Lewati Sarang Harimau dan Buaya, Begini Perjalanan Berat Personel Polres Indragiri Hulu Riau Bongkar Illegal Logging

Minggu, 14 Desember 2025 08:05 WIB
blewati-sarang-harimau-dan-buaya-begini-perjalanan-berat-personel-polres-indragiri-hulu-riau
INDRAGIRI HULU, POTRETNEWS.com — Aparat kepolisian berhasil membongkar aksi pembalakan liar di wilayah perbatasan Indragiri Hulu (Inhu), Provinsi Riau. Di kawasan ini, polisi menemukan ratusan kubik kayu olahan yang diduga kuat hasil illegal logging. Bukan perjalanan mudah, polisi harus menempuh medan berat hingga sarang harimau. Kapolres Inhu AKBP Fahrian Saleh Siregar mengirimkan tiga tim ke lokasi pada 2 Desember 2025. Tim pertama dari Satreskrim Polres Inhu yang dipimpin Kasat Reskrim Polres Inhu AKP Arthur Toreh, KBO Satreskrim Polres Inhu Ipda Riki Rahmadi dan Polsek Kuala Cenaku, dipimpin Kapolsek Iptu Awet L Nainggolan, bergerak dari Desa Sukajadi, Kecamatan Kuala Cenaku, menggunakan motor.

"Akses sulit, semak belukar, hutan lebat, hingga minimnya penerangan memaksa tim berjalan kaki berjam-jam dan menghentikan pencarian sementara karena faktor keselamatan," kata Fahrian, dalam keterangannya, Kamis (11/12/2025).

Keesokan harinya, pencarian dilanjutkan melalui jalur PT SRL di Desa Bayas, kemudian melalui akses kanal hingga puluhan kilometer menyisir hutan. Namun medan berat dan keberadaan satwa liar membuat tim kembali menarik diri.

Naik Perahu Lewati Hutan
Upaya tak berhenti sampai di situ. Tim gabungan kemudian bergeser ke wilayah Pelalawan melalui akses PT SPA. Empat jam perjalanan menggunakan perahu dan 1 kilometer rintisan baru dibuka.

"Kondisi di sana hutan rimbun dan saran dari pendamping membuat pencarian kembali dihentikan demi keselamatan personel. Tim kembali mencari jalur baru melalui PT BDL di Indragiri Hilir," katanya dilansir detikcom.

Tim gabungan Satreskrim Polres Inhu dan Polres Inhil berkoordinasi keesokan harinya. Dengan menggandeng KKSDA Indragiri, perjalanan menuju lokasi dilanjutkan menuju PT BDL.

"Sesampainya di titik konsolidasi tim mempersiapkan sarana prasarana speed boat dan logistik makanan dikarenakan akses menuju titik koordinat melalui jalur Sungai Kiri Gaung PT BDL yang akan menempuh jarak sekitar 57 kilometer hingga ujung sungai," katanya.

Sarang Harimau dan Buaya
Berikutnya, pada 2 Desember 2025, tim gabungan berangkat melalui akses jalur Sungai Kiri Gaung dan pada saat di perjalanan hari sudah malam tim memutuskan untuk beristirahat di pinggir sungai dan bermalam di atas speed boat. Keesokan harinya tim gabungan melanjutkan perjalanan sampai ke ujung Sungai Kiri Gaung dan tiba pada saat sore hari, kemudian tim melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki masuk ke hutan untuk melakukan penelusuran ke arah titik koordinat.

"Akan tetapi, pada saat diperjalanan tim menemukan adanya jejak tapak kaki Harimau Sumatera, di mana pada saat itu pihak dari BKSDA Indragiri menyampaikan jika jejak tapak kaki Harimau Sumatera tersebut merupakan jejak baru dan Harimau Sumatera tersebut tidak jauh dari lokasi. Lokasi tersebut merupakan perlintasan Harimau Sumatera," jelasnya.

Atas saran pihak BKSDA, perjalanan melalui area tersebut dihentikan dan tim segera keluar dari hutan. Selain itu, hari sudah malam sehingga tim kembali ke pos distrik BDL. Selanjutnya, tim melakukan koordinasi untuk mencari jalur tempuh terdekat dan teraman ke titik koordinat tumpukan kayu olahan illegal logging.

Pada 4 Desember 2025, sekitar pukul 04.00 WIB, tim gabungan melaksanakan apel dilanjutkan dengan sarapan bersama sambil mempersiapkan kebutuhan logistik berupa makanan untuk dibawa ke dalam hutan. Kemudian, pada pukul 04.30 WIB, tim berangkat menuju pos sekuriti yang berada di pinggir sungai kanan gaung dan pada pukul 05.30 WIB tiba di pos sekuriti PT MSK.

"Perjalanan dilanjutkan melalui aliran Sungai Kanan Gaung menggunakan pompon sebanyak sepuluh unit pompong. Salah satu anggota tim tinggal di pos sekuriti. Setelah tim bergerak anggota tim yang tinggal di pos sekuriti dan pihak sekuriti melihat seekor macan yang bergerak menghampiri pos sekuriti. Selama perjalanan tim gabungan banyak ditemukan rintangan kayu-kayu tumbang di tepi sungai dan jalur sungai sangat sempit dikarenakan ditutupi oleh tanaman rumput yang tumbuh di atas air," paparnya.

Perjalanan tim juga menghadapi kendala teknis seperti pompon yang rusak dan bocor. Belum lagi, di sungai yang kanan-kirinya itu hutan ternyata menjadi sarang buaya.

"Sungai tersebut kiri-kanannya adalah hutan dan banyak binatang buas, sedangkan di sungai terdapat banyak buaya, akan tetapi tim tetap melanjutkan perjalanan," ujarnya.***

Editor:
Akam Sophian

Kategori : Hukrim, Inhu
wwwwww
www.amsi.or.id