BATAM, POTRETNEWS.com — Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia melepas ekspor perdana arang batok kelapa sebanyak 36 ribu ton per tahun dari Batam, Kepulauan Riau (Kepri) ke Tianjin, China, dengan nilai kontrak diperkirakan mendekati Rp200 miliar per tahun.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Frits Novianto Suhendar mengatakan ekspor tersebut menjadi langkah strategis dalam mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) daerah sekaligus memperkuat hilirisasi komoditas kelapa nasional.
”Program ekspor ini merupakan hasil kolaborasi Kadin Indonesia bersama Kadin Kabupaten Indragiri Hilir, Kadin Batam, dan Kadin Kepulauan Riau. Ekspor ini mampu menggerakkan UMKM di daerah,” ujar Frits, Rabu (11/2/2026).Dalam kontrak payung berdurasi satu tahun itu, kebutuhan pengiriman mencapai sekitar 125 kontainer per bulan atau 10–20 kontainer per minggu, bergantung pada kesiapan produksi.Menurut Frits, ekspor tahap awal difokuskan pada arang batok kelapa, namun ke depan akan diperluas ke komoditas turunan kelapa lainnya seperti serabut kelapa.
Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan mitra China tidak hanya sebatas perdagangan, tetapi juga mencakup dukungan transfer teknologi untuk mempercepat proses produksi di dalam negeri.”Dari China kami juga akan menerima dukungan transfer teknologi. Mereka akan mengirimkan alat-alat untuk mempercepat proses produksi. Jadi bukan hanya ekspor barang, tapi juga ada hilirisasi teknologi,” katanya melansir
bisnis.com.Program ekspor ini melibatkan puluhan UMKM yang tersebar di empat kecamatan di Kabupaten Indragiri Hilir. Basis produksinya berasal dari kelompok-kelompok usaha rumahan yang selama ini mengolah batok kelapa menjadi arang.Selain berdampak pada UMKM, kegiatan ekspor tersebut juga menggerakkan sektor pendukung seperti perusahaan pelayaran, jasa pengurusan transportasi (forwarder), pelabuhan, hingga tenaga kerja bongkar muat.”Efek dominonya besar. Tidak hanya UMKM, tapi seluruh rantai logistik ikut bergerak,” ujar Frits.
Untuk sementara, Batam ditetapkan sebagai pelabuhan ekspor utama karena fasilitasnya dinilai paling siap dan lokasinya strategis.Sementara itu, wilayah Riau belum memiliki fasilitas ekspor langsung yang memadai. Kadin Kepri menyatakan ke depan potensi kelapa di wilayah Kepulauan Riau juga akan dikembangkan agar dapat terlibat langsung sebagai daerah sumber bahan baku dalam rantai ekspor tersebut.”Batam saat ini menjadi titik transit ekspor karena paling dekat dan fasilitasnya siap. Ke depan, potensi kelapa di Kepri juga akan kita kolaborasikan,” pungkas Frits.***
Editor:Akam Sophian