Anggota DPR RI Asal Riau Ini Marah Besar kepada Dirut Inalum, Gebrak Meja lalu Mengusirnya di Tengah Rapat, ”Kurang Ajar Anda…”
![]() |
Kolase M Nasir dan Dirut Inalum Orias Petrus Moedak/TRIBUNNEWS.com |
JAKARTA, POTRETNEWS.com — Rapat dengan pendapat (RDP) antara Komisi VII dengan lima BUMN tambang berlangsung panas. Adu mulut mengemuka saat membahas isu surat utang (bond) induk BUMN tambang, PT Inalum (Persero) atau MIND ID.
Direktur Utama Inalum, Orias Petrus Moedak berseteru dengan Anggota Komisi VII DPR dari Fraksi Demokrat, Muhammad Nasir. Debat keduanya berujung pada pengusiran Orias.Awalnya, Nasir meminta penjelasan dan data lebih detail mengenai strategi Inalum me-refinancing utang sebesar 2,1 miliar dolar AS. Refinancing berarti menarik utang baru untuk menutup utang-utang yang lama.Orias menjelaskan, keputusan refinancing untuk membayar utang lama Inalum yang akan jatuh tempo. Selain itu, utang baru juga untuk membiayai akuisisi 20 persen saham Vale Indonesia.Salah satu munculnya utang lama, kata Orias, karena Inalum membutuhkan dana waktu mengakuisisi PT Freeport Indonesia (PTFI). Sementara, Inalum baru akan mendapatkan dividen dari PTFI mulai tahun depan.Siapa Muhammad Nasir? Dikutip dari Kompas.com, Nasir melenggang ke Senayan setelah sukses meraup cukup suara dari Dapil Riau II yang meliputi Kabupaten Kampar, Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi dan Pelalawan.Di DPR, Nasir duduk di Komisi VII yang membidangi sektor energi dan sumber daya mineral, riset dan teknologi, serta lingkungan hidup.Nasir merupakan merupakan kakak kandung dari Muhammad Nazarudin, Bendahara Partai Demokrat yang jadi terpidana kasus korupsi Wisma Atlet Hambalang yang melibatkan perusahaannya, PT Anugerah Nusantara yang merupakan anak usaha dari Grup Permai. Karier Nasir sebagai politikus terbilang sukses.Dia terpilih sebagai anggota DPR sebanyak tiga kali, setelah duduk di kursi DPR periode 2009-2014, Nasir terpilih kembali menjadi Anggota DPR periode 2014-2019 setelah memperoleh 48.906 suara.Nasir adalah seorang pengusaha dan aktif di asosiasi industri perkebunan dan peternakan. Pada periode 2009-2014, Nasir duduk di Komisi IX yang membidangi kesehatan, tenaga kerja dan kependudukan.Pada masa kerja 2014-2019 Nasir bertugas di Komisi VII yang membidangi energi sumber daya energi dan lingkungan hidup. Dan kini, dia kembali membidangi Komisi VII di periode 2019-2024.Nasir bergabung menjadi kader Demokrat di 2004 dan dipercaya untuk menjabat sebagai Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Demokrat Provinsi Riau (2004-2009). Di 2009 Nasir dipercaya untuk memimpin Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi DPP Partai Demokrat (2009-2012).Di laman DPR, Nasir sempat mengenyam pendidikan di SMA PKBM Pemnas Medan pada tahun 2007. Dilansir dari Harian Kompas, 25 Juni 2019, pada 4 Mei 2019, ruang kerja Nasir di DPR digeledah KPK. Namun, tidak ada barang yang disita.Saat itu, penggeledahan ruang kerja Nasir dilakukan untuk memeriksa informasi terkait dugaan gratifikasi yang diterima Bowo Sidik Pangarso, mantan anggota DPR yang terkait gratifikasi di Kementerian Perdagangan.Sebab, uang Rp 8 miliar yang disita saat Bowo ditangkap sebagian merupakan gratifikasi dari sejumlah pihak. ”KPK melakukan penggeledahan sebagai bagian dari proses verifikasi terkait informasi dugaan sumber dana gratifikasi yang diterima BSP (Bowo Sidik Pangarso). Diduga pemberian kepada BSP itu terkait pengurusan dana alokasi khusus. Tetapi, KPK tak melakukan penyitaan dari ruangan M. Nasir karena tak menemukan bukti relevan dengan pokok perkara,” ujar Juru Bicara KPK Febri Diansyah di Gedung KPK Jakarta, Sabtu (4/5/2019). ***Editor:
Akham Sophian

























