Home > Berita > Umum
Cerita Pilu Trisno, Si Anak Yatim yang Tinggal di Kota Penghasil Minyak, Duri-Bengkalis

Ditinggal Pergi Ibu yang Lebih Memilih Suami Baru, Setiap Hari Hanya Makan Jambu

Ditinggal Pergi Ibu yang Lebih Memilih Suami Baru, Setiap Hari Hanya Makan Jambu

Trisno (2 dari kiri) foto bersama dua adiknya didampingi pemuka masyarakat, Candra Parker (paling kanan) menuturkan kisah sedih mereka di Duri, Minggu (17/1/2016) siang.

Senin, 18 Januari 2016 14:50 WIB
DURI, POTRETNEWS.com - Masih ada anak-anak yatim yang kesulitan untuk mendapatkan sesuap nasi di kota penghasil minyak, Duri. Meski sulit dipercaya, kenyataan itulah yang dialami Trisno (18) dan saudara-saudaranya hampir setiap hari.Cerita sedih itu berawal ketika yatim lima bersaudara ini ditinggal pergi oleh ibunya yang mengikut suami barunya ke Tanjungbalai Karimun sejak sekira dua tahun silam.

“Satu hari kadang kami hanya bisa makan satu kali saja. Sering pula kami tak makan sama sekali. Karena tak ada uang jajan dan sekolah sampai jam empat sore, saya sering makan jambu air di sekolah. Kalau ada kawan yang bawa bekal nasi ke sekolah, saya bisa nebeng sekali-sekali. Terus-terusan tak mungkinlah,” ujar Trisno dengan mata berkaca-kaca. Sesekali air matanya meleleh di pipi.

Didampingi dua adiknya, Ramadhan (15) yang putus sekolah gara-gara tak ada biaya dan Diana (13) kelas VI SD yang ingin menjadi dokter, siswa kelas XI jurusan listrik SMKN 1 Mandau ini menuturkan kisah sedihnya di kediaman pemuka masyarakat, Candra Parker, di BTN Gaya Baru Kelurahan Duri Timur, Minggu (17/1/2016) siang.

“Ayah kami sudah lama meninggal. Kala itu, saya baru kelas dua SD. Sekitar dua tahun lewat, kala itu saya baru saja masuk SMK, ibu kami pergi ke Tanjungbalai Karimun mengikuti suami beliau,” katanya.

Waktu ibu mereka ada, Trisno dan saudara-saudaranya tinggal di rumah peninggalan mendiang ayah mereka di Jalan Gaya Baru Ujung RT 4 RW 6 Duri Timur tak semenderita ini. “Sejak ibu pergi ke Tanjungbalai, kami sering lapar. Dulu sewaktu di SMP, saya masih bisa jadi tukang parkir di pasar Duri untuk membantu keluarga. Sekarang tak bisa lagi karena sekolah sampai sore,” ucap Trisno sembari mengaku akan terus sekolah dan bercita-cita menjadi polisi.

Menurut Trisno, dua abang mereka hanya kerja serabutan. Kadang dapat uang kadang tidak sehingga belum bisa diharapkan jadi penopang hidup keluarga. Adik bungsunya, Diana, menumpang di tempat mak tuo mereka yang jualan sate. Sementara Trisno dan tiga saudara lelakinya berupaya cari makan sendiri-sendiri.

“Menjelang masuk SMK, saya pernah nganggur setahun. Saya ikut abang jadi kuli bangunan. Sangat berat. Akhirnya saya memutuskan untuk terus bersekolah. Berkat bantuan Pak RT, biaya sekolah saya dibantu Pak Afriadi, guru di SKMN 1 yang tinggal di BTN sini,” ujar Trisno. ***

(Akham Sophian)
Kategori : Umum, Bengkalis
Sumber:Riaupos.co
wwwwww