Cerita Pak Taufan yang Gali 11 Makam Pasien Covid Sendirian, tapi Baru Terima 3 Kali Insentif; Di Kuitansi Tertulis Rp750 Ribu, yang Diterima Rp650 Ribu
![]() |
Taufan Putra. |
MALANG, POTRETNEWS.com — Seorang penggali kubur di TPU RW 08 Plaosan Barat, Kota Malang, Taufan Putra (56) selama pandemi telah menggali makam untuk 11 pasien Covid-19 yang meninggal. Namun ia mengaku belum menerima seluruh insentif yang menjadi haknya.
Sebagi penggali kubur, seharusnya ia menerima insentif Rp 750.000 untuk satu kali pemakaman karena ia melakukannya seorang diri. Ia hanya menerima 3 kali insentif. Dan pernah menerima insentif Rp 650.00 karena dipotong Rp 100.000 untuk alasan administrasi.”Tekennya (kuitansi yang ditandatangani) Rp 750.000 tapi yang dikasih Rp 650.000. Katanya untuk administrasi," kata Taufan di TPU RW 08 Plaosan Barat, Kota Malang, Jumat (3/9/2021).Taufan mengatakan, insentif yang dipotong itu merupakan insentif pemakaman keempat yang dilakukannya. Untuk pemakaman keenam dan ketujuh, insentif itu diterima utuh. "Saya terima insentif pertama dipotong oleh petugasnya. Insentif berikutnya ini turun diantar oleh petugas RW, itu utuh Rp 750.000. Itu kuitansinya resmi," katanya.Sampai saat ini, Taufan belum menerima insentif lagi. Padahal masih ada delapan kali insentif yang harus diterimanya. Ia berharap insentif yang ia terima segera cair karena menjadi haknya sebagai penggali kubur.Sementara itu Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan jika insentif pemakaman Covid-19 belum cair. "Tidak ada yang namanya penggelapan. Sampai saat ini belum dibayar itu karena belum dicairkan dananya," kata Sutiaji usai rapat paripurna di Gedung DPRD Kota Malang.Sutiaji mengatakan, insentif periode Mei hingga Agustus 2021 masih dalam proses pencairan. Sedangkan kasus Taufan sudah terjadi sejak tahun lalu.Sutiaji mengatakan, insentif pemakaman Covid-19 yang belum cair sejak Mei 2021 senilai sekitar Rp 2 miliar. "Di meja saya Bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, mau dicairkan. Kurang lebih Rp 2 miliar sekian," katanya.Sutiaji menyebutkan, dana insentif itu belum cair karena terkendala regulasi karena pencairan dana insentif harus berdasarkan laporan pertanggungjawaban (LPJ) atas kegiatan di lapangan. Berdasarkan LPJ tersebut, besaran dana insentif bisa dicairkan. "Selama ini belum dapat semua. Bukan penggelapan memang belum dicairkan," katanya.Sutiaji berjanji akan tegas jika ada pejabatnya yang melakukan penggelapan terhadap dana Covid-19. Sutiaji berjanji tidak akan mentolerir jika ada pejabatnya yang melakukan penggelapan terhadap dana Covid-19."Sampai ada OPD terkait melakukan penggelapan di masa pandemi ini nanti akan ditindak tegas dan tidak akan dilakukan pendampingan hukum," katanya. Sementara itu Kepala UPT Pemakaman Taqruni Akbar di mutasi di posisi baru sebagai Kasi Trantib Kelurahan Polowijen. Sutiaji membantah mutasi itu akibat dugaan pungli insentif penggali kubur. "Sudah waktunya. Sudah terlalu lama di pemakaman. Kan kasihan," pungkasnya. ***Editor:
Akham Sophian

























