Ilustrasi bayi memakai masker. Sumber: KOMPAS.comJAKARTA, POTRETNEWS.com — Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia memberikan sejumlah dampak, salah satunya paparan asap yang mengganggu pernapasan, terutama bagi anak-anak.
Sejumlah warganet di media sosial mengeluhkan anak mereka mengalami sesak napas dan bahkan pneumonia diakibatkan dampak paparan asap karhutla di sekitar tempat tinggal.
“Anak aku habis keluar dari RS dan rawat jalan, pneumonia sampai berdarah gini.. pake air purifier midea smpe di angka 400an," tulis akun media sosial TikTok @Ayy*******. “Malam ini ada lagi yang bakar lahan deket rumah, ya Allah kejam banget. Mana anakku lagi batuk-batuk sampe sesak 2 minggu ini sudah 2x anakku masuk IGD gara-gara sesak, tiap hari aku nangisin anakku. Kalau bisa sakit anakku pindahin ke aku aja,” tulis akun @Riy**********. Paparan asap yang parah dikhawatirkan memberikan dampak berbahaya terkhusus bagi bayi dan anak-anak. Lantas, seberapa buruk dampak paparan asap dan bagaimana cara mencegahnya? Seberapa buruk paparan asap bagi anak-anak? Dokter Spesialis Anak, Rumah Sakit UNS Solo, dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A mengungkapkan paparan asap karhutla cukup berbahaya bagi anak.
"Asap karhutla cukup berbahaya bagi anak, terutama karena paru-paru anak masih dalam masa pertumbuhan dan frekuensi napas anak lebih tinggi dibandingkan orang dewasa," jelasnya, Senin (21/9/2026). Menurut Aisya, yang paling diwaspadai dari asap karhutla adalah particulate matter berukuran sangat kecil, terutama PM2.5. Partikulat tersebut dapat masuk ke saluran napas hingga ke bagian paru yang lebih dalam. Tak hanya partikulat, asap juga mengandung berbagai gas dan zat iritan lainnya."WHO menyebut asap kebakaran sebagai penyebab penurunan kualitas udara yang mendadak dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada kelompok rentan seperti anak," kata Aisya dilansir
Kompas.com.Pada anak, paparan asap dapat menyebabkan batuk, pilek, tenggorokan terasa tidak nyaman, mata perih, sesak, napas berbunyi atau mengi, hingga memperberat serangan asma. Ia mengatakan, anak yang sebelumnya mempunyai asma atau penyakit paru tentu lebih rentan."Ada penelitian pada anak di California yang menemukan bahwa peningkatan PM2.5 yang berasal dari asap kebakaran hutan berkaitan dengan peningkatan kunjungan ke IGD/layanan kesehatan karena masalah pernapasan. Dampaknya terlihat sangat jelas pada anak usia 0–5 tahun," jelas Aisya.
Kaitan paparan asap dan pneumonia Aisya meluruskan bahwa tidak setiap anak yang mengalami pneumonia saat terjadi karhutla maka pneumonianya disebabkan langsung oleh asap. "Yang lebih tepat secara medis adalah bahwa paparan asap dapat mengiritasi dan merusak saluran napas, meningkatkan gejala respirasi, memperberat asma, dan meningkatkan kebutuhan pelayanan kesehatan akibat gangguan pernapasan," jelas Aisya.Menurutnya, pneumonia perlu dibuktikan secara klinis dan tidak otomatis disebabkan oleh asap. Pneumonia pada anak paling sering berkaitan dengan infeksi, terutama infeksi virus atau bakteri.Aisya menjelaskan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi dan peradangan saluran napas serta memperburuk kondisi paru yang sudah ada, sehingga anak menjadi lebih mudah mengalami gangguan pernapasan atau kondisi infeksi saluran napasnya menjadi lebih berat. "Jadi, hubungan antara asap dan pneumonia perlu dilihat secara klinis pada masing-masing anak, bukan semata-mata berdasarkan adanya paparan asap," jelasnya. Cara cegah dan meminimalisir dampak paparan asap pada anak Mengenai cara mencegah dan memiminalisir dampak paparan asap, Aisya menegaskan prinsip utamanya adalah mengurangi paparan sebanyak mungkin."Kalau kualitas udara sedang buruk, anak sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama aktivitas fisik seperti bermain atau olahraga di luar ruangan," kata Aisya. Ia juga menyarankan untuk memantau informasi kualitas udara dari sumber resmi dan menyesuaikan aktivitas anak dengan kondisi udara. "Di dalam rumah, tutup jendela dan pintu ketika asap sedang pekat. Kalau tersedia, penggunaan air purifier dengan HEPA filter dapat membantu mengurangi partikulat di dalam ruangan. Sistem ventilasi/AC dengan filter yang sesuai juga dapat membantu," ungkapnya. Ia juga menegaskan untuk menghindari menambah polusi udara di dalam rumah."Misalnya merokok di dalam rumah, dan untuk sementara hindari aktivitas yang menghasilkan banyak asap seperti membakar sampah, memasak dengan cara yang menghasilkan asap berlebihan, atau menggunakan sumber pembakaran di dalam ruangan," jelas Aisya.Untuk anak yang sudah mempunyai asma atau penyakit paru kronis, orang tua perlu lebih waspada dan memastikan obat rutin serta obat pelega sesuai resep dokter tersedia.Masker apa yang cocok digunakan? Untuk penggunaan masker, Aisya mengatakan pada anak yang cukup besar dan mampu menggunakannya dengan benar, respirator seperti N95/KN95 yang ukurannya sesuai dan menutup hidung serta mulut dengan baik dapat memberikan perlindungan terhadap partikulat. "Tetapi masker harus benar-benar fit," tambahnya. Sementara itu, pada bayi dan anak yang terlalu kecil, masker/respirator tidak selalu dapat digunakan dengan aman dan efektif. Maka dari itu, mengurangi paparan dengan tetap berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih tetap menjadi langkah utama. "Masker kain atau masker bedah tidak memberikan perlindungan yang sama terhadap partikel asap yang sangat kecil," tambah Aisya. Ia menuturkan hal yang paling penting adalah orang tua perlu mengenali tanda bahaya.Bila anak mengalami sesak atau napas cepat yang semakin berat, tarikan dinding dada, mengi berat, tampak sangat lemas atau mengantuk, sulit makan atau minum, bibir tampak kebiruan, atau keluhan tidak membaik setelah menjauh dari paparan asap, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan. "Jangan panik, tetapi jangan juga menganggap asap karhutla sebagai sesuatu yang sepele. Anak, terutama bayi, balita, dan anak dengan asma atau penyakit paru, perlu mendapatkan perlindungan ekstra ketika kualitas udara memburuk," pungkas Aisya. ***