Home > Berita > Umum

Puluhan Peluru Diduga Sisa Perang Melawan Belanda Ditemukan di Batang Pohon Kapuk yang Berusia Kira-Kira 100 Tahun

Puluhan Peluru Diduga Sisa Perang Melawan Belanda Ditemukan di Batang Pohon Kapuk yang Berusia Kira-Kira 100 Tahun

Butir peluru seukuran jari telunjuk orang dewasa yang ditemukan di Balige, Sumut/TRIBUNNEWS.com

Selasa, 04 Agustus 2020 10:31 WIB

BALIGE, POTRETNEWS.com — Warga sekitar Jalan DI Panjaitan, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Sumatera Utara (Sumut) dihebohkan penemuan puluhan butir peluru seukuran jari telunjuk orang dewasa.

Tota Manurung, warga Balige yang berdomisili di Jalan DI Panjaitan, mengatakan, peluru tersebut ditemukan di dalam pohon setelah penebangan pohon kapuk yang berusia kira-kira 100 tahun.

”Saat dilakukan penebangan oleh PUPR Balige berhubung pohon tersebut sudah membusuk, setelah dipotong didapati butiran peluru di dalam batang kayu tersebut," ujar Tota, yang juga Ketua Yayasan Pendidikan SMA Sopo Surung Balige, dilansir dari tribunnews.com.

Terkait penemuan peluru itu, Kasat Reskrim Polres Toba Nelson Sipahutar, mengaku belum mengetahuinya. Hingga saat ini, kata Nelson, belum ada laporan ke kantor polisi. Meski begitu, Nelson akan mengecek hal itu.

”Kami cek dululah, belum ada sampai ke polisi informasinya," ujar Nelson. Terlihat struktur peluru itu cukup panjang dengan ukuran sebesar jari telunjuk pria dewasa. Tampaknya, peluru itu sebagian hanya tinggal selongsongan dan tak aktif lagi.

Sedangkan lainnya masih ada yang tampak utuh dan bagian kepala peluru masih terbungkus rapi. Menurut Tota Manurung, daerah itu memang salah satu basis pertempuran ketika rakyat Toba melawan tentara Belanda.

Termasuk kantor SPM di sekitar Jalan DI Panjaitan masih merupakan peninggalan Belanda yang direbut tentara Indonesia pada zaman tersebut. Dengan ditemukannya peluru tersebut, kata Tota, ini sebagai bukti penguatan sejarah di Balige.

Karenanya, Tota berujar sebaiknya ini dijadikan momen untuk memperbaiki situs bersejarah, seperti rumah yang dibangun pemerintah Belanda di sekitar lokasi tersebut. ”Seharusnya ini dijadikan sebagai momentum perbaikan situs-situs bersejarah di sini,” pungkas Tota. ***/Riau

Editor:
Akham Sophian

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id