Home > Berita > Umum

Mengenal ”Sedhar”, SMA Tertua di Riau yang Didirikan Sastrawan Soeman HS dan Pernah Jadi Sekolah Favorit Warga Pekanbaru

Selasa, 06 Januari 2026 19:33 WIB
bmengenal-sedhar-sma-tertua-di-riau-yang-didirikan-sastrawan-soeman-hs-dan-pernah-jadi-sekolah

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Sekolah Menengah Atas (SMA) Setia Dharma (Sedhar) Pekanbaru sudah berusia 73 tahun. Sekolah yang didirikan Soeman HS, sastrawan Riau ini pernah berjaya pada masanya sejak pembangunan tahun 1953 silam.

SMA Setia Dharma yang lebih akrab disebut SMA Sedhar yang berada di Jalan Jalan Prof M Yamin Kecamatan Senapelan, Kota Pekanbaru ini menjadi salah tonggak sejarah pendidikan di Riau.

Keberadaannya tidak hanya dipandang sebagai tempat belajar semata, namun juga bagian dari perkembangan manusia saat itu khususnya pada masa Senapelan menjadi sentra kemajuan Kota Pekanbaru. Namun, kini tak banyak yang melihatnya.

SMA Sedhar seakan tergerus oleh perkembangan zaman. Terlebih dunia pendidikan yang terus mengeliat, tumbuh di mana-mana. Itu juga sejalan dengan semakin berkembangnya masyarakat yang tercerai berai di beberapa titik di Kota Pekanbaru.

”Ya, Sedhar pernah berjaya pada masanya. Sekolah yang melukiskan sejarah pada dunia pendidikan di Riau,” ungkap Sejarawan Riau, Suwardi MS, Selasa (6/1/2026).

Dikatakan Suwardi, keberadaan sekolah Sedhar juga menjadi bagian penting dari perkembangan di wilayah Senepelan.

Cikal bakal tumbuhnya Kota Pekanbaru.

Menurut Suwardi, keberadaan sekolah Sedhar yang sarat dengan sejarah itu mesti harus terus berdiri kokoh. Meskipun ia tidak memungkiri bahwa perkembangan masyarakat saat ini tidak lagi terfokus di wilayah tersebut (Senapelan).

”Masyarakat sudah berkembang. Membangun kehidupan mereka menyebar pada arah barat, timur dan selatan. Jadi Sedhar tak lagi menjadi sentral," ujarnya dilansir tribunpekanbaru.com.

Kondisi tersebut menjadikan pendidikan di Pekanbaru juga menyebar dengan banyak pilihan. Terlebih lagi pemerintah dengan sejumlah kebijakan yang mendorong banyaknya pilihan sekolah tersebut. Meski demikian, menurut Suwardi, keberadaan sekolah Sedhar tetap tidak bisa dilepaskan dengan usianya yang sudah tua.

”Ada nilai historis yang harus dipertahankan. Meskipun kondisi saat ini tidak berpihak pada sekolah swasta. Karena pilihan yang susah banyak dan masyarakat yang sudah menyebar di banyak wilayah," ujarnya.

Sekolah Favorit pada Masanya

Sekolah Sedhar kini memang tidak lagi seramai pada masa ia pertamakali ada. Namun, jangan pernah lupakan jika Sedhar adalah motivasi awal berdirinya sekolah lainnya di Kota Pekanbaru.

Media mencoba menggali bagaimana sekolah Sedhar pada masa yang lebih dalam dari sekarang. Saat sampai di halaman sekolah, kondisi sepi langsung menyelinap. Karena memang aktivitas lebih banyak di dalam area sekolah. Bangunan berlantai tiga itu itu melingkar dengan area lapang di bagian tengahnya. Aktifitas sepertinya lebih banyak di lokasi ini. Memang tidak bisa berharap pada halaman sekolah. Kondisinya sudah terkunci oleh batas jalan aspal (Jalan Prof M Yamin ).

Jadi bagian halaman hanya bisa untuk parkir kendaraan saja. Dan itu juga terbatas. Bangunan dengan arsitektur khas Melayu Selasa Jatuh Kembar pada bagian depannya. Arsitektur tersebut tentu menyiratkan indentitasnya yang di Bumi Lancang Kuning.

Namun, secara keseluruhan, bangunan sekolah Sedhar tidak lagi meninggalkan bekas bangunan lama. Hanya pondasi saja saja yang menjadi saksi awal keberadaan bangunan itu Juniyarlis SE salah seorang guru yang ditemui Tribunpekanbaru.com di sekolah, memberikan sedikit cerita terkuat masa jayanya Sedhar.

Ia mengaku telah mengajar di Sedhar pada tahun 1990 an. Tepatnya tahun 93 an sudah menjadi guru tetap di yayasan Setia Dharma ini. Juniyarlis menceritakan bahwa Sedhar awalnya menjadi sekolah favorit. Ibarat gula yang dikerubungi semut, Sedhar menjadi titik fokus para orangtua untuk menitipkan anaknya belajar disana.

