terlihat megah.

Pembangunan masjid raya ini mencerminkan kegotongroyongan, sebab dibangun melalui sistem gotong royong. Semua masyarakat, baik dari kalangan kerajaan maupun masyarakat biasa ikut membantu pembangunan masjid. "Jadi dulu itu laki-laki dan perempuan juga ikut membantu untuk pembangunan masjid di sini," kata Raja Al Hafiz.

Masjid di Pulau Penyengat mulai dibangun pada tahun 1803 dengan fisik bangunan yang relatif lebih kecil dan berada di tepi laut. Namunkemudian dipindahkan seiring perkembangan pusat pemerintahan.

"Namun, dengan perkembangan pusat pemerintahan saat ini, Masjid dipindahkan dan dibangun pada tahun 1832 hingga saat ini berdiri," terangnya, seperti dilansir tribunnews.com.

Proses pembangunan Masjid Raya Sultan Riau Penyengat ternyata mengandung unsur unik. Salah satunya campuran bahan bangunan menggunakan putih telur. ”Sebab pada saat itu belum ada semen, sehingga campuran daripada perekat pembangunan masjid menggunakan pasir, tanah liat, kapur dan putih telor," katanya.

Ada cerita pula dari mengapa putih telor digunakan sebagai campuran bahan bangunan. Menurut Raja Al Hafiz, dulu Sultan Mahmud meminta bantuan kepada seluruh masyarakat dari pulau-pulau agar membantu apa saja agar masjid terwujud.

Baik itu tenaga, makanan, ikan dan sebagainya bisa diserahkan sebagai bantuan. Ternyata banyak masyarakat yang mengantarkan telur untuk makanan para pekerja. ”Namun, karena telur itu terlalu banyak, dan tidak habis dimakan. Maka pekerjanya hanya memakan Kuning telor saja. Jadi putihnya dibuang," katanya.

Namun, seorang arsitek pembangunan yang melihat putih telur dibuang begitu saja, memberikan ide menfaatkannya. Jadilah putih telur sebagai campuran perekat pengganti semen. Sang arsitek tersebut langsung mempraktikan dengan mencampur bahan pasir, tanah liat, kapur, dan putih telur. Hasilnya pun memuaskan hingga menghasilkan suatu perekat yang sangat kuat.

Sehingga digunakanlah putih telur itu untuk membangun Masjid penyengat ini. ”Jadi kalau orang Singapura menanyakan kalau dia lihat kita punya paspor dari Pulau Penyengat jika berkunjung ke sana, pasti mereka sebut kita dari Masjid Telor,” kata Raja Al Hafiz.

Sumur Tua Ajaib

Berikutnya, selain masjid, beberapa makam juga salah satu objek wisata. Makam tersebut merupakan makam para raja, makam Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor, Balai Adat, dan benteng pertahanan di Bukit Kursi.

”Nah untuk Balai Adat ini merupakan salah satu kunjungan wisatawan yang ramai juga dikunjungi, karena di bawah balai adat itu ada sumur tua," ungkapnya.

Banyak yang mengatakan bahwa sumur tua tersebut ajaib, sebab airnya tetap tawar meski berada di dekat pantai. Selain itu air sumur tua ini juga bisa diminum langsung. ”Jadi beberapa tempat wisata inilah tempat-tempat wisata yang di kunjungi oleh wisatawan. Baik Mancanegara dari Singapura, Malaysia. Wisatawan lokal Batam, Tanjungpinang, Bintan dan dari seluruh Indonesia sudah sampai ke sini," jelasnya.

Dengan keberadaan Masjid Sultan Riau Penyengat dan objek wisata lain, kiranya Pulau Penyengat layak menjadi tujuan wisata religi dan sejarah bagi wisatawan, khususnya dari Pulau Sumatera, lebih khusus berasal dari Sumatera Selatan untuk berkunjung ke Tanjungpinang.

Destinasi Wisata Unggulan Kepri

Dengan semakin banyaknya orang yang mengenal Tanjungpinang, Raja Al Hafiz juga mengaku, sangat berterima kasih kepada Pemerintah yang telah peduli terhadap Pulau Penyengat. Sebab Pulau Penyengat telah dibuat salah satu Pusat Destinasi Wisata unggulan di Kepri.

Selain itu, di Pulau Penyengat juga telah dilakukan pembangunan jalan dan renovasi masjid oleh Pemerintah Provinsi Kepri yang dipimpin Ansar Ahmad yang sudah peduli kepada Pulau penyengat ini. ”Maka dari itu kami selaku tetua adat Pulau Penyengat sangat berterimakasih atas kepedulian Pemerintah untuk memajukan Pulau Penyengat dan menjadikan destinasi wisata unggulan di Kepri," tutupnya.

Sedangkan Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata Kepri, Luki Zaiman Prawira menyebutkan, Pulau Penyengat selain wisata religi, banyak sejarah yang ada di sana. ”Apalagi pulau kebanggan masyarakat Tanjungpinang khususnya, juga sudah dinobatkan sebagai cikal bakal lahirnya bahasa Indonesia," katanya.

Sebab itu, Gubernur Kepri, Ansar Ahmad sangat fokus dalam melakukan pembenahan agar destinasi wisata tersebut lebih menarik lagi. "Pak Gubernur sangat menginginkan, pulau penyengat menjadi wisata yang lebih baik lagi. Maka banyak penataan yang akan dilakukan,” ucapnya.

Gubernur Kepri, Ansar Ahmad menyampaikan, bahwa ia sudah meninjau langsung beberapa titik pekerjaan di Pulau Penyengat ini. Menurutnya Pekerjaan sudah selesai dan hasilnya baik.

”Alhamdulillah kemarin saya keliling, pekerjaannya sudah selesai dengan bagus. Saat ini tinggal menyelesaikan revitalisasi masjid. Karena ini tidak gampang urusannya. Catnya saja kita impor dari Jerman, ini rekomendasi dari Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB). Karpetnya juga kita pesan dari Turki. Mudah-mudahan 2 atau 3 minggu lagi ini selesai," jelasnya.

Pada kesempatan itu, Gubernur Ansar mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Pulau Penyengat atas dukungan dilaksanakannya pekerjaan tersebut. Dia berharap dengan kondisi yang ada sekarang, masyarakat ikut menjaga kebersihan pulau, minimal mulai dari halaman rumahnya masing-masing.

”Agar tidak kembali semrawut, juga kita harapkan adanya pengawasan, jangan ada lagi yang bangun itu kios-kios yang atapnya sampai ke jalan. Pak Camat dan Bu Lurah bantu awasi ini, saya pun ikut mengawasi" kata Gubernur Ansar.

Gubernur pun mengungkapkan rencananya begitu seluruh Pulau Penyengat selesai proses revitalisasinya. Seperti pembentukan Badan Pengelola dan perekrutan tenaga kebersihan.

”Melalui Badan Pengelola itu nanti kalau ada tamu-tamu datang bisa difasilitasi. KIta juga akan segera merekrut 15 orang tenaga, nanti dikoordinir oleh Dinas PUPP. 12 orang sebagai tenaga kebersihan, 2 orang khusus menangani lampu-lampu, dan 1 orang untuk utusan kebersihan masjid," ungkap Gubernur.

Sebelumnya, Kepala BPPW Kepri Fasri Bachmid menyampaikan, untuk pekerjaan lanjutan di tahun anggaran 2023, Kementerian PUPR telah mengalokasikan anggaran sebesar lebih kurang Rp 43 miliar. ***

Editor:
Wahyu Abdillah

Kategori : Umum, Riau
wwwwww