PEKANBARU, ASAHAN, POTRETNEWS.com — Faisal Lubis, seorang warga Desa Kota Lama, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Riau, sedih tiada terkira. Betapa tidak, kebun sawitnya tiba-tiba dipanen sekelompok orang yang tak bertanggung jawab.
”Mereka panen sawit di kebun saya kemarin. Kalau dihitung ada sekitar 2 ton yang mereka panen. Kebun saya itu sekitar 25 hektare. Saya tidak kenal mereka," kata Faisal kepada Kompas.com melalui sambungan telepon, Sabtu (18/10/2025).
Dia menyebut, sekelompok orang itu datang membawa egrek alat panen sawit dan beberapa mobil.Kelompok tersebut juga memasang spanduk di kebunnya, yang bertulisan ’lahan ini dikelola oleh CV Ginting Sukses Abadi KSO (Kerja Sama Operasional) PT. Agrinas Palma Nusantara'.”Di spanduk itu juga ada tulisan dilarang masuk. Padahal itu kebun sawit saya. Kenapa mereka tiba-tiba datang merampok hasil kebun saya. Makanya tadi pagi saya sudah laporkan ke Polres Rohul," kata Faisal.
Faisal menjelaskan, pada saat sekelompok orang itu datang, penjaga kebunnya, Roberto, sempat bertanya. Akan tetapi, salah seorang dari kelompok tersebut menyampaikan sawit ini mereka panen atas perjanjian kerja sama dengan PT Agrinas Palma Nusantara.Kelompok tersebut juga mengatakan tidak masalah jika dilaporkan ke polisi dan mereka akan tetap panen.”Kebetulan saya lagi di Pekanbaru, jadi saya datang menemui manajemen PT Agrinas Palma Nusantara. Ternyata mereka bilang tindakan pemanenan secara paksa kebun sawit saya tidak dibenarkan. Mereka juga menyarankan lapor polisi," sebut Faisal dilansir
kompas.com.Namun, hasil koordinasi dengan Roberto selaku penjaga kebun, kelompok tersebut menyatakan bahwa panen sawit dilakukan atas perintah Agrinas Pusat.Faisal pun bingung. Apalagi, lahannya selama ini tidak pernah didatangi Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH). Dia membeli lahan itu tahun 1997 dengan surat keterangan ganti rugi (SKGR). Tanah dibeli dari warga dan saat itu masih berupa kebun karet tua. Pada tahun 1998, Faisal menggantinya dengan kebun sawit.
”Kalau lahan kebun saya itu masuk kawasan hutan, kenapa tidak ada diinfokan oleh Satgas PKH. Tidak pernah diukur, dipasang patok, di pasang plang dan tidak pernah ada sosialisasi oleh Satgas PKH."”Kok ada sekelompok orang tiba-tiba datang, memasang baliho dan langsung memanen sawit saya. Enak sekali orang itu mau memanenya," ujarnya. Akibat pemanenan paksa yang dilakukan sekelompok orang tersebut, Faisal Lubis dirugikan secara meteriil dan immateriil.”Kalau memang itu lahan masuk dalam kawasan hutan, harusnya disampaikan baik-baik. Saya serahkan, karena tak mungkin negara dilawan," kata Faisal.Selain itu Faisal juga berharap kepada pemerintah dan PT Agrinas Palma Nusantara, agar memberi perhatian terhadap persoalan ini. Sebab berpotensi menyebabkan konflik di tengah-tengah masyarakat.”Kami tidak mau berkonflik, apalagi sampai kontak fisik. Saya harap para pelaku yang terlibat diproses hukum. Saya merasa keberatan dan rugi besar. Saya juga minta kejelasan, jangan mereka datang seperti perampok," pungkas Faisal.***
Editor:Akam Sophian