Home > Berita > Umum

Mengkhawatirkan! Kasus HIV/AIDS di Riau Capai 11 Ribu, Paling Banyak Tertular melalui Hubungan Seksual

Minggu, 30 November 2025 22:04 WIB
bmengkhawatirkan-kasus-hivaids-di-riau-capai-11-ribu-paling-banyak-tertular-melalui-hubungan
PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Penularan HIV/AIDS di Provinsi Riau hingga saat ini masih didominasi oleh hubungan seksual. Data terbaru Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Riau mencatat, kumulatif kasus AIDS berdasarkan faktor risiko hingga September 2025 menunjukkan kategori heteroseksual masih mendominasi dengan 2.721 kasus. Disusul homoseksual 1.178 kasus, pengguna narkoba suntik (IDU) 205 kasus, penularan dari ibu ke anak atau mother to child transmission (MTCT) sebanyak 128 kasus, penularan lain 54 kasus, serta melalui transfusi darah sebanyak 9 kasus.

Sekretaris KPAIDS Riau, Dr dr Wildan Asfan HSB, MKes, menjelaskan bahwa secara umum terdapat tiga aspek utama penularan HIV/AIDS.

Ketiganya meliputi penularan dari ibu ke bayi yang dikandung, penularan melalui darah, dan penularan melalui hubungan seksual.

”Dua dari tiga aspek tersebut kini bisa dikendalikan dengan lebih baik melalui sistem kesehatan. Namun yang sulit dikendalikan adalah penularan melalui hubungan seksual," kata dr Wildan, Ahad (30/11/2025).

Ia mengatakan, pada penularan dari ibu ke bayi, risiko dapat diminimalisir selama ibu melakukan pemeriksaan rutin selama masa kehamilan. Proses skrining pada ibu hamil memungkinkan tenaga kesehatan mendeteksi sejak dini jika ada infeksi, sehingga bisa dilakukan penanganan agar bayi tidak tertular. Program ini disebutnya sudah berjalan cukup efektif di fasilitas kesehatan.

Sementara untuk penularan melalui darah, Wildan menegaskan proses donor saat ini telah melalui skrining ketat oleh PMI sehingga relatif aman.

Selain itu, penggunaan satu jarum untuk satu orang sudah menjadi standar umum dalam pelayanan medis sehingga risiko penularan semakin kecil. Namun, ia mengingatkan bahwa penggunaan jarum suntik pada narkotika suntikan masih menjadi salah satu masalah yang perlu mendapat perhatian.

Penggunaan jarum secara bergantian pada kelompok pengguna narkoba suntik tetap menjadi potensi penularan yang signifikan dan sulit terkontrol.

Aspek ketiga yang menjadi tantangan terbesar adalah hubungan seksual. Wildan menyebut kelompok berisiko tinggi seperti pekerja seks, baik laki-laki maupun perempuan, serta lelaki seks lelaki (LSL), masih menyumbang kasus cukup besar. Lebih jauh, penularan kini mulai merambah ke lingkup rumah tangga maupun kelompok remaja dan mahasiswa.

”Kelompok remaja dan mahasiswa ini yang perlu kita selamatkan. Banyak pihak harus terlibat karena ini menyangkut perilaku," ujarnya dilansir tribunpekanbaru.com.

KPA sendiri berperan sebagai pusat informasi, koordinator, sekaligus wadah audiensi apabila terjadi kasus penolakan atau diskriminasi terhadap penderita.

Pendekatan Persuasif ke PSK Wildan mengungkapkan, pendekatan persuasif kepada Pekerja Seks Komersial (PSK) masih menjadi salah satu strategi penting. Penyebaran informasi harus sampai kepada kelompok ini agar mereka bisa mengantisipasi dan melindungi diri dari risiko penularan.

Kegiatan ini kerap dilakukan bersama sejumlah lembaga sosial. Saat ini Riau memiliki sekitar 20 LSM yang peduli terhadap isu HIV/AIDS. Keberadaan LSM dinilai sangat penting karena para penderita lebih nyaman berkomunikasi dengan mereka.

Menurut Wildan, sebagian penderita enggan berhubungan dengan petugas berseragam dan cenderung percaya kepada LSM yang bersifat lebih dekat dan tidak menghakimi. Namun di sisi lain, LSM juga menghadapi kendala biaya operasional.

Minimnya anggaran sering membuat aktivitas pendampingan menjadi terbatas, padahal mereka memegang peran besar dalam mendorong penderita untuk berobat dan mencegah mereka merasa dikucilkan.

”LSM ini ujung tombak, tetapi mereka juga butuh dukungan," jelasnya. Hingga September 2025, akumulatif orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di Provinsi Riau tercatat mencapai 11.078 orang.

Dari jumlah tersebut, sekitar 7.000 di antaranya masih tercatat aktif dalam pemantauan dan kontak dengan layanan kesehatan. Sementara sisanya termasuk yang sudah meninggal ataupun tidak lagi terhubung dengan layanan.

Sebaran Akumulatif ODHA per Kabupaten/Kota di Riau (hingga September 2025):

1. Pekanbaru : 6.463 2.
2. Bengkalis : 937
3. Dumai : 835
4. Pelalawan : 592
5. Rokan Hilir : 544
6. Indragiri Hilir : 460
7. Siak : 314
8. Rokan Hulu : 249
9. Meranti : 215
10. Indragiri Hulu : 205
11. Kampar : 159
12. Kuantan Singingi : 105

Editor:
Akam Sophian

Kategori : Umum, Riau
wwwwww
www.amsi.or.id