Home > Berita > Umum

Buku tentang Adat Istiadat Melayu Selesai Ditulis, Panelis Gelar Sosialisasi

Senin, 27 Juni 2022 15:39 WIB
Junaidi Usman
buku-tentang-adat-istiadat-melayu-selesai-ditulis-panelis-gelar-sosialisasiSuasana sosialisasi buku Adat Sebatang Tubuh Masyarakat Melayu Kabupaten Bengkalis terbitan LAMR Kabupaten Bengkalis, Ahad (26/6/2022).
BENGKALIS, POTRETNEWS.com — Buku Adat Sebatang Tubuh Masyarakat Melayu Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau terbitan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Bengkalis telah selesai
ditulis.
Sebelum diperbanyak dan dibagikan ke tengah masyarakat, tim penulis yang terdiri; Datuk Riza Pahlevi, Datuk Syaukani Al Karim, Buya Amrizal, Datuk H Mohd Sidik, Datuk H Aziar Asroy dan Tuan Marzuli Ridwan al-bantany menerima masukan dari para tokoh adat dan penggiat seni budaya Melayu.

Masukan disampaikan dalam acara sosialisasi buku tadi agar semakin sempurna dan lengkap kandungan isi buku yang melingkupi adat istiadat kelahiran, masa kanak-kanak, perkawinan, menegak
rumah, kematian, hinggalah adat istiadat kenduri arwah.

Judul buku menurut Tuan Mustafa Kamal seorang tokoh adat, Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah. Selain itu tentang tepuk tepung tawar dan cara membuat nasi kunyit beras basuh
diharapkan Tuan Mustafa Kamal deskripsinya lebih rinci.

Tuan Jundi Mustari mengusulkan dalam buku tersebut juga berisi tentang Nikah Melangkah Batang yaitu adik yang lebih dulu menikah dari saudara kandung yang di atasnya.

Puan Meri menanyakan apakah "Air Pecou" masuk dalam alat cukur rambut atau air bunga mawar yang masuk. Hal ini ditanggapi Tuan Marzuli Ridwan al-bantany yang akan melakukan wawancara
untuk melengkapi buku tadi karena naskah ini belum final dan akan dilakukan perbaikan untuk selanjutnya dicetak dan diperbanyak.

Tuan Jamhur menanyakan apakah perlengkapan tepuk tepung tawar antara mempelai bujang dan gadis dengan duda dan janda itu sama. Dalam proses Berinai Lebai dilakukan oleh orang tua-tua, alim ulama, tokoh masyarakat dan lebai.

Menanggapi banyak hal dalam adat istiadat Melayu, Datuk Riza Pahlevi menegaskan bisa saja ada sedikit perbedaan adat istiadat Melayu di kecamatan yang ada di Kabupaten Bengkalis.

"Ini adalah sebuah ikhtiar yang dilakukan secara bersama oleh tim penulis untuk mencoba memberikan panduan tentang bagaimana prosesi adat yang ada di daerah kita. Sebelum buku ini kita cetak,
kita sebarluaskan, kita terlebih dahulu meminta masukan daripada ahli, tokoh adat untuk mendapatkan gambaran yang utuh bagaimana berbagai proses yang terjadi dalam kehidupan masyarakat
kita misalnya di dalam hal kelahiran anak, pada pernikahan perkawinan, pada adat menegak rumah, ini dapat menjadi panduan kita semua," kata Ketua Tim Sosialisasi, Datuk Syaukani Al-Karim kepada potretnews.com, Ahad (26/06/2022).

"Kita tahu bahwa Bengkalis ini memiliki berbagai ragam konsep-konsep adat yang ada di masyarakat makanya kita akan coba mensosialisasikan buku ini ke berbagai tempat. Hari ini kita laksanakan di Kecamatan Bengkalis dan Bantan, pada pekan depan kita akan melakukan di Kecamatan Mandau, Batin Solapan, Talang Muandau, Kecamatan Pinggir, dan seterusnya kita sosialisasikan di Kecamatan Rupat, Rupat Utara kemudian Siak Kecil, Bukit Batu, Kecamatan Bandar Laksamana dan kita ingin mendapatkan informasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan tata cara adat mulai dari kelahiran seorang anak manusia sampailah dia pulang ke haribaan Allah SWT,"' tambahnya.

Diakui Datuk Syaukani, "Kita tentu melihat, akan ada perbedaan-perbedaan kecil pada masing-masing wilayah sesuai dengan kultur yang mengasuh mereka. Dan perbedaan-perbedaan inilah yang kita rangkum nantinya sebagai bahan untuk memperkuat isi buku. Berbagai perbedaan itu kita buatkan dalam adendum-adendum buku sehingga orang tahu, kalau di Pulau Bengkalis seperti ini, ternyata di Batin Solapan ada perbedaan sedikit. Dan inilah yang coba kita rangkum sehingga buku ini dapat menjadi panduan-panduan bagi kita semua baik, bagi para pelaku adat, bagi Mak Andam dan seterusnya untuk dapat menentukan langkah-langkah yang diambil dalam menyelenggarakan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan konsepsi adat Melayu," terang Datuk Syaukani.

Masih kata Datuk Syaukani, sosialisasi tersebut merupakan ikhtiar untuk membukukan semua konsep-konsep yang ada di masyarakat.

"Konsep-konsep ini kita himpun dan kalau ini dikatakan buku langka, tidak juga tapi ini merupakan upaya kita untuk mendudukkan persoalan secara tepat secara adat makanya kita akan mengajak semua pihak untuk mendiskusikan tentang ini. Mendiskusikan hal-hal yang benar sepanjang adat. Kita tahu di dalam adat istiadat Melayu ada perbedaan-perbedaan kecil tetapi kita harus percaya bahwa mereka memiliki sebuah sumber utama dan dari sumber utama inilah yang kita garap, kita coba sederhanakan sehingga banyak pihak ketika menyelenggarakan berbagai kegiatan dapat menjadikan buku ini sebagai dasar pijakan," pungkasnya.

"Sebuah masyarakat yang kuat atau negeri yang kuat adalah sebuah negeri yang tetap menjaga kebudayaannya. Yang dilakukan oleh tim penulis dalam menyusun buku ini, dalam ikhtiar menjaga kebudayaan. Kita ingin secara kebudayaan yang eksis, kita ingin secara dalam hal lain, kita ingin negeri ini kuat. Jadi negeri yang kuat itu adalah negeri yang mampu menjaga dua hal sekaligus bahwa mereka mampu menjaga kebudayaannya dan mampu menjaga adat istiadatnya dan pada sisi lain mereka mampu pula menjaga sistem perkonomiannya, menjaga sistem pemerintahannya sehingga apabila dua hal ini sama-sama kita jaga, sama-sama dijadikan masyarakat sebagai pondasi maka kita dapat bermimpi tentang sebuah negeri yang lebih baik dan sejahtera," terang Datuk Syaukani Al-Karim di akhir wawancara. ***

Kategori : Umum, Bengkalis
wwwwww