Tak Ikuti Antrean, Antarpengguna Penyeberangan Ro-Ro Air Putih Bengkalis Ricuh
![]() |
Mahasiswa dari Aliansi Gerakan Rakyat dan Mahasiswa Kabupaten Bengkalis terlibat perdebatan dengan pengemudi mobil yang memotong antrean di pelabuhan Ro-Ro Air Putih Bengkalis, Jumat (5/9/2025) sore. (Abu Kasim/Riaupos.co) |
BENGKALIS, POTRETNEWS.com — Kendati baru di demo oleh Aliansi Gerakan Rakyat dan Mahasiswa Kabupaten Bengkalis, namun tak membuat serta merta ada perubahan dalam pelayanan di penyeberangan Ro-Ro Air Putih Bengkalis.
Malah sebaliknya lebih parah. Karena tak mentaati aturan antrean, akhirnya antarpengguna Ro-Ro Air Putih Bengkalis sempat ricuh dan bersitegang. Karena petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Bengkalis bukan mencarikan solusi, melainkan kabur saat ada ricuh antar pengguna ro-ro. "Ya, dua hari setelah aksi mahasiswa, kami langsung melakukan peninjauan ke Pelabuhan Ro-Ro Air Putih, namun di luar dugaan adanya kericuhan di lapangan," ujar mahasiswa Aliansi Gerakan Rakyat dan Mahasiswa Kabupaten Bengkalis, Syahrul Mizan, Jumat (5/9/2025).Ia menyebutkan, hasil peninjauan lapangan menunjukkan, bahwa praktik-praktik mobil menerobos masuk tanpa mengikuti jalur antrean masih banyak, tanpa tindakan tegas dari petugas Dishub Bengkalis. "Ketika mahasiswa mempertanyakan hal ini kepada petugas, mereka hanya mengelak dan menyatakan "Aku pening dah. Tentu tindakan petugas ini menunjukkan ketidakpedulian terhadap aturan dan prosedur yang berlaku," tegasnya seperti dilansir Riaupos.co.Ia menyebutkan, peristiwa ini memicu kericuhan antara mahasiswa dan pemilik mobil, lantaran pihak Dishub Bengkalis malah lari untuk menghindar. Pemilik mobil berdalih bahwa mereka diperbolehkan mengganti antrean dengan mobil lain sesuai peraturan. Namun, katanya lagi, mahasiswa meminta klarifikasi tentang aturan yang mengizinkan hal tersebut. Pemilik mobil menjawab bahwa praktik ini telah berlangsung lama dan diperbolehkan oleh petugas Dishub.Kericuhan ini merupakan puncak dari ketidakpuasan masyarakat, terhadap sistem layanan penyeberangan yang dinilai tidak konsisten. Masyarakat merasa bahwa pelayanan penyeberangan tidak adil dan tidak transparan. "Praktik penggantian antrean yang tidak jelas aturannya, menimbulkan kecemburuan dan ketidakpuasan di kalangan masyarakat," jelas Mizan.Roy Pribadi

