”Tahun-tahun 90 an itu muridnya ramai. Bahkan sampai satu jelas itu berisi hingga 50an. Banyak orang tua yang berharap anaknya bisa sekolah di Sedhar," tuturnya.

Karena jumlah muridnya yang membludak itulah kemudian jam belajar siswa diatur dua shif, yakni pagi dan siang hari. "Penuh. Lantai satu, dua dan tiga berisi semua. Dari lima belas kelas yang terisi itu muridnya satu kelas berisi 50 orang," ujar Juniyarlis.

Dari guru yang mengajar Informatika ini juga terungkap cerita bahwa Sedhar lebih dulu maju dibandingkan sekolah lainnya di Kota Pekanbaru. "Kami bahkan sudah punya komputer. Saat sekolah lain belum memilikinya," ungkap Juniyarlis.

Lebih jauh ia menceritakan, bahwa dari kabar dulu yang ia rekam, bahwa sebelum bangunan SMAN 1 berdiri seutuhnya, murid mereka menumpang di Sedhar lebih dulu. Ya, pernyataan Juniyarlis ini berkesaman dengan proses berdirinya SMA Negeri lainnya di Kota Pekanbaru.

Seperti SMAN 1 dari data yang dihimpun, baru berdiri tahun 1955-1956 silam. Artinya Sedhar telah lebih dulu ada. Sekolah yang awalnya dikenal sebagai SMA Negeri B-C dan resmi berubah nama menjadi SMAN 1 Pekanbaru pada 1 Oktober 1960.

Pembangunannya mendapat dukungan dari PT Caltex (sekarang Pertamina) pada 8 Oktober 1957 untuk pembangunan. Perubahan Nama: Secara resmi berganti nama menjadi SMA Negeri 1 Pekanbaru pada 1 Oktober 1960 di bawah kepemimpinan Bapak Abdul Latif. Auri, penjaga sekolah yang sudah berusia sekitar 60 tahunan juga mengungkapkan kejayaan SMA Sedhar pada masanya.

Menurut Auri ia juga sekolah di Pekanbaru tahun 70-an, namun bukan di Sedhar. Dikatakannya, awal sekolah Sedhar juga menjadi tempat pendidikan murid-murid yang tak biasa. "Setahu saya banyak muridnya yang merupakan pegawai-pegawai pada awalnya berdirinya," ungkap Auri.

Auri juga tidak menafikan jika jumlah muridnya sangat banyak saat Sedhar jadi pilihan. Karena itu dibagi waktunya pagi dan siang. Nasib Sedhar Kini Waktu telah membawa banyak perubahan. Kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Bahwa sekolah-sekolah di Pekanbaru terus berkembang dan muncul ke permukaan. Tak hanya sekolah negeri, sekolah Swasta juga telah menawarkan banyak keunggulan. Meski demikian, Sedhar sebagai salah satu di antara banyak sekolah di Pekanbaru tetap berupaya eksis.

Menurut Juniyarlis, kenyataan jumlah murid di Sedhar memang tidak seramai dulu. Namun, Sedhar tentu saja turut melahirkan dan berpengaruh pada tumbuh kecerdasan muridnya.

Dari data yang dikumpulkan, bahwa Bupati Kasmarni adalah alumni sekolah Sedhar. Ia menyelesaikan sekolahnya ditempat itu tahun 1993 silam.

”Memang jauh menurun dibandingkan masa tahun 90-an. Penurunan murid yang sekolah disini tidak seketika, namun secara perlahan-lahan," ungkapnya.

Namun, menurut Juniyarlis, bahwa para alumni masih banyak juga yang menyekolahkan anaknya di Sedhar. Bangunan sekolah Sedhar memang tidak begitu kondusif. Jika dulu memang di wilayah itu pusat perkembangan masyarakat, kini mereka telah menyebar. Ditambah pembangunan yang kian pesat.

Sedhar berupaya terus menampilkan dirinya. Terbukti, dengan usaha yang dilakukan pihak yayasan, bahwa dibangunan itu ada sekolah setingkat sekolah menengah pertama (SMP) serta Sekolah Menengah Kejuruan.

Dari data info yang dipajang di sekolah diketahui, SMP Sedhar lebih dulu dimunculkan yakni pada tahun 1979. Kemudian SMK Setia Dharma muncul pada tahun 2016. Terkait dengan kondisi Sedhar kini, Sejarawan Riau Suwardi MS mengatakan, pihak yayasan harus terus melakukan perbaikan. Karena persaingan dengan sekolah lainnya yang mengharuskan Sedhar terus berbenah.

”Pihak yayasan harus terus berusaha membuat Sedhar jadi pendidikan pilihan. Namun, dibalik usaha itu semua hal yang terpenting adalah mempertahankan Swdhar sebagai bangunan pendidikan yang punya nilai historis," pungkas Suwardi.***

Editor:
Akam Sophian

Kategori : Umum, Pekanbaru
wwwwww
www.amsi.or.id