Pasar Seni ”Kesturi”; (Hikayat) Sebatang Pokok yang Menjulang Melampaui Takdirnya
Tenun Siak yang dijual di Pasar Seni Siak/F-PESONA SIAKOleh Tengku Bongsu Syed Ariev
(Tulisan lahir setelah perbincangan bersama Seniman Pemangku Negeri/S.P.N Encik Amrun Salmon mengenai Arah Tujuan Seni dan Budaya di Negeri Istana Siak Seri Inderapura. Terima kasih S.P.N Encik Amrun Salmon.)
Masih terkenang dalam ingatan awal bulan Maret 2015 kegiatan Peresmian Pembukaan Pasar Seni di Siak Seri Inderapura oleh Bupati Siak sekaligus menyematkan nama "KESTURI". Alasan menggunakan nama "KESTURI" karena Hang Kesturi salah seorang dari bersaudara Hang Tuah juga "KESTURI" bermakna bau yang harum mewangi.Pasar Seni bukanlah pasar biasa, bermaksud dibangun dengan tujuan tempat menjual barang - barang khas suatu daerah yang memiliki nilai seni. Juga menjadi tempat para pengrajin dan pekerja seni berniaga sekaligus membuat barang - barang kerajinan. Sangat berpotensi menjadi "Destinasi Wisata" yang dapat menarik Wisatawan untuk berkunjung. Sentra kegiatan multifungsi, dinamika interaksi sosial, budaya dan ekonomi yang penuh semangat.Bagaimana pula dengan Pasar Seni "KESTURI"?Kelihatannya segala fasilitas memadai yang diberikan belum cukup membuat Pasar Seni berjaya dan mahsyur. Selain itu, letak yang strategis (strategic) belum cukup menarik minat pengunjung.
Untuk itu, ada 3 (tiga) hal yang harus menjadi perhatian Pasar Seni ke depan yaitu :1. Upaya menarik Wisatawan berkunjung ke Pasar Seni "KESTURI". Kerjasama antara lembaga terkait sangat diperlukan.
Sehingga Pasar Seni "KESTURI" menjadi SEBATANG POKOK YANG MENJULANG MELAMPAUI TAKDIRNYA. ***
Penulis, Tengku Bongsu Syed Ariev adalah Ketua Siak Heritage. 























