Home > Berita > Umum

Berawal dari Hobi di Halaman Rumah, Kini Kebun Anggur Suherman Berubah Jadi Cuan

Minggu, 24 Mei 2026 11:27 WIB
bberawal-dari-hobi-di-halaman-rumah-kini-kebun-anggur-suherman-berubah-jadi-cuanbWarga memeriksa buah anggur segar di kebun Paritbaru Siak. Sumber img:@exploleriau via RADARCIREBON.tv

SIAK, POTRETNEWS.com — Siapa sangka di tengah panasnya dataran rendah Kabupaten Siak, Provinsi Riau, pohon-pohon anggur dengan buah ranum dan beragam warna bisa tumbuh subur dan menguntungkan.

Dilansir dari laman radarcirebon.tv, cerita ini bermula dari seorang warga bernama Suherman, warga Paritbaru, yang memulai aktivitas berkebun anggur sebagai pelepas penat di akhir pekan. Awalnya hanya sekadar hobi, kini kebun milik Suherman bukan hanya menjadi primadona di warung kopi, tetapi juga membuka peluang cuan yang menjanjikan.

Langkah awal itu bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan potret nyata bahwa ketekunan dan inovasi mampu menyulap hobi sederhana menjadi sumber ekonomi kreatif yang menginspirasi banyak orang. Suherman memulai kegemarannya dengan menanam berbagai jenis bibit anggur di sekitar halaman rumahnya.

Setelah sekitar 5-6 tahun bergelut dengan media tanam dan perawatan, hasil panen yang dulunya hanya cukup untuk keluarga, kini mulai dilirik warga. Menariknya, dia tidak menjual hasil panennya di pasaran biasa.

Justru setelah video dan fotonya viral di berbagai platform media sosial seperti Facebook dan Instagram, warga mulai berdatangan ke kebunnya sebelum masa panen tiba hanya untuk sekadar membeli atau berfoto.

Hal ini membuktikan bahwa di era digital, konten menarik dari perkebunan lokal bisa menjadi magnet bagi konsumen.

Enam Varietas Anggur, Satu Kebun

Keunikan kebun Suherman terletak pada keberagaman varietas anggurnya. Di lahan yang tidak terlalu luas, ia menanam berbagai jenis anggur impor yang jarang ditemukan di pasar tradisional. Ada Shine Muscat, Tamaki, Jupiter, Baikonur, hingga Heliodor dan Sansekerta yang menjadi favorit banyak orang karena teksturnya yang renyah dan besar.

Dengan memiliki banyak varian rasa, Suherman mampu menarik minat konsumen dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak yang menyukai rasa manis legit Jupiter hingga dewasa yang menggemari sensasi segar Sansekerta.

Strategi Pemasaran Kreatif: Menjual Pengalaman, Bukan Sekadar Buah

Salah satu kunci sukses Suherman adalah tidak terpaku pada metode pemasaran konvensional. Meski harga bibit anggur premium bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah per batang, ia berhasil menekan biaya produksi dan memanfaatkan pasar digital.

Dengan berbagi konten edukasi seputar teknik budi daya di dataran rendah, kebunnya berubah menjadi destinasi wisata edukasi. Warga yang penasaran rela datang untuk berfoto di bawah rindangnya pohon dengan buah menjuntai, sebuah strategi yang mirip dengan bisnis agrowisata yang mengedepankan spot-spot instagramable.

Dengan membiarkan pengunjung datang langsung ke lokasi, Suherman tidak hanya menghemat biaya distribusi, tetapi juga menciptakan pengalaman berkesan. Pengunjung bisa melihat langsung kesegaran buah, memetiknya sendiri, dan akhirnya terdorong untuk membeli lebih banyak.

Terlebih lagi, ia juga membuka peluang untuk menjual bibit atau memberikan konsultasi budidaya yang menjadi sumber pendapatan tambahan. Potensi Cuan yang Berlipat Ganda Dalam hal cuan, budidaya anggur terbukti sangat menguntungkan jika pengelolaannya konsisten.

Suherman menjelaskan bahwa dalam setahun, satu pohon bisa panen hingga 3 kali dengan hasil 5 sampai 10 kilogram per pohon. Jika melihat harga jual buah anggur kualitas premium di pasaran yang berkisar antara Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram, maka dari satu pohon saja ia bisa mengantongi omzet hingga jutaan rupiah dalam sekali panen.

Selain menjual buah segar, keuntungan jangka panjang dari tanaman anggur juga sangat menjanjikan. Berbeda dengan tanaman musiman, pohon anggur yang semakin tua justru produktivitasnya semakin meningkat. Artinya, jika dirawat dengan baik, kebun Suherman bisa menjadi aset yang terus menghasilkan puluhan tahun ke depan.

Dia pun mengingatkan pentingnya memberi jeda 1-2 bulan setelah panen untuk pemulihan nutrisi, karena memaksa pohon terus berbuah tanpa istirahat bisa menyebabkan kematian tanaman.

Kisah Suherman menjadi inspirasi bahwa tantangan iklim dan lokasi bukanlah halangan utama. Dengan memanfaatkan teknologi digital, pemasaran kreatif, dan kesabaran merawat tanaman, hobi berkebun di halaman rumah bisa bermetamorfosis menjadi pundi-pundi rupiah dan warisan ekonomi bagi keluarga.***

Editor:
Yusfreyendi

Kategori : Umum, Siak
wwwwww
www.amsi.or.id