KUANTAN SINGINGI, POTRETNEWS.com — Masalah klasik guru bukan hanya dihadapkan dengan persoalan gaji kecil atau masih jauh dari kesejahteraan. Mereka juga dihadapkan dengan fasilitas atau ruang kelas yang tak memadai. Kondisi ini biasanya terjadi di sekolah-sekolah di pelosok.
Salah satunya, kondisi bangunan SDN 001 Sungaipinang, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau memprihatinkan. Sebagian bangunan kelas sekilas mirip kandang kambing. Bangunan sekolah yang semestinya menjadi tempat anak-anak menimba ilmu justru tampak jauh dari kata layak.
Sebagian bangunannya masih semipermanen, dinding bagian bawah menggunakan kayu dan semen, sementara bagian atas hanya ditutup kawat jaring bak kandang kambing. Kondisi itu diperparah dengan ruang belajar yang terbatas. Sejumlah kelas terpaksa dibagi menjadi dua ruangan dengan sekat berbahan tripleks.Atap sekolah pun tak luput dari persoalan. Kebocoran terjadi ketika hujan turun, sementara rangka atap sudah lapuk dan dikhawatirkan sewaktu-waktu tidak mampu lagi menahan beban.Yang lebih memprihatinkan, lantai sejumlah ruang kelas bahkan masih berupa tanah. Kondisi tersebut perlahan membuat SDN 001 Sungaipinang kehilangan daya tarik di mata masyarakat. Pada tahun ajaran 2026/2027, jumlah siswa kelas I hingga VI hanya tersisa 45 orang.
Sebagian orang tua memilih menyekolahkan anak mereka ke sekolah swasta, meski harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar SPP.Kepala SDN 001 Sungaipinang, Wardiyati mengakui kondisi sekolah yang dipimpinnya memang membutuhkan perhatian serius dari pemerintah. Menurutnya, pihak sekolah bukan diam atau berpangku tangan. Setiap tahun, usulan pembangunan dan revitalisasi sekolah telah disampaikan.Namun, hingga kini belum ada realisasi yang diharapkan. ”Kami tidak dapat mengawal pembangunan sekolah ini setiap hari, jarak sekolah ke Kota Telukkuantan yang merupakan pusat administrasi sangat jauh, butuh waktu 2 jam bagi kami guru-guru," ujar Wardiyati, Sabtu (2/8/2026)Di tengah keterbatasan tersebut, sekolah bersama wali murid berupaya melakukan perbaikan secara swadaya. Para wali murid bahkan bergotong royong memperbaiki sejumlah bagian sekolah yang rusak. Namun, kemampuan mereka terbatas. Perbaikan hanya mampu menyentuh kerusakan ringan, seperti menambal lantai yang berlubang.Sementara persoalan yang jauh lebih besar, atap bocor, rangka bangunan lapuk dan struktur bangunan tak mampu mereka tanggung. "Untuk atap dan struktur bangunan, kami tidak sanggup. Itu sudah menjadi kewenangan pemerintah," tutur Wardiyati.
Di tengah kondisi tersebut, Wardiyati menyambut baik rencana pemisahan anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari anggaran pendidikan.Ia berharap kebijakan tersebut benar-benar memberi ruang lebih besar bagi anggaran pendidikan untuk membenahi sekolah-sekolah yang kondisinya sudah memprihatinkan, termasuk SDN 001 Sungaipinang.Ironisnya, kata dia, sejak program MBG berjalan, SDN 001 Sungaipinang justru belum pernah menerima program tersebut.Karena itu, Wardiyati berharap anggaran yang selama ini dialokasikan untuk MBG juga dapat menjadi perhatian bagi kebutuhan pendidikan yang lebih mendesak. ”Kalau bisa anggaran MBG dialihkan saja untuk revitalisasi sekolah dan kesejahteraan guru," harapnya.Bukan hanya bangunan sekolah yang membuat Wardiyati resah. Persoalan kesejahteraan guru juga menjadi pekerjaan rumah. Saat ini terdapat empat guru honorer di SDN 001 Sungaipinang yang disebut hanya mengandalkan penghasilan dari sertifikasi. Nilainya sekitar Rp2 juta per bulan.Wardiyati menegaskan, harapan tersebut bukan berarti pihak sekolah tidak bersyukur. Namun, menurutnya, besarnya anggaran yang digelontorkan untuk berbagai program pemerintah semestinya juga diikuti perhatian terhadap kesejahteraan tenaga pendidik.”Bukan kurang bersyukur, namun, dengan besarnya anggaran untuk MBG, bisa saja uang sertifikasi guru dinaikkan sedikit," ujarnya.Bagi Wardiyati, pendidikan tidak cukup hanya berbicara mengenai keberadaan guru dan murid. Ruang kelas yang aman, bangunan yang kokoh dan guru yang sejahtera merupakan fondasi yang tidak boleh dikesampingkan.Sebab bagaimana anak-anak diminta belajar dengan nyaman jika mereka harus berada di ruang kelas yang disekat triplek, lantainya masih tanah, sementara atap di atas kepala sudah bocor dan rangkanya lapuk?Kondisi SDN 001 Sungai Pinang itu akhirnya sampai ke telinga Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kuansing, Muklisin.Muklisin mengaku prihatin setelah mengetahui kondisi sekolah tersebut. Ia bahkan berjanji akan meninjau langsung kondisi sekolah yang berada di Kecamatan Hulu Kuantan tersebut. ”Ini sangat memprihatinkan, namun jika tidak salah sekolah itu berada di kawasan hutan. Sebab itu Pemerintah tidak berani merevitalisasi sekolah tersebut," ujar Muklisin.Persoalan status lahan menjadi salah satu batu sandungan pemerintah untuk melakukan revitalisasi. Namun, Muklisin memastikan pemerintah tidak akan membiarkan persoalan tersebut berlarut-larut.Menurutnya, salah satu solusi yang memungkinkan adalah mencari lahan yang legal untuk kemudian membangun gedung sekolah baru. Solusi itu dinilai lebih realistis dibandingkan melakukan pembangunan di atas lahan yang statusnya belum jelas. "Ini akan menjadi perhatian kami, nanti akan kami bahas dengan DPRD," pungkasnya.***