PELALAWAN, POTRETNEWS.com — Masruri beserta anak dan istrinya, warga Kabupaten Siak, Riau, yang tinggal di di Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, yang pernah berpapasan dengan harimau beberapa waktu lalu masih trauma dan mengurangi aktivitas berkebun.
Walau kisah itu sudah berbulan-bulan berlalu. Namun, setiap hujan turun, rasa cemas kembali menghampiri keluarganya.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai petani itu masih menyimpan trauma setelah berpapasan dengan seekor harimau sumatra yang hanya berjarak sekitar lima meter dari anak dan istrinya. Peristiwa itu bukan hanya membuat keluarganya ketakutan. Dua ekor kambing peliharaannya juga menjadi mangsa satwa liar tersebut.Sejak saat itu, aktivitas sehari-hari berubah. Anak-anak tak lagi diizinkan bermain di luar rumah menjelang petang, sementara warga memilih mengurangi aktivitas di kebun.”Traumanya luar biasa. Anak dan istri saya melihat harimau itu dari jarak sekitar lima meter. Sebelumnya memang sudah banyak jejak kaki harimau di sekitar kandang kami,” kata Masruri, Ahad (2/8/2026).
Menurutnya, rasa takut tidak hanya dirasakan keluarganya. Warga yang tinggal di sekitar rumahnya juga mengalami hal serupa. Banyak yang enggan pergi ke kebun sendirian karena khawatir bertemu harimau.”Kalau mau panen atau ke kebun pun takut. Anak-anak saya kalau sudah jam empat sore tidak keluar lagi. Biasanya kami antar mengaji atau les sampai menjelang Maghrib, itu pun kami hentikan dulu. Warga di sini juga begitu,” ujarnya.Masruri mengaku sempat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagai petani sekaligus peternak, ia harus mencari rumput untuk pakan ternak. Namun, ketakutan membuatnya beberapa kali mengurungkan niat keluar rumah.”Kalau enggak keluar mencari rumput, ternak mau makan apa? Tapi mau keluar juga takut. Kami semua resah waktu itu,” katanya.Ketakutan itu perlahan mereda setelah hampir sebulan tidak ada lagi kemunculan harimau. Namun, menurut Masruri, kewaspadaan tidak pernah benar-benar hilang. ”Biasanya kalau musim hujan jejaknya mulai muncul lagi. Itu yang kami jadikan tanda untuk lebih waspada,” tuturnya.
Ia masih mengingat bagaimana warga saling mengingatkan ketika menemukan jejak harimau. Bahkan, saat dirinya sedang mencari rumput, ada tetangga yang sengaja mengejarnya menggunakan sepeda motor hanya untuk memberi peringatan.”Mereka bilang, jangan cari rumput sendirian. Kalau bisa berkawan. Jangan sore-sore. Kami saling mengingatkan supaya tidak terjadi apa-apa,” tuturnya.Sebagai langkah antisipasi, Masruri memperkuat kandang ternaknya dengan memasang lembaran seng agar menimbulkan suara jika ada satwa liar yang mendekat pada malam hari. Meski demikian, ia menyadari hidup berdampingan dengan satwa liar membutuhkan kewaspadaan semua pihak.”Harimau itu mungkin memang lebih dulu tinggal di sini daripada kami. Yang penting sekarang kami sama-sama waspada. Kalau ke kebun atau mencari rumput, jangan sendirian,” katanya.Peristiwa yang masih membekas di ingatan warga Kampung Benteng Hulu, Kecamatan Mempura, itu terjadi pada Jumat, 23 Januari 2026. Saat itu seekor harimau masuk ke pekarangan rumah Masruri alias Ruri dan memangsa dua ekor kambing peliharaannya.Peristiwa tersebut menambah panjang daftar kemunculan harimau di wilayah Siak. Masruri mengaku terkejut saat mendapati kandang kambingnya dipenuhi jejak yang diduga jejak harimau. Dua ekor kambing peliharaannya hilang dan diduga dimangsa satwa dilindungi tersebut.”Saya benar-benar tidak menyangka, kambing peliharaan saya dimangsa harimau waktu itu,” ujarnya.Ia menjelaskan, kejadian itu diperkirakan berlangsung sekitar pukul 03.00 WIB. Pada malam sebelumnya ia masih sempat memeriksa kandang yang berada di samping SPBU Kilometer 9, Dusun Mekarjaya, Kampung Benteng Hulu. ”Malam itu masih lengkap, ada 15 ekor. Tapi pagi harinya, saya hitung tinggal 12 ekor,” ungkapnya.Menjelang siang sebelum Salat Jumat, satu ekor kambing ditemukan warga dalam kondisi terluka akibat cakar. Sementara dua ekor lainnya tidak pernah ditemukan. ”Satu ekor ditemukan dengan luka cakar, dua lagi hilang. Di sekitar kandang juga ada darah yang bercecer,” katanya.Selain itu, Ruri melihat bekas seretan di tanah yang mengarah ke kebun tidak jauh dari lokasi kandang. ”Ada bekas seretan disertai darah. Dari situ saya makin yakin ini ulah harimau,” lanjutnya.Atas kejadian tersebut, Ruri berharap pemerintah daerah dan instansi terkait mengambil langkah nyata untuk mencegah konflik satwa liar dengan manusia kembali terjadi.”Kami berharap ada tindakan nyata. Karena kemunculan harimau belakangan ini sudah sangat meresahkan warga,” pintanya.Hal senada disampaikan warga lainnya, Riki. Ia mengatakan kemunculan harimau di Kampung Benteng Hulu bukan lagi hal baru. ”Beberapa waktu terakhir warga sering menemukan jejak harimau di kebun,” kata Riki.Menurutnya, jejak harimau pernah ditemukan di kawasan Sungai Jernih Kilometer 10 dan di kebun milik warga bernama Dadang yang masih berada di Kampung Benteng Hulu.”Warga sudah resah. Tapi mau lapor pun kadang malas, karena biasanya cuma dipasang kamera. Belum ada solusi konkret,” keluhnya.Riki berharap pemerintah dan instansi terkait lebih cepat menangani konflik satwa liar dengan manusia. ”Harus cepat tanggap dan ada tindakan terukur. Jangan tunggu sampai ada korban jiwa,” pungkasnya.***