2 Warga Tewas Diterkam Harimau di Pelalawan, Walhi Riau Sebut HTI Faktor Utama Munculnya Konflik Satwa dan Manusia

Jum'at, 31 Juli 2026 19:13 WIB
Tim Redaksi
b2-warga-tewas-diterkam-harimau-di-pelalawan-walhi-riau-sebut-hti-faktor-utama-munculnya-konflikIlustrasi Hamparan hutan tanaman industri (HTI) jenis akasia sebagai bahan baku industri pulp and paper. (Foto: Dok. REPUBLIKA)

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Riau menilai dua insiden serangan harimau sumatera yang menewaskan seorang anak dan seorang pekerja di kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI) Desa Sungaiara, Kabupaten Pelalawan, merupakan dampak dari rusaknya habitat satwa dilindungi tersebut akibat aktivitas industri kehutanan.

Menurut Walhi, upaya menangkap harimau sebagaimana dilakukan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau dengan memasang dua kandang jebak di sekitar lokasi kejadian bukanlah solusi jangka panjang.

Organisasi tersebut menilai baik manusia maupun harimau sama-sama menjadi korban akibat hilangnya ruang hidup satwa.

Koordinator Perlindungan dan Pengembangan Wilayah Kelola Rakyat (WKR) Walhi Riau, Rezki Andika, mengatakan aktivitas HTI yang berada di kawasan hutan yang selama ini menjadi koridor harimau sumatra menjadi faktor utama munculnya konflik antara satwa dan manusia.

”Harimau secara alami adalah satwa yang cenderung takut dan menghindari manusia. Mereka menyerang manusia bukan karena manusia adalah mangsa utamanya, akan tetapi mereka menyerang karena habitatnya atau naluri keibuan mereka terancam," kata Rezki, Kamis (30/7/2026).

Ia menegaskan pemulihan habitat merupakan langkah paling penting untuk mencegah konflik serupa terulang sekaligus menjaga kelestarian harimau sumatra yang populasinya terus terancam. Serangan terbaru terjadi pada Jumat (10/7/2026) malam.

Korban diketahui bernama Eko Prasetyo (29), seorang pekerja yang diduga diterkam harimau saat berada di sekitar kamp pekerja. Peristiwa itu terjadi hanya beberapa hari setelah seorang anak berusia 12 tahun meninggal akibat serangan harimau di kawasan yang sama.

Serangan kedua tercatat berjarak sekitar 6,5 kilometer dari lokasi serangan pertama. Berdasarkan temuan sementara BBKSDA Riau, ukuran dan karakter jejak yang ditemukan memiliki kemiripan dengan jejak pada lokasi sebelumnya sehingga diduga berasal dari seekor harimau sumatera jantan berusia sekitar tiga tahun.

Habitat Harimau Makin Terdesak

Walhi menilai rangkaian kejadian tersebut menjadi indikator terganggunya ekosistem yang selama ini menjadi habitat harimau. Organisasi tersebut juga meminta pemerintah mengevaluasi izin perusahaan serta memastikan perlindungan terhadap ekosistem harimau sumatera.

”Korban anak usia 12 tahun yang merupakan anak pekerja dan pekerja yang meninggal dunia akibat diserang harimau pada saat di luar kamp pada malam hari menandakan adanya aktivitas perusahaan yang menjadi penyebab harimau menyerang manusia," ujar Rezki. Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala BBKSDA Riau sebelumnya menyatakan perusahaan seharusnya memiliki standar operasional prosedur (SOP) yang ketat untuk melindungi pekerja, menghentikan aktivitas di sekitar habitat harimau, serta meningkatkan kewaspadaan di kawasan tersebut.

Senada dengan Walhi, Direktur Perkumpulan Elang, Besta Junandi Nduru, menilai dua serangan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari sepekan tidak dapat dilepaskan dari semakin menyempitnya habitat harimau akibat deforestasi. Menurutnya, fakta bahwa serangan terjadi pada malam hari menunjukkan kawasan HTI di Desa Sungaiara telah menjadi bagian dari ruang hidup harimau.

”Dalam kasus ini, tidak hanya manusia yang menjadi korban, tetapi juga satwa yang dilindungi. Harimau merupakan satwa yang dilindungi. Merusak ruang hidupnya sama dengan membuatnya punah. Perusahaan yang telah melakukan deforestasi harus bertanggung jawab untuk mengembalikan habitat harimau di areal kerjanya sambil memastikan keamanan para pekerja," pungkas Besta.***

wwwwww
www.amsi.or.id