PotretNews.com Selasa 21 Agustus 2018

Ini Kata Pimpinan Panti Asuhan Tunas Bangsa Tenayanraya Pekanbaru Terkait Tewasnya Balita 18 Bulan Diduga Korban Penganiayaan

Ini Kata Pimpinan Panti Asuhan Tunas Bangsa Tenayanraya Pekanbaru Terkait Tewasnya Balita 18 Bulan Diduga Korban Penganiayaan

Idang saat ditemui di Panti Asuhan Tunas Bangsa, Tenayanraya, Pekanbaru, Kamis siang.

Kamis, 26 Januari 2017 20:47 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Terkait adanya dugaan penganiayaan hingga menyebabkan tewasnya balita laki-laki berusia 18 bulan bernama M Zikli yang dititipkan di Panti Asuhan Yayasan Tunas Bangsa, Pekanbaru, Riau, terus diselidiki pihak Polresta Pekanbaru.

BERITA TERKAIT:

. Dititip di Panti Asuhan Tunas Bangsa Pekanbaru, Balita 18 Bulan Tinggal Nama Diduga Jadi Korban Penganiayaan

Ads
. Memprihatinkan... Begini Kondisi Panti Asuhan Tunas Bangsa Pekanbaru Tempat Bayi 18 Bulan Tewas secara Tak Wajar

Sementara itu, pihak panti asuhan membantah jika anak asuhnya itu mengalami penganiayaan selama berada di Panti Asuhan Yayasan Tunas Bangsa. "Tidak ada kami di sini menganiaya, apalagi sampai meninggal. Di sini ada 12 anak," kata Idang (50), dilansir potretnews.com dari GoRiau.com.

Idang yang ditemui Kamis (26/1/2017) siang, menuturkan, jika anak asuhnya itu (korban) baru beberapa bulan dititipkan di panti asuhan yang dikelolanya itu.

"Belum sampai setahun dia (korban) di sini. Kami tidak mungkin seperti itu (menganiaya), banyak anak-anak di sini. Kalau memang seperti itu, semua anak-anak ini pasti seperti itu juga," tuturnya.

Menurut Idang, balita tersebut (korban), kata dokter, menderita sakit leukemia (kanker darah). ”Ibu kandungnya juga bilang, sebelum dititipkan di sini, kalau anaknya itu sering muntah-muntah dan mencret," bebernya menceritakan.

Sebelum meninggal dunia di rumah sakit, tutur Idang, balita malang itu sempat menjalani perawatan medis selama beberapa hari. "Sudah empat hari Dia sakit, sebelum meninggal," sebutnya.

Dia menyebut, orang tua kandung korban tidak mempermasalahkan kejadian itu. "Malah, keluarganya itu segera memandikan dan menguburkannya. Tapi, setelah beberapa hari dimakamkan, kenapa baru ada laporan ke polisi?," imbuhnya.

"Kalau memang ada apa-apanya, mengapa tidak langsung laporkan waktu itu juga. Orang tuanya tidak apa-apa, pamannya saja yang mempermasalahkan," timpal Idang.

Terkait dengan dugaan penganiayaan yang dialami korban, Idang pun bersikukuh jika selama berada di panti asuhan, korban tak pernah mendapat perlakuan kasar, terlebih penganiayaan.

"Kami tidak ada seperti itu, anak-anak di sini, semua diperlakukan baik. Kemaluannya itu, karena iritasi pakai pampers. Anak-anak di sini semua pakai pampers," ujarnya sembari menunjukkan salah seorang balita yang mengenakan pampers.

"Kalau telinga, punggung dan lainnya itu, tidak ada kami melakukan aniaya. Kalau iya kami seperti itu, sudah semua anak-anak di sini meninggal," ujarnya. ***

Editor:
Farid Mansyur

Kategori : Pekanbaru, Umum, Peristiwa
Tour de Siak 2018
wwwwww