BRG Dinilai Gagal Restorasi Gambut karena Kebakaran Hutan dan Lahan Masih Terjadi
![]() |
Asap mengepul dari kebakaran lahan gambut di kawasan penyangga Cagar Biosfer Giam Siakkecil-Bukitbatu, Provinsi Riau, Selasa (1/4). (ILUSTRASI/ANTARA) |
Sabtu, 31 Agustus 2019 12:41 WIB
JAKARTA, POTRETNEWS.com - Sejumlah Organisasi Masyarakat Sipil yang tergabung dalam Koalisi Eye on the Forest (EoF) menilai Badan Restorasi Gambut (BRG) gagal melakukan restorasi gambut sehingga kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih kerap terjadi.
”Kita melihat secara luas restorasi ini , capaian restorasi yang dikoordinasi oleh BRG masih sangat rendah di lapangan yang sudah direstorasi baru 8 persen dari target, padahal sudah tahun ke-4,” ujar Deputi Koordinator Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Okto Yugo, dalam konferensi pers di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (30/8/2019).Jika merujuk Peraturan Presiden (Perpres) nlNomor 1 tahun 2016 tentang BRG, di tahun pertama BRG seharusnya mampu merestorasi lahan gambut seluas 30% dan mencapai 70%-90% di tahun keempat.Akibat restorasi optimal, Okto menyebut karhutla belakangan terjadi di Riau yang mengakibatkan sekitar 22.000 orang terkena infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). ”35 ribu hektar kembali terbakar, dampak dari restorasi gambut yang tidak dilakukan dengan serius dan banyak melanggar aturan, dan tidak sesuai dengan semangat di tahun 2015," tegas Okto.Sejauh ini, penanganan karhutla oleh pemerintah masih mengandalkan konteks pemadaman di lapangan. Yakni, dalam upaya pemadaman membutuhkan air yang banyak di lahan gambut, sementara air tidak tersedia. ”Jadi kemarin asap hilang bukan karena penanganan kebakaran, tapi karena adanya hujan,” tandas Okto.Akham Sophian






















