PotretNews.com Rabu 19 September 2018

Siapa Sebenarnya Pendiri Kota Pekanbaru, Marhum Pekan atau Panglima Gimbam?

Siapa Sebenarnya Pendiri Kota Pekanbaru, Marhum Pekan atau Panglima Gimbam?

Makam Marhum Pekan yang berada di sekitar kompleks Mesjid Raya Pekanbaru.

Minggu, 15 November 2015 06:26 WIB
PEKANBARU, POTRETNEWS.com - Untuk dapat menjawab pertanyaan di atas, tentunya kita harus mengetahui sejarah Kota Pekanbaru. Pekanbaru merupakan Ibu Kota Provinsi, Riau, yang saat ini menjadi salah satu kota selain Makassar yang diusulkan menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.Pada masa dahulu Pekanbaru hanya sebuah dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi muara Sungai Siak. Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, Raja Siak Sri Indrapura yang keempat, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, bergelar Tengku Alam (1766-1780 M), menetap di Senapelan, yang kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan (di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru sekarang).

Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pekan (pasar) di Senapelan, tetapi pekan itu tidak berkembang. Usaha yang telah dirintisnya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu di sekitar pelabuhan sekarang.

Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M., berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Limapuluh, Tanahdatar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru.

Ads
Mulai saat itu pula, sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu. Sejalan dengan perkembangannya, kini Pekan Baharu lebih populer disebut dengan sebutan Kota Pekanbaru, dan oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Riau.

Setelah Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan, pembesar-pembesar kerajaan serta orang-orang dalam kerajaan serta keluarganya ikut pindah ke Senapelan. Dan pada saat itulah tradisi serta budaya, bahasa sehari-hari terbawa pindah ke Senapelan.

Di Senapelan, sultan membangun istana (istana tersebut tidak terlihat lagi karena terbuat dari kayu). Sultan juga membangun mesjid, mesjid tersebut berukuran kecil, terbuat dari kayu, makanya mesjid tersebut tidak bisa kita lihat lagi sekarang ini. Dari dasar masjid inilah menjadi cikal bakal Mesjid Raya Pekanbaru di Pasar Bawah sekarang ini. Dan di sekitar mesjid ini dapat kita temui Makam Marhum Pekan.

Kemudian siapa pula Panglima Gimbam ?

Dibanyak media online dan buku Cerita Rakyat Nusantara di ceritakan sebagai berikut:

Panglima Gimbam erat kaitannya dengan Kerajaan Gasib yang berada di Siak. Namun, keberadaan Kerajaan Gasib hingga kini masih misteri. Tapi, banyak bukti ilmiah dan misteri selalu terungkap di wilayah Sungai Gasib (anak sungai Siak) tersebut.

Bahkan, cerita rakyat atau bisa disebut legenda ini terus bergulir hingga ke anak cucu. Bahkan bukti nyata atas cerita ini bahkan terus berkembang di masyarakat. Banyak cerita mistik sebelum Makam Putri Kaca Mayang ditemukan.

Malah, jika salah cakap dan kata-kata, ada juga warga sekitarnya, harus berputar-putar di sekitar hutan, namun akhirnya dia kembali juga pulang ke rumah. Sementara harum semerbak wangi di makam putri tersebut sudah lama disampaikan oleh orang tua-tua dahulu.

Bukti nyata, setelah hasil kajian mistik dan ilmiah, mengapa makam tersebut wangi, karena memang di sekitar Makam Putri Kaca Mayang terletak di kawasan hutan dengan berjejer jenis pohon Seminai. Nah, pohon inilah yang mengeluarkan harum semerbak wangi tersebut. Ini juga diperkuat dengan cerita nenek moyang dulu.

Malah, ada juga penduduk setempat pernah melihat bentuk Kerajaan Gasib sebenarnya. Katanya, Kerajaan Gasib itu terlihat dari kayu yang kuat dan besar. Di depan gerbang pagar tersusun kayu besar sebagai batas kerajaan yang di dalamnya juga terdapat pemukiman penduduk. Bangunan kerajaan yang yakini terbuat dari kayu pilihan itu, berbentuk panggung dengan tangga pintu masuk kerajaan sangat besar.

Tingginya diperkiraan mencapai lebih dari enam meter. Kerajaan Gasib mempunyai putri yang sangat cantik yang bernama Putri Kaca Mayang dan maka putri tersebut telah ditemukan oleh masyarakat, namun hingga kini, mengapa Kerajaan Gasib masih misteri?

Terakhir, kini ditemukan sebuah mahkota Putri Kaca Mayang Putri Raja Kerajaan Gasib, dan mahkota tersebut dipublikasikan melalui media youtube.

Kesaktian kekuatan Panglima Gimbam ini tidak diragukan lagi. Ia mampu pergi sendiri mengambil Putri Raja Putri Kaca Mayang yang diculik oleh Kerajaan Aceh. Atas perintah Raja Gasib, Panglima Gimbam mengerahkan kekuatan dan kesaktiannya melawan pasukan kerajaan Aceh.

