Ampuh Usir Gajah, Sereh Kini Digagas untuk Ekonomi Warga

<b>Ampuh Usir Gajah, <i>Sereh</i> Kini Digagas untuk Ekonomi Warga</b>
Jum'at, 08 Agustus 2025 20:11 WIB

JAKARTA, POTRETNEWS.com — Penanganan konflik gajah Sumatera dengan manusia tak bisa memakai solusi tunggal. Di Aceh, konflik sempat ditangani dengan menghalau gajah menggunakan meriam. Di Afrika, memakai cabai.

Untuk mengatasi konflik serupa di Ogan Komering Ilir, Sumatera SelatanYayasan Belantara memanfaatkan tanaman sereh (serai). Masyarakat menanam sereh wangi sebagai pagar alami untuk mencegah gajah memasuki permukiman. "Karena masyarakat tahu gajah tidak suka dengan wangi sereh," kata Dolly Priatna, Direktur Eksekutif Belantara Foundation pada Jumat (8/8/2025) seperti dilansir KOMPAS.

Dolly mengatakan, memanfaatkan sereh untuk mengusir gajah bisa memberi tambahan bagi ekonomi warga. Pengadaan mesin penyulingan minyak atsiri dapat mengembangkan nilai ekonomi sereh, sehingga tidak dijual sebagai produk mentah. "Kita ingin membenahi dulu masalahnya, supaya gajah itu diminimalisir mengganggu padinya masyarakat. Supaya penerimaan masyarakat bagus dululah terhadap kehadiran gajah," urai Dolly.

Jika penerimaan masyarakat bagus, maka wilayah OKI berpotensi dikembangkan untuk jadi lokasi ekowisata melihat gajah. Gajah di wilayah OKI berada di dalam hutan produksi. Maka, kata dia, perlu menyediakan tanaman yang menjadi pakan gajah hingga membuat titik-titik salt lick buatan untuk memenuhi kebutuhan perilaku menggaram.

Ia berharap, intervensi tersebut dapat membuat gajah lebih betah di habitatnya dan mengurangi frekuensi mereka memasuki wilayah pemukiman masyarakat. Ia memperkirakan, saat ini ada sekitar 100-120 ekor gajah yang hidup di wilayah OKI.

Dalam lima tahun terakhir, frekuensi gajah masuk ke desa semakin meningkat dan kerap merusak tanaman padi milik warga. Yang paling terdampak keberadaan gajah adalah masyarakat transmigran yang wilayah pertaniannya berbatasan langsung dengan habitat gajah. Konflik dengan gajah itu bermula masalah ketika para transmigran mulai membuka lahan di wilayah Padang Sugihan sekitar tahun 1982.

Gajah merupakan bagian dari ekosistem di wilayah Padang Sugihan. Ketika mulai mengganggu pertanian warga, gajah-gajah tersebut sempat digiring ke wilayah yang lebih jauh, sekitar 60-70 kilometer ke selatan. Namun, beberapa tahun kemudian, gajah-gajah itu kembali dan berkembang biak di sekitar desa, sehingga konflik pun tak terhindarkan. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Lingkungan
wwwwww
www.amsi.or.id