Kepulauan Meranti Terancam Abrasi, Kades: 5 Tahun Lagi Bakal Tinggal Sejarah, jika...

<b>Kepulauan Meranti Terancam Abrasi, Kades: 5 Tahun Lagi Bakal Tinggal Sejarah, jika...</b>
Sabtu, 21 Juni 2025 05:45 WIB

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Abrasi terus mengancam permukiman warga Desa Permai di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Dampaknya tidak hanya menggerus rumah-rumah warga, tetapi juga fasilitas umum yang ada di desa tersebut.

Desa Permai terletak di pengujung Kecamatan Rangsang Barat, berhadapan langsung dengan Selat Malaka, laut yang memisahkan Indonesia dengan Malaysia.

Setiap hari, abrasi pantai semakin mengancam kehidupan masyarakat setempat, yang kini merasa sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah pusat.

Kepala Desa Permai, Azman mengungkapkan, setiap September biasanya masyarakat mulai cemas akibat pasang dalam dan ombak besar yang menggerus bibir pantai.

"Kalau sudah masuk bulan September, warga mulai resah dengan abrasi. Pengikisan pantai diperkirakan 15 hingga 20 meter per tahunnya," kata Azman saat diwawancarai Kompas.com melalui sambungan telepon, seperti dilansir KOMPAS.com pada Jumat (20/6/2025).

Azman menjelaskan, luas wilayah Desa Permai yang semula sekitar 45 kilometer persegi kini hanya tersisa sekitar 20 kilometer persegi.

Selain itu, jalan poros desa yang berjarak 1 kilometer dari bibir pantai kini hanya tinggal 60 meter.

"Di sekitar jalan poros yang tergerus abrasi, adalah bekas perkebunan kelapa dan permukiman masyarakat," tambahnya.

Lebih lanjut, Azman menekankan, di sekitar jalan poros terdapat tiga sekolah, kantor desa, rumah ibadah, dan posyandu yang merupakan tempat pelayanan kesehatan masyarakat. Sarana-sarana ini terancam hanyut akibat abrasi jika tidak segera ditangani. Batu Pemecah Ombak Solusi yang dianggap paling tepat oleh Azman adalah pembangunan batu beronjong atau pemecah ombak.

"Tidak menutup kemungkinan sarana yang ada ini tergerus abrasi, karena cuma tinggal sekitar 60 meter lagi dari bibir pantai. Kalau tidak dibangun batu pemecah ombak, lima tahun ke depan kampung bakal tinggal sejarah," tegas Azman.

Oleh karena itu, Azman berharap kepada pemerintah pusat agar dapat segera membangun batu pemecah ombak sepanjang kurang lebih 3,5 kilometer.

"Sebelumnya sudah dibangun oleh PUPR Provinsi Riau sekitar 500 meter. Tapi, itu belum cukup untuk menopang ombak. Sekarang pemerintah provinsi sedang mengalami defisit anggaran, makanya kami berharap pertolongan pemerintah pusat," pungkas Azman. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Lingkungan, Meranti
wwwwww
www.amsi.or.id