Home > Berita > Umum

Akademisi Riau Apresiasi Upaya Pemerintah Prabowo-Gibran dalam Pengelolaan Energi

Jum'at, 14 November 2025 22:10 WIB
Ofika Rahmat Julias
bakademisi-riau-apresiasi-upaya-pemerintah-prabowogibran-dalam-pengelolaan-energibFoto: Suasana diskusi bertajuk ”Satu Tahun Kabinet Prabowo-Gibran dari Sudut Pandang Energi” di sebuah hotel di Pekanbaru, Jumat (14/11/2025) siang. (POTRETMEWS.com/Ofika
PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Sejumlah akademisi di Pekanbaru memberikan apresiasi terhadap capaian pemerintah Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka dalam mengelola sektor energi, terutama dalam peningkatan lifting minyak dan gas (migas) yang dipimpin oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam diskusi bertajuk ”Satu Tahun Kabinet Prabowo-Gibran dari Sudut Pandang Energi” di sebuah hotel di Pekanbaru, Jumat (14/11/2025) siang. Pakar energi dari Universitas Islam Riau (UIR), Ira Herawati menilai bahwa pemerintah telah menunjukkan keseriusan dan komitmen yang kuat dalam memberikan fasilitas untuk meningkatkan lifting, baik dari segi teknologi, pembiayaan, insentif, maupun dukungan untuk Enhanced Oil Recovery (EOR).

”Saya mengikuti forum diskusi EOR, dan ada banyak unsur pemerintah di dalamnya. Informasi yang kami dapatkan dari pemerintah sangat masif dalam mendukung peningkatan EOR, walk-over, dan lain-lain. Upaya peningkatan lifting ini sangat terasa," ujar Ira.

Dengan adanya keseriusan ini, Ira optimistis target lifting minyak sebesar 1 juta barel per hari dapat tercapai. Saat ini, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri mencapai 1,6 juta barel per hari, sementara lifting hanya 600 ribu barel per hari, sehingga terdapat impor 1 juta barel untuk memenuhi kebutuhan harian.

Selain itu, Ira juga mengapresiasi langkah pemerintah dalam melegalkan 45 ribu sumur minyak rakyat. Menurutnya, hal ini tidak hanya meningkatkan angka lifting nasional, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat yang mengelola sumur-sumur tersebut.

”Efek dominonya adalah peningkatan ekonomi masyarakat lokal. Pendapatan masyarakat di sekitar lokasi sumur juga meningkat," tambahnya.

Dari sudut pandang ekonomi, ekonom Universitas Persada Bunda Indonesia, Riyadi Mustofa, berpendapat bahwa upaya pemerintah mengejar target lifting minyak 1 juta barel per hari adalah langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor. Peningkatan lifting akan memperbaiki struktur permintaan dan penawaran energi nasional.

”Jika lifting mencapai 1 juta barel per hari, akan terjadi keseimbangan pasar, di mana jumlah permintaan sesuai dengan jumlah barang yang tersedia," katanya.

Riyadi juga menjelaskan bahwa multiplier effect akan terjadi, terutama dalam stabilitas harga bahan pokok, jika lifting minyak mencapai target. Dengan stok yang melimpah, harga BBM akan lebih stabil dan tidak mudah terpengaruh oleh gangguan distribusi.

”Energi, khususnya BBM, adalah kunci dalam perekonomian. Oleh karena itu, saya setuju dengan peningkatan lifting karena dapat meningkatkan pasokan. Harapannya, harga BBM di dalam negeri menjadi lebih murah, dan subsidi dapat dikurangi atau ditekan," lanjutnya.

Sementara itu, pakar komunikasi publik dari Universitas Riau (Unri), Chelsy Yesicha, menilai bahwa langkah pemerintah mendorong lifting nasional melalui legalisasi sumur minyak rakyat sudah tepat.

Menurutnya, ini adalah langkah nyata swasembada energi pemerintahan Prabowo-Gibran, seperti yang tertuang dalam Asta Cita, dengan membuka partisipasi masyarakat.

Namun, Chelsy mengingatkan bahwa kebijakan ini harus disertai pengawasan yang ketat untuk mencegah munculnya konflik baru akibat semakin banyaknya masyarakat yang ingin membuat sumur minyak baru.

”Jika berjalan dengan baik, dengan kontrol yang baik, pemeliharaan lingkungan yang baik, dan pengawasan yang baik, serta tidak memicu konflik di masyarakat, itu akan lebih baik. Pemerintah harus bisa mengontrol potensi konflik yang mungkin muncul," ujarnya.

Sebelumnya, pemerintah menargetkan produksi minyak Indonesia mencapai 1 juta barel per hari pada tahun 2030, dengan strategi agresif di sektor eksplorasi, reaktivasi sumur tua, dan penerapan teknologi enhanced oil recovery (EOR).

Realisasi lifting minyak hingga akhir tahun ini diproyeksikan mencapai rata-rata 607.000 barel per hari (BOPD), melampaui target APBN 2025 sebesar 605.000 BOPD.

Optimisme ini sejalan dengan pernyataan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaeman, yang menyebutkan bahwa total cadangan minyak bumi dan kondensat nasional mencapai 4,4 miliar barel, sementara cadangan gas bumi mencapai 55.850 BSCF (Billion Standard Cubic Feet).

Data menunjukkan bahwa cadangan minyak dan kondensat terbesar berada di Sumatera Bagian Tengah dengan total 1.327,46 juta barel, diikuti oleh Jawa bagian timur sebesar 878,28 juta barel, dan Kalimantan sebesar 573,82 juta barel.***

Kategori : Umum, Riau
wwwwww
www.amsi.or.id