Perseteruan antara Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Gasib sudah lama terdengar. Bahkan dalam sejarah pun telah menulisnya. Begitu pula referensi di Belanda.

Pertikaian kerajaan Aceh dengan Kerajaan Gasib dimulai ketika ekspansi Kerajaan Aceh di Riau. Sementara kerajaan Gasib saat itu masih memegang aliran kepercayaan, animisme dan dinamisme. Islam mulai masuk, namun hal ini juga didukung dengan terkenalnya kecantikan Putri Kaca Mayang saat itu.

Sementara Kota Pekanbaru saat itu belum terbentuk, begitu pula Kerajaan Siak Sri Indrapura. Hingga akhirnya Putri Kaca Mayang diculik oleh Kerajaan Aceh dan dibawa ke Aceh, kemudian Panglima Gimbam menyerang Kerajaan Aceh dan ia memboyong kembali Putri Kaca Mayang dengan mengangkat hanya sebelah tangannya dari Aceh ke Kualagasib.

Namun sayang, nyawa putri tidak tertolong lagi. Putri Kaca Mayang akhirnya wafat. Sejak kehilangan putrinya, Raja Gasib sangat sedih dan kesepian. Semakin hari kesedihan Raja Gasib semakin dalam.

Untuk menghilangkan bayangan putri yang amat dicintainya itu, Raja Gasib memutuskan untuk meninggalkan istana dan menyepi ke Gunung Ledang, Malaka.

Untuk sementara waktu, pemerintahan Kerajaan Gasib dipegang oleh Panglima Gimbam. Namun, tak berapa lama, Panglima Gimbam pun berniat untuk meninggalkan kerajaan itu. Sifatnya yang setia, membuat Panglima Gimbam tidak ingin menikmati kesenangan di atas kesedihan dan penderitaan orang lain.

Panglima Gimbam berangkat meninggalkan Gasib dan membuka sebuah perkampungan baru, yang dinamakan Pekanbaru. Hingga kini, nama itu dipakai untuk menyebut nama Ibu Kota Provinsi Riau yaitu Kota Pekanbaru.

Sementara, Makam Panglima Gimbam masih dapat kita saksikan di hulu Sail, sekira 20 km dari kota Pekanbaru. Itu adalah sedikit cerita mengenai Kerajaan Gasib dan Panglima Gimbam yang beredar di media online, bahkan juga ada buku cerita rakyat yang mengulas kisah tersebut.

Namun kita masih memerlukan bukti ilmiah dan penelitian untuk membuktikan Kerajaan Gasib dan Panglima Gimbam. Kini nama Panglima Gimbam diabadikan menjadi nama Gedung DPRD Kabupaten Siak dan di Kota Siak persis di depan Gedung LAM terdapat sebuah jalan yang bernam Jalan Panglima Gimbam.

Kemudian, sejarah Pekanbaru sebenarnya yang mana, apakah versi Marhum Pekan atau versi Panglima Gimban ?

Sejatinya Pemerintah Kota Pekanbaru meyakini dan membenarkan sejarah Kota Pekanbaru, adalah versi Marhum Pekan. Di beberapa literatur Kota Pekanbaru sejarah Kota Pekanbaru disebutkan diawali dari Marhum Pekan dan Senapelan, bahkan tiap tahunnya Pemerintah Kota Pekanbaru menggelar ivet Petang Megang, tepat sehari sebelum ibadah Ramadan.

Bahkan Wali Kota Pekanbaru berziarah dan berdoa di Kompleks Makam Pendiri Kota Pekanbaru yang berada di sekitar kompleks Mesjid Raya Pekanbaru.

Lantas kenapa Pemerintah Kota Pekanbaru, berdiam diri saja membiarkan berita dan publikasi sejarah Kota Pekanbaru yang berkaitan dengan Panglima Gimbam. Bahkan penulis juga menemukan Buku Cerita rakyat mengenai Panglima Gimbam dan sejarah Kota Pekanbaru.

Harusnya Pemerintah Kota Pekanbaru, tidak tinggal diam dan berinisiatif untuk meluruskan sejarah ini, agar tidak terjadi salah tafsir dan salah pengertian bagi anak cucu generasi Pekanbaru mendatang.

Melihat kenyataan diatas, sekelompok anak muda yang kreatif dan energik yang tergabung dalam Komunitas Blogger Bertuah Pekanbaru, berinisiatif untuk melakukan penggalian sejarah mengenai Kerajaan Gasib. Seperti apa hasil kajian dari Blogger Bertuah tersebut? Kita tunggu bersama-sama hasil liputan mereka. ***

Editor:
Akham Sophian

Sumber:
https://www.riaudailyphoto.com/2013/10/siapa-pendiri-kota-pekanbaru-sebenarnya.html

Kategori : Potret Riau
Tour de Siak 2018
wwwwww