PotretNews.com Sabtu 25 Februari 2017
Home >  Berita >  Dumai

Mengenal Lebih Dekat Zulkifli As, Wali Kota Dumai yang Dulunya adalah Penjual Rokok dari Luar Pagar PT Pertamina

Mengenal Lebih Dekat Zulkifli As, Wali Kota Dumai yang Dulunya adalah Penjual Rokok dari Luar Pagar PT Pertamina

Zulkifli As.

Minggu, 01 Januari 2017 10:26 WIB
KEHIDUPAN di kampung mengajarkannya untuk mandiri, kuat dan tidak takut akan segala rintangan hidup. Dengan kehidupan yang mandiri pula, mengantarkan Drs H Zulkifli AS kini menjadi Wali Kota Dumai Provinsi Riau periode 2016-2021.Masa kecil Zulkifli AS yang akrab dengan sapaan Zul As ini sama saja dengan anak-anak sebayanya, yang suka bermain galah panjang, dan permainan ”kampong” lainnya. Meski begitu, sejak sekolah dasar, dia juga sudah mahir menoreh pohon getah.

”Waktu saya duduk di kelas empat SD hingga tamat SMP, saya sudah biasa membantu ibu menyadap getah. Bermain bersama kawan-kawan juga dibolehkan, tapi tugas membantu ibu tetap tidak pernah dilupakan,” kenang Zul AS saat memulai perbincangan.

Zul AS lahir di Sungai Pakning, Bengkalis, Riau, 12 September 1954 dari pasangan Adnan Singka (ayah) dan ibu Mahani. Ayahnya merupakan pedagang kain merangkap Imam Mesjid Sei Pakning. Sementara ibunya selain sebagai ibu rumah tangga, bertani juga sebagai guru ngaji.

Ads
”Kalau membantu ibu menyadap karet memang sudah tugas kami. Tapi selain itu, saya juga bekerja untuk melatih diri mandiri. Jadi waktu kelas dua SMP, saya jualan rokok dari balik pagar PT Pertamina Sei Pakning. Alhamdulillah bisa untuk biaya sekolah dan bantu-bantu orang tua,” ingat Zul As mengenang masa kecilnya di kampung Sei Pakning yang merupakan salah satu daerah penghasil minyak.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/02012017/potretnewscom_rhzdt_746.jpg
Zulkifli As saat masih menjadi mahasiswa APDN saat ini IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).

Zul As menamatkan pendidikan sekolah dasarnya di SDN 1 Sei Pakning dan SMP nya juga di Sei Pakning. Namun begitu beranjak remaja, pria 14 bersaudara (6 diantara meninggal di masa kecil) memilih pendidikan SMA-nya di Pulau Jawa.

Merantau jauh dari kedua orangtuannya adalah pengalaman pertama bagi Zul As, tetapi pesan ayahnya menjadi inspirasi baginya untuk bisa berhasil saat mengeyam pendidikan SMA PGRI Bogor tahun 1984-1986 kala itu.

"Pesan ayah itu yang selalu saya ingat, ia ingin anaknya sekolah dengan baik. Bahkan ayah juga tak pernah melarang meski anak-anaknya harus belajar ke Eropa atau Arab Saudi kala itu," kata anak yang sangat ingin membanggakan sang ayah yang dulunya seorang pedagang kain dan imam besar di Masjid Sei Pakning.

Bermodalkan keberanian dan pesan sang ayah, ia mantapkan hatinya belajar ke tanah Jawa dan tinggal bersama dua abangnya di Satuan Brimob Polri dan TNI.

Bukan berarti bisa bermanja-manja dengan abangnya, Zul As kembali menerapkan hidup disiplin yang dijalaninya selama ini di kampung kelahirannya saat tinggal bersama ayah dan ibunya. Contohnya saja, untuk sampai ke sekolah, Zul As berani mengambil risiko untuk menghemat uang belanja hariannya.

Setiap pagi saat mau berangkat ke sekolah, truk yang singgah mengisi bahan bakar di SPBU menjadi incarannya. Mulai dari truk terbuka hingga truk tangki juga dipanjatnya dan ia pun bergantung pada bagian belakang truk hingga sampai ke sekolah.

"Mau ke sekolah itu dulu numpang-numpang dengan truk dari POM bensin. Saya panjat truk itu bersama kawan-kawan lainnya dan saat turunpun dari truk juga dengan resiko yang tinggi. Dimana truk tidak berhenti dan kami harus meloncat dari truk ketika sudah mendekati sekolah," kenangnya dengan masa-masa sekolahnya dulu.

