Tanggapi Kasus Pemerkosaan Siswi di Pekanbaru, Lembaga Perlindungan Anak Anggap Kejahatan Luar Biasa

Tanggapi Kasus Pemerkosaan Siswi di Pekanbaru, Lembaga Perlindungan Anak Anggap Kejahatan Luar Biasa

Ilustrasi

Minggu, 09 Januari 2022 11:16 WIB

PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Provinsi Riau angkat bicara terkait kasus pemerkosaan yang menimpa siswi SMP berusia 15 tahun di Kota Pekanbaru dan membuat publik terhenyak. Mereka menganggap hal itu adalah kejahatan luar biasa.

Dilansir dari riau.antaranews.com, Ketua LPA Provinsi Riau, Esther Yuliani, melalui pernyataannya, Minggu (9/1/2022), mengecam segala jenis tindak kekerasan atau kejahatan seksual terhadap anak. Karena hal tersebut merupakan kejahatan luar biasa yang dapat merusak masa depan anak sebagai generasi penerus bangsa.

Menurutnya, tindak pidana pemerkosaan dan atau persetubuhan terhadap anak merupakan bentuk kekerasan seksual sebagaimana tertuang dalam Pasal 76D dan Pasal 76E Juncto Pasal 81 dan Pasal 82 UU Nomor 35/2014 tentang Perubahan Atas UU Nomor 23/2002tentang Perlindungan Anak, dengan hukuman yaitu pidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda paling banyak Rp 5 miliar.

Menurutnya, tindak pidana pemerkosaan terhadap anak dalam hukum pidana dikategorikan sebagai delik biasa, sehingga perkaranya dapat diproses tanpa adanya persetujuan dari korban walaupun laporannya dicabut, diberikan ganti rugi atau janji-janji.

"Perkara hukumnya tetap dilanjutkan oleh penyidik. Upaya perdamaian antara korban dengan pelaku, menurut hukum tidak dapat menghentikan proses perkara hukumnya, sehingga penyidik harus tetap memproses perkara hingga selesai," kata Esther.

Mengingat kasus ini tengah menjadi sorotan publik, LPA Provinsi Riau mengajak seluruh masyarakat untuk bersama mengawal proses hukum kasus tersebut agar tetap berjalan sesuai dengan ketentuan.

"Harus mengedepankan hak dan kepentingan korban, serta dilakukan upaya-upaya
pengobatan yang terbaik baik untuk fisik dan psikis korban," lanjutnya.

"Kami juga meminta kepada penegak hukum agar diajukan Restitusi bagi korban, yang muaranya akan diketuk oleh hakim pada pengadilan kasus ini," tambah Esther Yuliani. ***

Editor:
Akham Sophian

Kategori : Hukrim, Pekanbaru
wwwwww