Walhi dan Greenpeace Ungkap 52 Perusahaan Terafiliasi Malaysia-Singapura Diduga Terlibat Karhutla

JAKARTA, POTRETNEWS.com — Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya memicu masalah kesehatan di dalam negeri, tetapi juga kembali menyulut ketegangan diplomatik dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.
Ironisnya, di saat negara tetangga sering melontarkan protes, protes, hingga membuat meme sindiran terkait datangnya "jerebu" (kabut asap) sebuah fakta mengejutkan justru dibongkar oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman menyoroti adanya dugaan keterlibatan korporasi asing di balik bencana ekologi tahunan yang menghancurkan alam Indonesia. Hal tersebut diungkapkannya setelah mengutip hasil investigasi mendalam dari dua lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan bereputasi global, yakni Walhi dan Greenpeace Indonesia.Alex mengungkapkan bahwa akar persoalan karhutla ini tidak lepas dari praktik bisnis kotor perusahaan-perusahaan yang terafiliasi dengan modal asing, khususnya dari negara-negara yang kerap protes soal asap."Walhi dan Greenpeace Indonesia telah mengungkap data. Ada 52 perusahaan yang terafiliasi dengan modal asal Malaysia dan Singapura terkait Karhutla di Indonesia," ungkap Alex, Jumat (16/10/2026).Menghadapi kenyataan pahit ini, ia menantang keberanian pemerintah untuk menindak tegas korporasi-korporasi tersebut. Ia mendesak agar pemerintah segera membuka data kepemilikan konsesi lahan dan menyisir tuntas setiap titik panas (hotspot) yang berada di wilayah kerja perusahaan-perusahaan bermodal asing itu.