Meskipun berisiko tinggi, apa yang ia lakukan saat menumpang truk itu dilakukan dengan penuh kesenangan. Ditambah lagi, saat SMA ia suka memakai sepatu tentara, karena lebih keren dari sepatu sekolah pelajar SMA saat itu.

"Pulang sekolah, saya juga menumpang truk lagi untuk bisa sampai ke rumah. Turunnya begitu juga, dengan melompat. Karena sudah terbiasa, tidak canggung lagi, meskipun awalnya takut-takut juga," ingatnya.

Menariknya lagi dari pengalaman orang nomor 1 di Kota Dumai ini, ia bisa pulang ke kampung kelahirannya atau dari Bogor ke Sei Pakning tanpa sepeser rupiah pun. Dan perjalanan itu juga dinikmatinya, walaupun masih menjadi pengalaman pertama bepergian tanpa uang.

"Saya itu dulu kangen dengan orang tua, libur kenaikan kelas saya putuskan untuk pulang kampung tanpa memegang uang sedikit pun. Saat itu 1985, dari Bogor ke Pelabuhan Sunda Kelapa di Jakarta menumpang dengan truk, sampai di sana saya pergi ke pos pelabuhan yang dijaga Brimob dan saya tunjukkan surat Brimob. Akhirnya saya diperbolehkan menumpang dengan gratis, beruntung makanpun saya di kasih oleh pihak kapal," ulasnya lagi.

https://www.potretnews.com/assets/imgbank/02012017/potretnewscom_bdy5x_747.jpg
Zulkifli As dilantik sebagai Wali Kota Dumai oleh Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman.

Setelah menunggu kapal selama empat hari di pos Brimob, cerita Zul As lagi, ia dititipkan pada kapal barang dengan tujuan Selatpanjang (saat ini Kabupaten Kepulauan Meranti). Perjalanan yang ditempuhnya pun selama empat hari empat malam. Di kapal itu, ia pun makan enak dan gratis.

"Setelah tiba di Selatpanjang, saya mencari rumah keluarga yang bekerja di Bea Cukai dan ditahan sama keluarga di sana selama 4 hari, alasannya tidak ada kapal. Padahal ada setiap hari kapal dari Selatpanjang ke Sungai Pakning. Entah apa alasannya tidak memberikan tumpangan ke Pakning. Akhirnya setelah 12 hari perjalanan, saya sampai di rumah," kata Zul AS yang semakin kuat dan tabah dalam menghadapi perjalanan hidup.

ASN dan Politik
Suami dari Hj Haslinar ini juga memiliki pengalaman yang banyak pada karirnya. Diawalinya bekerja sebagai pegawai honor di kantor Pajak Daerah Bogor di Cimanggis, Jawa Barat, dekat jalan tol. Setelah empat tahun di sana, ia melanjutkan pendidikan ke Akademi Pemerintah Dalam Negeri (APDN).

"Setelah empat tahun di APDN dan lulus, saya tugas pertama kali di Sungai Apit setahun, sekarang Kabupaten Siak Sri Indrapura. Setelah itu saya ikut tes tahun 1987 dan lulus di UGM (Universitas Gajah Mada) tahun 1989. Setelah lulus strata 2, saya memilih Dumai untuk tugas selanjutnya," terangnya.

Perjalanan karirnya berlanjut ke Kota yang sekarang dipimpin olehnya. Saat itu ia diposisikan sebagai staf di Bagian Pemerintahan, saat itu pemerintahan di Dumai Kota Administratif (Kotif). Banyak pelajaran berharga yang bisa diambilnya hingga ia dipercaya menjabat Kasi Kebersihan dan ikut bersama petugas kebersihan menyapu jalan di Kota Dumai ini.

”Saya ikut juga menyapu jalan, bersama petugas lainnya. Singkat cerita 1996, saya menjabat Asisten Kotif Dumai, setingkat Sekda saat ini. Karena esselon saya tidak cukup, setelah menjadi Kota Dumai, saya menjadi Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil)," ulasnya.

Pria yang memiliki hobi membaca ini ternyata juga pernah menjabat sebagai Camat Dumai Barat. Lalu dengan dukungan teman-temannya, ia mencalonkan diri sebagai Wali Kota Dumai tahun 2005 dan berhasil memenangkannya, sampai tahun 2010.

