Home > Berita > Umum

Mengenal Tradisi Balimau Kasai Potang Mogang di Kampar, Warisan Budaya Melayu Riau Sambut Bulan Suci Ramadan

Minggu, 08 Februari 2026 08:42 WIB
bmengenal-tradisi-ibalimau-kasai-potang-mogangi-di-kampar-warisan-budaya-melayu-riau-sambut-bulan

KAMPAR, POTRETNEWS.com — Masyarakat Riau memiliki beragam tradisi dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Salah satu tradisi yang masih lestari hingga kini adalah mandi balimau kasai, sebuah upacara adat yang berkembang di tengah masyarakat Kampar.

Tradisi ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan sarat makna spiritual, budaya, dan sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

Apa itu mandi balimau kasai dan kapan dilaksanakan? Mandi balimau kasai merupakan upacara tradisional yang dilaksanakan sekali dalam setahun, tepatnya sehari menjelang masuknya bulan Ramadan.

Dalam masyarakat Kampar, tradisi ini juga dikenal dengan sebutan balimau kasai potang mogang.

Potang mogang berarti menjelang petang, yaitu waktu antara salat Ashar hingga menjelang Magrib. Pelaksanaan pada waktu tersebut memiliki makna simbolik yang kuat.

Masyarakat Melayu memaknai potang mogang sebagai momentum peralihan, bukan hanya dari siang ke malam, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari menuju suasana spiritual bulan Ramadan. Tradisi ini menjadi penanda kesiapan lahir dan batin dalam menyambut bulan penuh ibadah.

Apa makna filosofis di balik tradisi balimau kasai?

Melansir kompas.com yang mengutip dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kampar serta berbagai keterangan masyarakat setempat, mandi balimau kasai merupakan bentuk ungkapan rasa syukur karena masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadhan.

Selain itu, tradisi ini dimaknai sebagai simbol pensucian diri sebelum memasuki masa puasa.

Balimau berasal dari kata limau atau jeruk. Jeruk dipercaya memiliki kemampuan membersihkan kotoran dan menghilangkan bau tidak sedap.

Dalam praktiknya, jeruk digunakan sebagai campuran air untuk mandi bersama. Sementara itu, kasai berarti lulur. Lulur kasai dibuat dari campuran air beras, kunyit, daun serai, dan daun jeruk.

Bahan-bahan alami tersebut dipercaya memiliki makna filosofis tersendiri, yakni membersihkan diri secara lahiriah sekaligus menjadi simbol pembersihan batin dari sifat-sifat negatif.

Dengan tubuh yang bersih dan hati yang lapang, masyarakat diharapkan dapat menjalani ibadah puasa dengan lebih khusyuk.

Bagaimana prosesi mandi balimau kasai dilakukan?

Secara umum, prosesi mandi balimau kasai dilakukan secara bersama-sama, baik di sungai, pemandian umum, maupun lokasi yang telah ditentukan oleh panitia adat.

Sebelum mandi, biasanya dilakukan doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat atau tokoh agama. Dalam pelaksanaannya, tradisi ini menekankan nilai kebersamaan dan kekeluargaan.

Warga dari berbagai usia berkumpul untuk mengikuti rangkaian acara, menjadikannya sebagai sarana silaturahmi menjelang Ramadhan.

Mengapa balimau kasai menjadi daya tarik wisata budaya?

Di sejumlah daerah, tradisi potang balimau kasai berkembang menjadi potensi wisata budaya yang cukup populer. Selain prosesi mandi bersama, acara ini kerap diramaikan dengan berbagai kegiatan pendukung seperti:

Pawai perahu hias di sungai

Pertunjukan seni dan hiburan rakyat

Kegiatan keagamaan dan budaya

Rangkaian acara tersebut menarik minat masyarakat lokal maupun wisatawan untuk menyaksikan langsung tradisi khas Melayu Riau.

Meski sering diklaim sebagai tradisi khas Melayu Riau, hingga kini belum ditemukan literatur tertulis yang secara rinci menjelaskan sejak kapan mandi balimau menjadi kebiasaan masyarakat setempat.

Tradisi serupa juga ditemukan di Provinsi Sumatera Barat dengan sebutan potang balimau. Kesamaan tersebut menunjukkan adanya keterkaitan budaya di wilayah Melayu yang menjadikan ritual penyucian diri sebagai bagian penting dalam menyambut bulan Ramadan.***

Editor:
Akam Sophian

Kategori : Umum, Kampar
wwwwww
www.amsi.or.id