Home > Berita > Riau

Begini Cara Profesor Alaidin Koto Memotivasi Generasi Milenial Riau agar Menjadi Intelektual Muslim yang Cerdas

Begini Cara Profesor Alaidin Koto Memotivasi Generasi Milenial Riau agar Menjadi Intelektual Muslim yang Cerdas

Profesor Alaidin Koto/ISTIMEWA

Senin, 28 September 2020 08:26 WIB
Rida Widi Anty

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Ada berbagai cara yang bisa dilakukan setiap orang dalam memotivasi atau menyemangati hidupnya. Tokoh Islam Riau, Alaidin Koto, berbagi pengalaman kepada generasi muda di daerah berjuluk Bumi Lancang Kuning ini.

”Kalau melalui lisan tentu motivasi itu diberikan dalam bentuk dialog. Bisa di kampus dan di mana saja. Kalau melalui tulisan bisa melalui media. Kemudian dengan tindakan. Apa yang saya lakukan di masyarakat mungkin orang akan melihatnya terutama anak-anak muda,” kata Alaidin Koto menjawab potretnews.com yang menghubunginya Sabtu (26/9/2020).

Akademisi berpangkat profesor ini menyebut, di era milenial muncul berbagai macam cara untuk menunjukkan atau memberikan suatu motivasi kepada orang-orang di sekitar. Terutama anak milenial (anak anak muda) dari kampus, forum komunitas, televisi, media sosial dan masih banyak lagi untuk membagikan secuil motivasi yang bisa membangun minat niat di dalam diri generasi muda saat ini.

”Melalui dialog kita bisa berbagi pengalaman. Bisa di kampus dengan mahasiswa, tetapi bisa juga di kampus bersama mahasiswa atau genenerasi muda yang aktif di organisasi- organisasi dan forum-forum pertemuan remaja serta pemuda,” ucapnya.

Pakar sekaligus Guru Besar Hukum Islam/Politik Islam pada Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim (UIN Suska) Riau ini mencontohkan, cara memotivasi lewat sikap tentu dengan melihat apa yang dilakukannya di masyarakat. Cara lain yang dilakukan Alaidin untuk memotivasi anak muda di daerah ini adalah melalui tulisan.

”Kalau melalui tulisan misalnya, saya menyampaikan ke anak-anak muda melalui artikel yang pernah saya bahas dalam tulisan saya di media, yaitu; pertama, untuk apa sih hidup itu? Kedua, bagaimana kita harus hidup? Kalau kita hidup dalam agama pasti sudah jelas kita hidup mau mengabdi kepada Allah. Apakah dalam bentuk salat saja? Tidak, tapi dalam bentuk mengabdi kepada makhluk Allah juga, berbuat baik kepada orang tua, tetangga, kepada lingkungan. Jadi berbuat baik kepada orang lain itu sebenarnya berbuat baik kepada Allah. Inti kenapa kita harus berbuat baik adalah untuk membuat diri kita berguna kapada orang lain,” papar Alaidin.

Dia melanjutkan, menjadi intelektual bisa ditanam dari diri sendiri. Karena ini soal belajar dari pengalaman, dan bagaimana mau berjuang mencapai sesuatu yang diinginkan. Ketika seseorang menjadi sukses, imbuh Alaidin, mereka sering lupa dengan apa yang ada di sekitarnya. Tetapi bagi orang intelektual, mereka mendengarkan dan terus memperbaiki diri hingga menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari meski dia sebenarnya sudah lebih baik.

”Orang yang intelektual itu adalah orang orang yang punya gagasan, mampu punya gagasan, orang yang mampu mempertahankan gagasannya. Tetapi ketika dia sadar bahwa gagasan orang lebih baik daripada gagasan dia, dia lepaskan gagasan dia dipakai gagasan orang lain,” ucap Alaidin.

Itu artinya, kata sang profesor, intelektual adalah orang yang mau menerima kebenaran orang lain, tidak hanya kebenaran dia sendiri.

”Itulah orang yang cerdas, cerdas dalam artian bukan karena dia pandai berpendapat kemudian dia bisa menganalisis pendapat orang lain, (pendapat) yang lain dari dia. Intelektual yang secara jujur mengakui ada pendapat orang lain yang lebih baik dari pendapatnya, itulah yang dikatakan cerdas!” pungkas Alaidin Koto. *1

Kategori : Riau, Umum
wwwwww
www.amsi.or.id