Inilah Asner Silalahi, Cawalkot Tunggal Pilkada Pematangsiantar yang Borong Semua Parpol hingga Petahana Tak Bisa ”Berlayar”

Inilah Asner Silalahi, Cawalkot Tunggal Pilkada Pematangsiantar yang Borong Semua Parpol hingga Petahana Tak Bisa ”Berlayar”

Asner Silalahi (depan) dan Susanti Dewayani saat hendak mendaftar ke parpol, beberapa waktu lalu/HETANEWS.com

Sabtu, 05 September 2020 11:21 WIB

PEMATANGSIANTAR, POTRETNEWS.com — Bakal pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara (Sumut), Asner Silalahi-Susanti Dewayani resmi mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat, Jumat (4/9/2020) siang.

Pasangan yang disingkat ”Pasti” (Pasangan Asner dan Susanti) datang ke kantor KPU diantar 8 pimpinan partai politik (parpol) pendukung yang memiliki seluruh kursi di DPRD dengan total sebanyak 30.

Dengan demikian, hampir dipastikan keduanya menjadi calon tunggal di Pilkada Kota Pematangsiantar yang akan berhadapan dengan kotak kosong.

Lalu siapakah Asner Silalahi hingga seorang petahana, Hefriansyah pun tak kebagian tiket untuk berlayar? Berikut profilnya yang dilansir potretnews.com dari Tagar.id.

Asner merupakan seorang birokrat yang telah malang melintang dalam urusan pembangunan daerah tertinggal atau proyek nasional di beberapa daerah di Tanah Air.

Pria kelahiran Kota Pematangsiantar 59 tahun silam itu tumbuh dan besar dalam keluarga sederhana. Ayahnya merupakan seorang PNS di Dinas Koperasi, sementara sang ibu adalah seorang guru sekolah dasar.

Ditemui Tagar di kediamannya beberapa waktu lalu, Asner menceritakan masa kecil di rumah orang tuanya di Jalan, Sidamanik, Kelurahan Martimbang, Kecamatan Siantar Selatan, Kota Pematangsiantar.

”Kami lima bersaudara. Saya sekolah di SD Negeri 48, SMP Negeri 3, dan SMA Negeri 1 Siantar. Jadi banyak kesan di Siantar. Mulai main alip cendong, patok lele, dan main sepak bola. Itu masa kecil yang tak terlupakan," katanya, Selasa, 4 Agustus 2020.

Asner kecil merupakan pria yang fanatik sepak bola. Sejak kecil dia menggemari olahraga tersebut. Namun saat SMA dirinya mengalami cedera panjang dan memilih meninggalkan kegemarannya itu. Dia pun melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Sipil Universitas Darma Agung Medan.

”Jadi orang tua keberatan kalau saya main bola, apalagi kemarin cedera. Waktu itu orang tua suruh memilih mau main bola atau kuliah. Dan akhirnya saya memilih kuliah," ujar Asner.

Meninggalkan kampung halaman, Asner muda kemudian melanjutkan kuliah di Kota Medan. Sejak kecil sebenarnya Asner bercita-cita menjadi seorang pengacara. Namun akhirnya dia memilih Fakultas Teknik Sipil karena tertarik pada konstruksi bangunan.

Keterbatasan keuangan keluarga saat itu membuat Asner harus menjadi pria yang mandiri. Sambil kuliah Asner pun menjadi penulis lepas di harian Sinar Indonesia Baru.

Hal itu dia lakoni saat menjadi mahasiswa semester lima. Dari uang hasil menulisnya, kemudian Asner memperoleh tambahan penghasilan memenuhi kebutuhan selama kuliah.

”Karena saat itu tidak hanya saya yang sekolah dan keterbatasan orang tua. Saya mengerti kondisi keluarga. Makanya sambil kuliah sekalian jadi penulis lepas di SIB, bantu-bantu uang kuliah. Dan aktif juga di kegiatan kampus," ujarnya.

”Satu bulan biasa tiga tulisan terbit di SIB, biasa nulis temanya beda-beda. Kadang opini, ada juga puisi. Hitung-hitung bantu uang kuliah, karena banyak yang ditanggung orang tua," ujarnya.

Terlibat dalam Proyek Nasional Setelah menyelesaikan kuliah, pada umur 26 tahun, Asner telah bekerja sebagai konsultan konstruksi bangunan. Awalnya Asner dipercaya menangani pembangunan irigasi di Kabupaten Simalungun.

