Tawarkan Investasi Bodong, Pemimpin Cabang PT Fikada Raup Untung Rp7 Miliar

Tawarkan Investasi Bodong, Pemimpin Cabang PT Fikada Raup Untung Rp7 Miliar
Selasa, 08 Februari 2022 06:21 WIB

POTRETNEWS.com — Berperan sebagai Pemimpin Cabang Perusahaan Investasi Bodoh , Branch Manager (BM) PT Fikasa, Maryani, mengaku diuntungkan cukup besar . Total keuntungan yang didapatnya mencapai Rp 7 miliar lebih.

Maryani mengaku dari keuntungan yang didapatnya, ia masuk lagi ke Fikasa Group yang berbasis di Jakarta melalui produk Surat Sanggup (PN) atau letter of credit. Ia bergabung dan Fikasa Group sendiri sejak 2016.

"Biaya saya dari mendapatkan nasabah Rp7 miliar. Uangnya saya balikkan dan saya masukkan ke produk PN (Surat Promes) juga. Jadi total uang saya Rp14 miliar," kata Maryani yang dihadirkan dalam agenda pemeriksaan terdakwa. di Pengadilan Negeri Pekanbaru pada Senin (7/2/2022) malam.

Fee tersebut didapat dari keuntungan masuknya pelanggan di Pekanbaru ke Fikasa Group. Diakuinya, nasabah yang menyetorkan uangnya ke Fikasa Group melalui anak perusahaan PT WBN dan PT TGP minimal Rp500 juta per orang.

Di Pekanbaru, korban Fikasa Group lebih dari 50 orang. Diperkirakan total uang warga Pekanbaru yang menyetor uang ke Fikasa Group mencapai Rp200 miliar, melansir idxchannel.

Diakuinya, Fikasa Group memberikan fee sebesar 0,5-2 persen dari jumlah uang yang disetorkan nasabah. Meski informasi yang dihimpun, Maryani mendapat untung Rp7 persen dari uang nasabah.

Di Pekanbaru, Maryani tidak bekerja sendiri untuk 'merekrut' pelanggan, ada lima orang yang bekerja membantunya menjadi pemasar. Para karyawan itu adalah teman-temannya ketika dia masih bekerja di bank. Biaya mereka juga dibayarkan sesuai dengan 'korban' yang diperoleh.

Terkait perputaran PT Fikasa Group yang mencapai Rp11 triliun dibawah kepimpinan Agung Salim, Maryani mengaku tidak mengetahuinya. Dia sendiri mengaku kalau uang itu untuk bisnis Agung Cs penambahan modal air minum dan perhotelan yang dikelola anak perusahaan PT WBN dan PT TGP. Namun persisnya apakah uang nasabah memang dipergunakan untuk bisnis perhotelan dan air minum dia tidak tahu.

Maryani mengaku bahwa dirinya juga mengajak saudara dan kerabatnya untuk bergabung 'bermain' Promissory Note (PN). Dimana bunga yang ditawarkan cukup tinggi yakni 9 sampai 11 persen per tahun.

"Total saudara saya yang juga ikut PN ada 20 orang seperti kakak, mertua sepupu. Sampai sekarang bunga milik saya di PN dan keluarga juga tidak dibayar oleh Pak Agung. Selain itu saya juga dikejar nasabah di Pekanbaru. Saya sering hubungi Pak Agung, tapi dia bilang tidak ada uang karena pandemi Covid-19," ucapnya.

Atas hal tersebut, Maryani sendiri sudah melaporkan para bosnya yakni Agung Salim ke polisi. "Saya sudah laporkan Pak Agung Salim ke Polda Riau karena bunga saya belum dibayar juga."

Dalam kasus investasi bodong ini, ada 11 nasabah di Pekanbaru yang menjadi korban. Total kerugian para nasabah di Pekanbaru adalah Rp84 miliar. Dalam sidang ini dipimpin Ketua Majelis Hakim, Dahlan dan JPU Herlina dan Heru.

Sementara 4 terdakwa lain yakni Agung Salim, Bhakti Salim, dan Elly Salim yang merupakan bos Fikasa Group Pusat juga dihadirkan di persidangan dengan berkas terpisah. ***

Editor:
Akham Sophian

Kategori : Hukrim, Pekanbaru
wwwwww