Home > Berita > Umum

Ketua PWI Riau: Munculnya Oknum Mengaku-Ngaku Wartawan Jadi Tantangan Pers Profesional

Selasa, 15 September 2026 15:28 WIB
Wahyu Abdillah
bketua-pwi-riau-munculnya-oknum-mengakungaku-wartawan-jadi-tantangan-pers-profesionalb

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Pesatnya pertumbuhan pers Provinsi Riau yang disebut-sebut tertinggi di Indonesia, tak dipungkiri membawa perubahan besar. Namun di sisi lain juga menjadi tantangan serius bagi pers profesional, di samping disrupsi teknologi.

Munculnya oknum yang mengaku-ngaku wartawan namun tak menjalankan praktik jurnalistik secara profesional merupakan tantangan nyata yang marak terjadi di Riau.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Riau Raja Isyam Azwar mengemukakan hal itu dalam sambutan sebelum diskusi “Tantangan dan Masa Depan Pers Riau” di Sekretariat PWI Riau, Jalan Arifin Achmad, Pekanbaru, Selasa (15/9/2026) pagi.

Raja Isyam menyebut, bahwa saat ini industri media tidak hanya dihadapkan pada tekanan ekonomi perusahaan, tetapi juga problem etika dan profesionalisme yang sangat berat di lapangan.

Menurut Raja Isyam, masih ditemukan pihak-pihak yang mengaku sebagai wartawan tetapi melakukan tindakan yang bertentangan dengan kode etik jurnalistik.

“Berdasarkan informasi yang kita terima, oknum itu diduga memeras, menggertak, bahkan melakukan tindakan intimidatif. Inilah tantangan kita hari ini,” tandasnya.

Raja Isyam menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian penting bagi organisasi kewartawanan dan organisasi perusahaan media untuk terus memperkuat profesionalisme serta pemahaman terhadap kode etik jurnalistik.

Keluhan Masyarakat dan Praktik Premanisme

"Setiap kali kami bertemu dengan kepala sekolah, kepala desa, dan tokoh masyarakat, keluhan yang muncul selalu sama. Mereka mengeluhkan perilaku, etika, dan sikap oknum yang mengaku wartawan," ujar Raja Isyam di hadapan para anggota dan pengurus PWI serta pengelola media.

Ia menjelaskan, lapangan saat ini dipenuhi oleh oknum yang tidak melakukan kerja jurnalistik secara benar. Alih-alih meliput peristiwa atau menggali informasi yang bermanfaat bagi publik, segelintir orang tersebut justru mendatangi berbagai instansi pemerintahan, sekolah, hingga stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) hanya untuk menakut-nakuti dan meminta uang.

Tindakan oknum yang dulunya kerap disapa wartawan bodrek ini membuat profesi jurnalis diidentikkan dengan perilaku premanisme. Masyarakat mulai memandang sebelah mata terhadap kehadiran jurnalis karena trauma dengan praktik pemerasan tersebut.

Darurat Integritas di Tengah Tekanan Ekonomi

Kondisi ini semakin diperparah dengan banyaknya oknum yang sama sekali tidak bernaung di bawah organisasi kewartawanan dan tidak memiliki kualifikasi yang jelas.

Pada bagian lain, Raja Isyam menyoroti bahwa wartawan profesional yang berusaha menjaga integritasnya kini menghadapi beban ganda. Selain harus bertahan di tengah sulitnya kondisi ekonomi media, mereka juga harus ikut memikul citra buruk akibat ulah para oknum yang merusak nama baik pers secara barbar.

"Tantangan kita ke depan bukan hanya memikirkan soal memproduksi konten, tetapi bagaimana menyelamatkan eksistensi dan integritas wartawan profesional di tengah situasi seperti ini," pungkasnya.***

Kategori : Umum, Riau
wwwwww
www.amsi.or.id