Merasa belum maksimal membangun Kota Dumai sesuai dengan visi misinya dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM) di Dumai, ia kembali terpanggil untuk mengikuti pemilihan kepala daerah (pilkada) tahun 2010, sayangnya, keberuntungan tidak memihak pada lelaki berkacamata ini.

Pria yang pernah menjabat Ketua DPW Partai Demokrat Provinsi Riau ini tidak pernah berhenti untuk berusaha mewujudkan visi misinya yang belum tuntas. Hingga akhirnya pada Pilkada tahun 2015 lalu, ia kembali mendaftarkan diri sebagai salah satu Calon Wali Kota Dumai dengan membawa Partai Nasdem (Nasional Demokrat).

"Allah mendengar doa-doa saya, program saya pada kepemimpinan sebagai wali kota periode yang lama belum terealisasi keseluruhannya. Dipercaya dan diberikan kesempatan menjadi Wali Kota Dumai periode 2016-2021 ini, saya harus bisa meningkatkan SDM di Dumai ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Bagusnya SDM di Dumai ini otomatis akan membuat kemajuan dalam segala aspek," kata Zul As.

Harapannya untuk Kota Dumai
Terpilih kembali memimpin Kota Dumai yang merupakan kota industri ini, Zul As juga ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakatnya. Amanah yang diberikan oleh masyarakat ini adalah tugas dan tanggung jawab yang harus diselesaikannya. Meningkatkan SDM Kota Dumai salah satu visi misi utamanya, meski membangun SDM bukan hal yang mudah dan paling tidak disukai kebanyakan pimpinan daerah.

"Saya ingin membangun SDM masyarakat Dumai, sehingga menjadi lebih baik. Karena Dumai tidak memiliki SDA (sumber daya alam), untuk itu perlu dibangun SDM. Inginnya saya masyarakat menuntut saya bagaimana membangun moral masyarakat yang baik dan bagus. Dengan SDM yang bagus otomatis pembangunan juga bagus," ungkapnya yang sejak kecil selalu mendapatkan pengetahuan tentang nilai keagamaan dari sang ayah.

Selain itu, ia pun ingin merealisasikan air bersih untuk masyarakat Kota Dumai. Dengan air bersih, secara tidak langsung akan membawa kesejahteraan kepada masyarakat yang selama ini membeli air bersih dengan harga yang cukup menguras kantong.

"Air bersih, hati bersih, insyallah Kota Dumai akan jadi lebih baik dimasa yang akan datang. Sehingga Dumai menjadi pintu gerbang investasi industri yang bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat," urainya yang juga memiliki hobi membaca buku agama, ilmu pemerintahan serta olahraga maraton.

	https://www.potretnews.com/assets/imgbank/02012017/potretnewscom_wzpk4_748.jpg
Wali Kota Dumai Zulkifli As dan istri, Hj Haslinar.

Kisah Asmara Berawal dari di Kantin Unri
Menikah dengan Hj Haslinar yang kala itu Mahasiswi Universitas Riau (Unri) Gobah jurusan Apoteker, Zul As juga punya cerita indah. Tidak mudah mendapatkan hati perempuan yang kala itu hanya teman yang selalu bertemu di kantin Unri Gobah, Pekanbaru.

Dari teman, akhirnya Zul AS pun jatuh cinta pada Haslinar hingga ia berani mempersunting Haslinar pada tahun 1986, saat dirinya melaksanakan pendidikan tingkat akhir APDN saat ini IPDN (Institut Pemerintahan Dalam Negeri).

	https://www.potretnews.com/assets/imgbank/02012017/potretnewscom_vsuec_749.jpg
Wali Kota Dumai Zulkifli As bersama keluarga.

"Sempat berjauhan karena saya harus melanjutkan pendidikan di APDN, tapi akhirnya jodoh membuat kami menjadi pasangan suami istri. Tinggal di rumah mertua di Pekanbaru. Anak pertama saya Sadeq Mutaqqin lahir di Petala Bumi, Pekanbaru. Anak kedua Nanda Oktavia dan anak ketiga Zaslin Anisa. Sebenarnya anak ketiga kembar, namun meninggal satu di kandungan," ujarnya. ***

Editor:
Farid Mansyur

Sumber:
GoRiau.com

Kategori : Dumai, Umum, Peristiwa
www www