Home > Berita > Umum

Gudang Garam, Raksasa Rokok Nasional Setop Sementara Pasokan Tembakau Temanggung

<b>Gudang Garam, Raksasa Rokok Nasional Setop Sementara Pasokan Tembakau Temanggung</b>

Ilustrasi Tembakau. (Getty Images)

Minggu, 22 Juni 2025 18:29 WIB

JAKARTA, POTRETNEWS.com — PT Gudang Garam untuk sementara waktu menghentikan pembelian tembakau dari wilayah Temanggung, Jawa Tengah, dengan alasan utama terjadinya penurunan signifikan dalam penjualan rokok di Indonesia.

Hal ini disampaikan oleh Bupati Temanggung Agus Setyawan, pada Minggu, 15 Juni 2025 di Temanggung. Ia juga menambahkan bahwa selain penurunan penjualan, harga saham perusahaan tersebut turut mengalami penurunan drastis. Sebelumnya, harga saham Gudang Garam sempat mencapai Rp 90 ribu per lembar, namun kini turun menjadi sekitar Rp 9.600 per lembar.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus usai kunjungan ke PT Gudang Garam di Kediri bersama sejumlah anggota DPRD Temanggung dan Komite Pertembakauan Kabupaten Temanggung.

"Jadi memang tidak lagi kondusif untuk membeli bahan baku khususnya dari Temanggung," katanya seperti dilansir Tempo.co yang mengutip Antaranews.

Menurut Agus, saat ini stok bahan baku tembakau di PT Gudang Garam memang sedang dalam kondisi melimpah.

Bahkan, jika diproses sesuai kapasitas produksi saat ini, persediaan tersebut diperkirakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga empat tahun ke depan. Informasi ini disampaikan langsung oleh pihak manajemen PT Gudang Garam di Kediri.

Terkait dengan pengembangan kawasan industri hasil tembakau di tingkat kabupaten, ia mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan rekan-rekan dari Bea Cukai yang menyatakan akan memberikan kemudahan dalam pengurusan perizinan cukai.

"Kita akan mencoba untuk bisa merintis itu dan kemarin dari asisten dua sudah mengajukan ke saya untuk rintisan di tahun 2026, tapi apakan nanti bisa direalisasi kita lihat nanti. Kita masih berhitung karena efisiensi dan macam-macam," katanya.

Profil PT. Gudang Garam

PT Gudang Garam Tbk., salah satu produsen rokok terbesar di Indonesia, memulai perjalanannya dari sebuah usaha rumahan pada 1956. Bermula dari lahan seluas 1.000 meter persegi di Jalan Semampir II/1 Kediri, Tjoa Ing-Hwie (kemudian dikenal sebagai Surya Wonowidjojo) memproduksi kretek kelobot dengan merek Inghwie.

Dua tahun kemudian, tepatnya pada 26 Juni 1958, perusahaan berganti nama menjadi “Perusahaan Rokok Tjap Gudang Garam”. Nama ini konon terinspirasi dari mimpi pendirinya. Di awal operasionalnya, Gudang Garam hanya mempekerjakan 50 orang.

Dinukil dari P2K Stekom, pada 1966, Gudang Garam mencatat sejarah sebagai produsen sigaret kretek tangan (SKT) terbesar di Indonesia. Meski sempat terdampak krisis politik, perusahaan bangkit dan terus berekspansi. Kemudian pada 1971, status hukumnya berubah menjadi perseroan terbatas (PT), dan dua tahun setelahnya Gudang Garam mulai mengekspor produknya ke luar negeri.

Jika perusahaan pesaing sudah mengadopsi mesin, Gudang Garam baru menggunakan mesin pembuat rokok pada 1979.

Hasilnya, kapasitas produksi melonjak dua kali lipat dari 9 menjadi 17 miliar batang per tahun. Memasuki dekade 1980-an, perusahaan mengoperasikan pabrik seluas 240 hektare, memproduksi satu juta batang per hari, dan menyetor cukai lebih dari Rp1 miliar per tahun.

Pada masa keemasannya, Gudang Garam menguasai 38 persen pasar rokok nasional, dengan lebih dari 37.000 karyawan dan fasilitas yang termasuk helikopter pribadi. Fokus utama perusahaan tetap pada produksi rokok dan kertas rokok, namun aktivitas CSR pun mulai dijalankan, seperti dukungan terhadap olahraga tenis meja.

Memasuki era 1990-an, Gudang Garam berkembang menjadi salah satu konglomerasi terbesar kelima di Indonesia. Ketahanan finansialnya, khususnya minimnya utang luar negeri, membuat perusahaan ini tidak terlalu terdampak krisis ekonomi Asia 1997–1998.

Pada 27 Agustus 1990, Gudang Garam resmi melantai di bursa saham dengan melepas saham di Bursa Efek Jakarta dan Surabaya. Mayoritas saham tetap dikendalikan keluarga pendiri melalui PT Suryaduta Investama.

Pada 2017, Gudang Garam menguasai sekitar 21% pangsa pasar rokok nasional. Di tahun yang sama, Japan Tobacco mengakuisisi dua anak perusahaan Gudang Garam, yaitu PT Karyadibya Mahardika dan PT Surya Mustika Nusantara. Meskipun isu akuisisi penuh sempat beredar, Gudang Garam membantah rumor tersebut.

Terus berinovasi, pada 2021 perusahaan membentuk tiga anak usaha untuk menjajal bisnis rokok elektrik, dan di tahun 2022, mendirikan PT Surya Kerta Agung untuk memasuki sektor pengelolaan jalan tol.

Tak hanya itu, Gudang Garam juga menanamkan investasi Rp1 triliun untuk pengelolaan Bandara Dhoho di Kediri melalui PT. Surya Dhoho Investama.

Kini, lebih dari enam dekade setelah didirikan, Gudang Garam tetap menjadi ikon industri rokok kretek nasional dengan jejak bisnis yang terus berkembang, baik di dalam negeri maupun pasar internasional. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id