Dirinya kemudian melanjutkan karier ke Papua dan terlibat langsung dalam beberapa pembangunan proyek nasional bersama Kementerian PUPR. Seperti pembangunan Jembatan Holtekamp, Asner menceritakan pengalamannya saat terlibat langsung membangun jembatan kebanggaan masyarakat Papua yang terkenal indah itu.

Holtekamp mendapat dua penghargaan Museum Rekor Dunia Indonesia atau Muri, yakni rekor pengiriman jembatan rangka baja utuh dengan jarak terjauh dan rekor pemasangan jembatan rangka baja utuh terpanjang di Tanah Air.

Kesan manis juga masih dekat dalam ingatannya saat berpacu membangun ruas Jalan Trans Papua, salah satu program ambisius Presiden Jokowi. Jalan Trans Papua menjadi pekerjaan yang paling mengesankan untuk Asner karena beratnya proses dan medan membangun jalan.

”Saya pertama kerja di Simalungun. Saat itu pembangunan irigasi. Dan kemudian di Papua. Di sana saya ikut serta bersama Kementerian PUPR membangun Jembatan Holtekamp dan pembukaan Jalan Trans Papua menuju Kabupaten Sarmi yang membelah bukit. Itu sangat berkesan bagi saya. Sebelum saya pindah ke Sumatera Utara," tuturnya.

Ingin Membangun Kota Kelahiran
Rasa cinta Asner pada kota kelahirannya memang tak bertepi. Meski tinggal di Papua yang terpaut jauh, Asner selalu menyempatkan kembali ke Pematangsiantar untuk mengenang masa kecil.

”Siantar ini sangat nyaman, kota toleran. Makanya walau saya tugas di Papua kalau ada waktu luang saya selalu pulang. Saya selalu rindu duduk di depan rumah ini dan mengenang masa kecil di Siantar. Itu selalu saya rindukan," sebutnya.

Sejak awal Asner mengaku tidak pernah berpikir untuk maju menjadi Wali Kota Pematangsiantar. Niat itu baru terbersit pada 2016, karena merasa terpanggil membangun kota kelahiran.

Dengan tagline membangun infrastruktur yang andal, Asner berkata kemampuan, pengalaman dan jaringan yang dimilikinya ingin dia pergunakan membawa Pematangsiantar pada perubahan yang lebih baik.

”Awalnya tidak ada niat. Sampai saya pulang dan melihat kemajuan Siantar yang stagnan. Kenapa saya bangun kota orang lain sementara kota kelahiran saya tak berjalan baik.

Saat itu saya mulai berpikir saya harus bekerja untuk Siantar," tutur ayah tiga anak itu. ”Siantar itu kota transisi, letaknya strategis, sejuk dan nyaman. Namun sekarang banyak bangunan mangkrak, macet, banjir. Ini ada yang keliru dan harus diperbaiki. Kita harus bekerja sama, karena pemimpin tidak dapat tidur jika masyarakatnya dalam masalah," ungkap Asner.

Bantah Borong Parpol Karena Uang
Tak main-main, Asner dan Susanti mendapat dukungan full dari delapan partai yang memiliki 30 kursi di DPRD. Atas hal itu Asner berpeluang menjadi kandidat tunggal di pilkada mendatang.

Asner mengatakan, keberhasilan mendapatkan rekomendasi dari delapan partai bukan karena besarnya finansial yang dimilikinya. Katanya, hal itu murni penilaian objektif partai. "Tidak benar karena itu. Uang, saya tidak banyak. Tidak mungkin dapat borong semua pakai uang.

Saya punya cara pendekatan, serius mengikuti tahapan, punya visi misi membangun Siantar. Partai melihat kandidat dengan objektif tentunya," terangnya.

Idolakan Risma
Ternyata Asner mengidolakan sosok Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sebagai inspirasinya. Asner yang menyelesaikan magister di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya terpukau atas penataan Kota Surabaya yang apik, dan menawan di tangan kader PDI Perjuangan itu.

”Saya terinspirasi dengan Bu Risma. Dia bisa bangun itu Surabaya rapi, tertata, dengan berbagai sarana di ruang publik. Saya ingin Siantar seperti itu juga," ungkapnya. Hal itu pula yang mendasari dirinya berpasangan dengan Susanti Dewayani.

Menurutnya, Susanti melengkapi langkah menyusuri pertarungan politik pada 9 Desember mendatang. "Makanya saya pilih wakil saya Bu Susanti, seorang perempuan yang memiliki naluri keibuan. Apalagi dia seorang dokter, mudah-mudahan jika diizinkan, kami akan fokus melakukan pencegahan Covid-19 di Siantar,” tuturnya. ***/Riau

Editor:
Akham Sophian

Kategori : Politik
wwwwww
www.amsi.or.id