Karhutla 2026 Lebih Parah dari 2019: Hampir 15 Ribu Hektare Lahan Konsesi Perkebunan Sawit Bersertifikat RSPO Ikut Terdampak

Rabu, 04 November 2026 19:13 WIB
Tim Redaksi
bkarhutla-2026-lebih-parah-dari-2019-hampir-15-ribu-hektare-lahan-konsesi-perkebunan-sawit

JAKARTA, POTRETNEWS.com — Lebih dari 1 juta hektar lahan terbakar pada September 2026, yang menyumbang hampir setengah dari total kerusakan dan menjadi titik puncak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Kalimantan menjadi pulau paling terdampak karhutla.

Data satelit terbaru yang diperoleh Atlas Nusantara mendokumentasikan peningkatan tajam kebakaran selama bulan September 2026, dengan 85.000–88.000 hektar hutan alami yang terdampak.

”Jadi, hampir setengah dari total yang kami laporkan secara keseluruhan terjadi di bulan September," ujar pendiri The TreeMap sekaligus pengembang Nusantara Atlas, David Gaveau dalam acara RT RSPO 2026, Selasa (3/11/2026).
‎
Ketapang dan Kayong Utara di Kalbar menjadi kabupaten paling terdampak karhutla pada 2026. Bahkan, sekitar 14.500 hektar lahan konsesi perkebunan kelapa sawit bersertifikat Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) terdampak karhutla. ‎

”Untuk beberapa alasan, jika kita hanya berfokus pada wilayah ini, wilayah ini mungkin menderita lebih parah daripada pada tahun 2015. Anda dapat melihat bahwa area di sini disebut lanskap hutan Sungai Putri. Ini adalah hutan rawa gambut dan Anda dapat melihat bahwa kebakaran terjadi di sekelilingnya," tutur David.
‎
Data citra satelit Sentinel-2 yang dipadukan dengan metode dari Atlas Nusantara mengungkapkan, sekitar 1,9 juta hektar lahan terdampak kebakaran di seluruh Indonesia selama periode bulan Januari - September 2026. ‎Dari total area tersebut, sebanyak 55 persen dari lahan yang terdampak karhutla berada di dalam kawasan hutan.

Sebesar 35 persen lahan yang terdampak karhutla terjadi pada vegetasi rawa dan semak belukar. Sedangkan sekitar 17 - 23 persen terjadi di lahan gambut. ‎

”Sayangnya, kami tidak melakukan pemantauan hingga 2015, yang merupakan tahun kebakaran yang sangat besar lainnya. Saya berada di Palangkaraya pada tahun 2015 di pertengahan Oktober dengan langit oranye dan itu mengerikan, jadi saya bisa merasakan apa yang dirasakan warga Palangkaraya selama beberapa bulan terakhir," ucapnya dilansir Kompas.com.

David memperkirakan karhutla tahun 2015 sedikit lebih parah ketimbang bencana yang sama pada 2026. Kendati demikian, karhutla pada 2015, 2019, dan 2026 di Indonesia sama-sama dipengaruhi El Niño dan fase positif Indian Ocean Dipole (IOD).
‎‎
Karhutla di Kalbar‎
‎
Sebelumnya, berdasarkan data Madani Berkelanjutan, ada sekitar 218.000 hektar area indikatif terbakar (AIT) selama periode Januari-Agustus 2025. Sebesar 97 persen atau 212.000 hektar AIT pada Januari-Agustus 2025 terjadi di lokasi baru, dan tidak mengulang di kawasan yang terbakar di tahun 2023 dan 2024. ‎

”Pada Juli 2025 diketahui bahwa AIT melampaui angka pada periode yang sama di 2023 dan 2024, meskipun ada sedikit penurunan pada Agustus (2025). Secara keseluruhan, karakteristik karhutla (pada) 2025 diperkirakan tidak jauh berbeda dengan (di tahun) 2023 dan 2024," ujar Geographic Information System (GIS) Specialist dari Madani Berkelanjutan, Fadli Ahmad Naufal, Senin (15/9/2025).
‎
Dari data tersebut juga diketahui terdapat sejumlah provinsi dengan AIT yang cenderung konsisten naik hingga Agustus 2025, yaitu, Kalimantan Barat (Kalbar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), serta Bangka Belitung. ‎

Dari total AIT di Indonesia pada Januari-Agustus 2025, sebesar 38 persen atau 80.050 hektar AIT terjadi di Kalbar. Selain itu, dari total AIT di Indonesia pada Januari-Agustus 2025, sebesar 42 persen atau 89.330 hektar AIT berada di lahan konsensi dan berizin.

Rinciannya, sebanyak 36.021 berada di HGU sawit; 19.065 hektar migas, 15.537 hektar perizinan berusaha pemanfaatan hutan (PBPH); serta 3.501 hektar di minerba.***

Kategori : Lingkungan
wwwwww
www.amsi.or.id