Sidang Lanjutan Dugaan Suap Fee Asuransi yang Menyeret 3 Eks Kepala Cabang Bank Riau Kepri Digelar Besok
![]() |
PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Tiga terdakwa kasus penerimaan fee dari penyaluran asuransi Kredit Aneka Guna Bank Riau Kepri (BRK) dari PT Global Risk Management (GRM), akan kembali menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Kota Pekanbaru, Kamis (26/8/2021). Agendanya masih pemeriksaan saksi dari jaksa penuntut umum (JPU) dengan jadwal sidang diperkiarakan pukul 09.45 WIB.
”Besok jadwal sidangnya kira-kira jam 10 pagi di PN Pekanbaru, dan agendanya masih pemeriksaan saksi yang dihadirkan oleh JPU dari Kejati Riau,” kata Kasi Penkum dan Humas Kejati Riau, Marvelous kepada potretnews.com, Rabu (25/8/2021)Dalam sidang sebelumnya, pada Kamis (19/8), JPU menghadirkan empat saksi. Saksi–saksi ini diperiksa dan didatangkan langsung ke sidang yang digelar di Ruang Soebekti, PN Pekanbaru. Dalam kesaksiannya, Ari Junitra yang merupakan anggota kepolisian sekaligus sebagai pelapor dalam perkara ini. Lewat keterangannya, ia mengungkapkan bahwa hal ini bermula dari informasi masyarakat terkait adanya dugaan kecurangan dalam penyaluran asuransi di BRK.Kemudian dia bersama tim menyelidiki informasi tersebut. Lalu mereka mendapati adanya fee 10 % yang diterima Kepala Cabang Pembantu (Kacapem) BRK yang berasal dari kerja sama dengan PT GRM atau penyedia jasa asuransi. Disebutkan, bahwa fee diberikan supaya PT GRM mendapat tambahan nasabah debitur/peminjam kredit aneka guna. Hal itu diperjelas dengan adanya Surat Edaran Direksi BRK Nomor : 035/SE/2017, tanggal 22 Agustus 2017 Tentang Petunjuk Teknis Penyaluran Kredit Aneka Guna Bank Riau Kepri menyatakan setiap debitur (peminjam) yang melakukan kredit aneka guna di lingkungan bank wajib diasuransi.Selanjutnya, hakim memanggil dua saksi lain, yakni; Dicky Vera Soebasdianto dan Fahrul Kusuma. Mereka bekerja di PT GRM. Dicky menjabat sebagai Busines Development Officer atau Kepala Cabang untuk wilayah Riau. Ia mengungkapkan bahwa hal itu berawal pada Maret 2018, karena pada bulan itu produksi PT GRM tidak sesuai target, premi atau pendapatan perusahaan dari asuransi tidak bertambah. Ditambah lagi karena Direktur Utama PT GRM memberi target tiap bulannya agar premi perusahaan di Riau harus mendapat Rp 4,5 miliar. Maka untuk mendapatkan target, Dicky mencoba menawarkan fee 5% kepada terdakwa dengan imbalan supaya ditambah lagi jumlah debitur. Namun tidak digubris. Lalu tawaran dinaikan menjadi 7%, namun hal itu juga tidak ditanggapi.
























