Tembilahan, Ibu Kota Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, diabadikan dari atas. (Foto: dok. @prima_herrie11 via INSTA INHIL)POTRETNEWS.com — Biaya hidup di sebuah daerah memengaruhi kesejahteraan para penduduknya. Sebabnya, tinggi rendahnya biaya hidup akan mempengaruhi kualitas pemenuhan kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Jika orang-orang yang memiliki penghasilan pas-pasan namun hidup di daerah dengan biaya hidup tinggi, maka pengeluaran akan terasa sangat mencekik. Begitu juga sebaliknya.
Di tengah membumbungnya biaya hidup di kawasan perkotaan, beberapa daerah di Sumatra justru menawarkan gaya hidup yang jauh lebih ramah di kantong.
Menariknya, status daerah bertarif hidup paling miring ini dipegang oleh wilayah yang kaya akan komoditas perkebunan dan hasil bumi.Di Provinsi Riau, predikat daerah dengan biaya hidup termurah diraih oleh Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil).Kabupaten yang tersohor dengan julukan Negeri Seribu Parit ini merupakan salah satu hamparan perkebunan kelapa terluas di Indonesia, di mana hamparan hijau dan saluran air menjadi denyut nadi perekonomian warganya.
Sementara di Sumatra Selatan, posisi daerah paling hemat ditempati oleh Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).Berjarak sekitar 160 kilometer dari pusat Kota Palembang, daerah berjuluk Bumi Serepat Serasan ini menyimpan potensi besar di sektor pertambangan minyak bumi, yang dipadu dengan bentangan kebun karet dan kelapa sawit sebagai penopang utama mata pencaharian warga lokal.Lantas, jika kedua daerah "juara hemat" dari Riau dan Sumsel ini diadu, manakah yang memiliki biaya hidup paling rendah?Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Rabu (29/7/2026), berikut perbandingan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan di kedua wilayah tersebut.Indragiri Hilir: Ramah di Kantong dengan Dominasi Pangan
Sebagai pusat perkebunan kelapa, Indragiri Hilir mencatatkan rata-rata pengeluaran per kapita warga sebesar Rp 1.275.198 per bulan.Struktur pengeluaran warga Inhil menunjukkan pola daerah pedesaan/agraris yang khas, di mana porsi anggaran terbesar dialokasikan untuk kebutuhan konsumsi harian. Dari total pengeluaran sebulan:Kebutuhan Makanan: Rp 766.926 (sekitar 60 persen)Kebutuhan Bukan Makanan: Rp 508.272 (sekitar 40 % )PALI: Rekor Anggaran di Bawah Sejuta per BulanBergeser ke Kabupaten PALI di Sumsel, angka pengeluaran masyarakatnya mencatatkan rekor yang terbilang sangat efisien untuk ukuran Pulau Sumatera.Rata-rata pengeluaran per kapita warga PALI berada di bawah angka satu juta rupiah, yakni Rp 920.098 per bulan.Sama halnya dengan Inhil, warga PALI juga mengalokasikan porsi anggaran terbesar untuk sektor konsumsi pangan:Kebutuhan Makanan: Rp 536.118Kebutuhan Bukan Makanan: Rp 383.980Jika kedua daerah disandingkan, Kabupaten PALI mencatatkan biaya hidup yang lebih murah dibandingkan Kabupaten Indragiri Hilir, dengan selisih pengeluaran mencapai Rp 355.100 per kapita setiap bulannya.Efisiensi biaya di PALI terlihat merata di kedua sektor. Pengeluaran pangan warga PALI lebih rendah sekitar Rp 230 ribu dibanding warga Inhil, sementara pengeluaran non-pangan (seperti papan, energi, dan jasa) juga lebih hemat sekitar Rp 124 ribu.Meski sama-sama ditopang oleh kekayaan alam lokal Inhil dengan kelapa dan PALI dengan migas serta karet karakteristik ekonomi daerah menjadikan PALI sebagai salah satu titik destinasi dengan beban biaya hidup paling terjangkau di kawasan Sumatra Bagian Selatan.***