Home > Berita > Umum

Dikarantina di Rumah Hantu, 3 Pemudik Ampun-Ampun Menangis Ketakutan, padahal Baru Beberapa Hari Dijalani

Dikarantina di Rumah Hantu, 3 Pemudik Ampun-Ampun Menangis Ketakutan, padahal Baru Beberapa Hari Dijalani

Gambar hanya ilustrasi. (INTERNET)

Senin, 27 April 2020 12:35 WIB

SRAGEN, POTRETNEWS.com — Pemudik yang nekat melanggar larangan pemerintah agar tak bepergian ke kampong halaman demi mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), kena batunya.

Tiga orang pemudik yang baru tiba di Desa Sepat, Kecamatan Masaran, Sragen, Jawa Tengah, tidak tahan saat menjalani karantina di rumah ”hantu” di desa setempat.

Alasannya, ketika menjalani karantina di rumah tersebut mereka seringkali diganggu dengan makhluk tak kasat mata. "Dua hari mereka nangis-nangis terus. Tiap malam katanya didatangi dan dibayang-bayangi hantu di rumah hantu," kata Kepala Desa Sepat, Mulyono, Sabtu (25/4/2020), dilansir dari kompas.com.

Karena tidak tega dengan kondisi anaknya itu, bahkan orang tua mereka meminta agar anaknya kembali diberi kesempatan agar dapat melakukan karantina mandiri di rumah masing-masing.

Ketiga pemudik tersebut akhirnya diizinkan pulang untuk menjalani karantina mandiri di rumah masing-masing setelah ada komitmen untuk melakukan pengawasan dari orangtua mereka. "Orang tuanya setuju untuk membantu dan mengawasi anaknya karantina mandiri di rumah akhirnya kita lepaskan dari rumah hantu," ujar dia.

Mulyono mengatakan, ketiga pemudik yang menjalani karantina mandiri di rumah hantu tersebut masing-masing diketahui baru pulang dari Jakarta, Lampung, dan Kalimantan.

Sebelumnya, mereka sudah diminta menjalani karantina mandiri di rumah. Namun karena tidak tertib, mereka akhirnya dijemput paksa tim Satgas Covid-19 Desa Sepat untuk menjalani karantina di rumah hantu tersebut.

Rumah hantu, dijelaskan Mulyono, sengaja disiapkan pemerintah desa dan tim Satgas Covid-19 Desa Sepat bagi para pemudik yang tidak tertib menjalani karantina mandiri di rumah.

Rumah hantu yang disediakan untuk karantina bagi pemudik bandel tersebut memanfaatkan bangunan bekas gudang tas. Gudang tas ini sudah sekitar 10 tahun dibiarkan kosong.

”Niat kita membuat rumah hantu ini adalah untuk karantina bagi pemudik yang bandel menjalani karantina mandiri di rumah," ungkap dia.

Karena itu ia berharap, dengan upaya yang dilakukan tersebut dapat meningkatkan kepatuhan warganya saat melakukan karantina mandiri di rumah, khususnya bagi mereka yang baru tiba dari luar daerah. ***

Editor:
Akham Sophian

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id