Home > Berita > Umum

6 Warga Jabar Kabur dari Pekerjaan di Pengolahan Kayu Akasia di Riau; Pelarian Penuh Derita Selama 3 Hari 3 Malam Lewati Kanal-Kanal di Hutan

<b>6 Warga Jabar Kabur dari Pekerjaan di Pengolahan Kayu Akasia di Riau; Pelarian Penuh Derita Selama 3 Hari 3 Malam Lewati Kanal-Kanal di Hutan</b>

Warga Garut yang sempat terlantar di hutan belantara di wilayah Riau, menjalani pemeriksaan kesehatan di Puskesmas DTP Tarogong. (kabargarut.com)

Senin, 09 Juni 2025 21:44 WIB

TASIKMALAYA, POTRETNEWS.com — Enam warga asal Kabupaten Garut harus menempuh pelarian penuh bahaya selama tiga hari tiga malam di hutan belantara Riau demi menyelamatkan diri dari pekerjaan yang dianggap menipu mereka.

Pekerjaan yang dijanjikan berbeda dengan kenyataan, membuat mereka memilih jalan ekstrem, yaitu kabur tanpa ongkos, melewati kanal-kanal dalam dan hutan lebat, hanya dengan bekal mie instan. Setiawan (27), warga Kecamatan Cigedug, mengisahkan awal mula keberangkatan mereka yang penuh ketidakpastian.

Awalnya dirinya diajak salah seorang teman untuk ikut bekerja di daerah Riau. Karena saat itu dirinya tengah menganggur, maka tanpa pikir panjang ia langsung mengiyakan ajakan tersebut, terlebih gaji yang dijanjikan sangat menggiurkan.

Semula, katanya, disepakati mereka akan berangkat pada tanggal 24 April, tapi ternyata mundur, jadi baru berangkat tanggal 30 April. Bersama dirinya saat itu, ada juga 7 warga lainnya, 5 berasal dari Garut, satu orang dari Tasikmalaya, dan satu orang berasal dari Cianjur. "Sesampainya di lokasi yang dijanjikan, harapan akan pekerjaan yang layak segera pupus. Katanya kerja di pengolahan kayu putih, tapi ternyata malah kerja di pengolahan kayu akasia untuk bahan kertas dengan lahan mencapai puluhan bahkan mungkin ratusan hektare,” kata Setiawan saat ditemui di Puskesmas DTP Tarogong, Senin, 9 Juni 2025.

Meski sadar telah ditipu, imbuh Setiawan, namun mereka masih berusaha bertahan untuk terus bekerja agar punya uang untuk bekal pulang ke kampung halaman. Namun setelah dua minggu bekerja, mereka sudah tak tahan lagi karena beban pekerjaan yang harus mereka pikul terlalu berat.

Terlebih, tuturnya, mereka mendapatkan informasi jika upah kerja yang akan mereka dapatkan sangat kecil, jauh dari apa yang sebelumnya dijanjikan. Masalah semakin rumit ketika orang yang yang membawa mereka pergi ke Riau, malah kabur dengan membawa uang upah milik mereka.

“Kami panik, kebingungan. Sudah jauh dari rumah, tanpa uang, dan pekerjaan pun tidak sesuai. Kami akhirnya memutuskan untuk kabur juga, tanpa tahu pasti arah pulang dan tanpa bekal uang sepeser pun,” ucapnya.

Pada 29 Mei, mereka memulai pelarian. Mereka harus melewati empat kanal dengan kedalaman hingga delapan meter dan lebar delapan meter. Sedangkan dari delapan orang itu, tidak semuanya bisa berenang sehingga sebagian terpaksa harus ditarik dengan menggunakan jeriken.

Setiawan menuturkan, untuk dapat melewati satu kanal, mereka membutuhkan waktu lima jam. Jadi mereka membutuhkan waktu 20 jam untuk bisa melewati empat kanal tersebut. Setelah berhasil melewati empat kanal, tambahnya, mereka masih harus melalui hutan belantara yang sama sekali tidak ada jalan untuk mereka lalui karena semua akses tertutup oleh akar-akar besar.

Dengan hanya menggunakan peralatan seadanya, mereka pun kini harus bekerja ekstra keras membuka jalan dengan cara membabat akar dimana dalam waktu satu jam hanya berhasil membuka jalan 10 meter saja.

"Kondisi kami saat itu benar-benar repot akibat minimnya peralatan serta minimnya perbekalan. Kami memang sempat membawa beras dan mie instan tapi kami tak membawa peralatan apa pun untuk memasak sehingga akhirnya hanya bisa makan mie instan, itupun dimakan mentah,” tambah Panji, warga Kelurahan Ciwalen, Kecamatan Garut Kota.

Belum lagi, ungkapnya, mereka saat itu harus bisa menyelamatkan diri dari ancaman binatang buas yang masih banyak ditemukan baik saat berada di kanal maupun hutan belantara. Binatang buas yang menjadi ancaman bagi mereka mulai dari ular, buaya, hingga macan.

Sampai pada akhirnya, tutur Panji, di hari ketiga pelariannya mereka bertemu seorang warga yang sedang mencari madu hutan.

Setelah berbincang panjang, mereka diajak ke sebuah camp dan bermalam di sana. Keesokan harinya, mereka dibawa ke perkampungan terdekat dan tinggal selama dua malam, diberi makan dan tempat beristirahat.

Namun ternyata perjalanan dan penderitaan mereka belum selesai. Saat hendak menuju pelabuhan sawit untuk mencari tumpangan, mobil pengangkut menolak membawa mereka karena takut begal. Hingga mereka pun kembali harus menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki.

Untungnya, informasi mereka sampai ke Dinas Sosial setempat yang kemudian berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Garut yang kemudian membantu kepulangan mereka ke Garut.

Pemkab Garut Turun Tangan

Pemerintah Kabupaten Garut akhirnya turun tangan. Lewat koordinasi dengan Dinas Sosial dan pihak terkait di Riau, keenam warga Garut bersama satu warga Cianjur dan satu warga Tasikmalaya berhasil dipulangkan ke daerah asal.

Kepala Dinas Sosial Kabupaten Garut, Aji Sukarmaji, menyebutkan keenam warga Garut yang sempat terlantar di hutan belantara di Riau itu yakni Setiawan (Cigedug), Panji (Ciwalen), Eri (Tarogong), Tatan (Sukadana), Raisa (Jayaraga), dan Irwan (Cisurupan).

Bersama mereka ada juga Bayu dari Tasikmalaya dan seorang warga Cianjur yang namanya belum diketahui karena sudah pulang duluan sebelum dilakukan pendataan.

“Kami mendapat laporan bahwa ada warga Garut yang mengalami kesulitan di Riau. Setelah berkoordinasi dengan pihak terkait di sana, mereka akhirnya berhasil dipulangkan ke kampung halaman,” ujar Aji.

Para pekerja tersebut diketahui sempat bekerja di sektor kehutanan, namun mengalami masalah karena pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan yang dijanjikan sejak awal. Akibatnya, mereka terlantar dan tidak memiliki biaya untuk kembali ke Garut.

Aji menambahkan, Pemkab Garut berkomitmen untuk terus memberikan perlindungan bagi warganya, terutama yang bekerja di luar daerah. Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dan memastikan legalitas pekerjaan sebelum menerima tawaran kerja di luar wilayah.

Kisah mereka menjadi potret suram realita pekerja migran informal antardaerah akibat rentan ditipu, terlantar, dan dipaksa bertaruh nyawa demi bertahan hidup. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id