Di HUT ke-68, Gubernur Riau Bertekad Jadikan Riau Pelopor Kawasan Hijau, Bukan Penyumbang Asap

<b>Di HUT ke-68, Gubernur Riau Bertekad Jadikan Riau Pelopor Kawasan Hijau, Bukan Penyumbang Asap</b>

Gubernur Riau, Abdul Wahid dalam perayaan ulang tahun Riau ke-68 bertekad agar Provinsi Riau dapat menjadi paru-paru dunia. (afrila yobi/goriau.com)

Sabtu, 09 Agustus 2025 10:52 WIB

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Gubernur Riau, Abdul Wahid, menyerukan komitmen bersama untuk menjadikan Riau sebagai pelopor kawasan hijau, bukan lagi dikenal sebagai penyumbang asap. Seruan ini disampaikan dalam Apel peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Riau di halaman Kantor Gubernur, Sabtu (9/8/2025).

“Tantangan besar kita saat ini adalah lingkungan. Lingkungan hidup Riau tidak boleh lagi dikenal sebagai penghasil asap,” ujar Wahid.

Ia mengutip petuah dalam Tunjuk Ajar Melayu, alam dijaga, petuah diingat, pantang merusak hutan dan tanah, sebagai kompas moral orang Melayu dalam memperlakukan alam sebagai titipan, bukan warisan.

Menurutnya, melestarikan lingkungan adalah bagian dari etika dan amanah hidup. “Jika alam dirusak, runtuh pula marwah bangsa. Mari kita wujudkan Riau bukan sebagai penyumbang asap, tetapi pelopor kawasan hijau, provinsi paru-paru dunia yang sehat, lestari, dan bermartabat,” tegasnya seperti dilansir GoRiau.

Dalam kesempatan itu, Wahid mencanangkan gerakan menanam pohon bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemerintah Provinsi Riau. Setiap ASN diwajibkan menanam sembilan bibit pohon per tahun. “Langkah kecil ini mungkin belum terasa hari ini, tapi lima atau sepuluh tahun ke depan, pohon-pohon ini akan menjadi naungan bagi anak cucu kita, sumber air bersih, penyegar udara, dan penanda cinta pada bumi,” ujarnya.

Wahid juga mengutip pesan Tuan Guru Almarhum Tenas Effendi yang menyebut bahwa terpeliharanya lingkungan akan membawa banyak manfaat dari kayu, tumbuhan, hewan, hingga buah yang membawa berkah. Namun, ia mengingatkan, sebesar apa pun upaya pemerintah, jika pembakaran lahan masih dilakukan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akan terus terjadi. “Kita tidak bisa hanya bergantung pada pemadaman dan pengawasan. Perubahan harus dimulai dari cara berpikir, cara bertani, hingga cara mewariskan nilai-nilai kepada generasi muda,” katanya.

Wahid menutup dengan pantun: Api kecil menjadi teman, api besar menjadi lawan. Hutan terbakar, negeri tercemar. Kalau merusak demi untung, yang rugi seluruh kampung. ***

Editor:
Roy Pribadi

wwwwww
www.amsi.or.id