Home > Berita > Umum

Sejarah Sate, Olahan Favorit di Indonesia Tiap Hari Raya Idul Adha

<b>Sejarah Sate, Olahan Favorit di Indonesia Tiap Hari Raya Idul Adha</b>
Jum'at, 06 Juni 2025 09:40 WIB

JAKARTA, POTRETNEWS.com — Sate adalah makanan pilihan orang Indonesia tiap merayakan hari raya kurban Idul Adha. Masyarakat di Indonesia biasanya akan memasak sate setelah mendapat jatah daging sapi atau kambing usai penyembelihan hewan kurban Idul Adha.

Olahan favorit di Hari Raya Idul Adha ini sebenarnya telah menjadi makanan umum orang Indonesia sehari-sehari.

Sate banyak dijajakan di warung-warung dan restoran di seluruh Indonesia, dengan karakteristik olahannya masing-masing.

Lantas, sejak kapan sate muncul di Indonesia? Dari mana asal-usul sate?

Suasana Idul Adha di Palestina, Kondisi Serba Terbatas, Hewan Kurban Langka dan Mahal

Lantas, sejak kapan sate muncul di Indonesia? Dari mana asal-usul sate? Seperti dilansir KOMPAS.com.

Asal-usul Sate

Asal-usul sate sejatinya masih belum begitu jelas. Kata "sate" diduga berasal dari Tiongkok.

Kata "sa" berarti tiga, sedangkan "te" artinya butir. Menurut William Wongso, rangakaian kata dari bahasa Hokkian itu dapat merujuk pada olahan daging yang ditusuk.

Kendati demikian, pakar kuliner Indonesia itu ragu bahwa sate berasal dari Tiongkok. Hal ini ia ungkapkan dalam buku Sate: Keberagaman di Atas Arang (2022) terbitan Pusat Data dan Analisis Tempo.

Kata William Wongso, sate yang dibakar dan ditusuk hanya berasal dari Xinjiang, daerah berpenduduk muslim di China, yang terpengruh makanan Timur Tengah.

Seperti di Arab, lanjut William, sate di Xinjiang memakai daging kambing. Menurutnya, tak ada lagi sate di China selain di Xinjiang.

William Wongso menduga bahwa sate berasal dari Timur Tengah sebagai versi kecil dari kebab. Jejak Timur Tengah atau China kemungkinan langsung hilang begitu sate masuk ke Indonesia.

Berbagai teori juga mengaitkan kemunculan sate dengan pengaruh budaya asing, seperti Arab dan India.

Bahkan, ada kisah yang menyebut para pedagang Arab abad ke-15 membawa kebab saat berkunjung ke Indonesia. Hal ini dianggap sebagai awal mula kemunculan teknik membakar daging pada tusukan.

Sebaliknya, teori lain menyebutkan bahwa pedagang Tamil dan Gujarat dari India juga mengenalkan tradisi memasak serupa di Jawa. Sementara itu, thespruceeats.com cenderung menyebut sate merupakan makanan khas di wilayah Asia Tenggara. Sebab, selain Indonesia, sate juga bisa ditemukan di Thailand, Malaysia, Singapura, hingga Vietnam.

Popularitas Sate di Nusantara

Popularitas sate di Nusantara, khususnya wilayah Indonesia, mulai mencuat pada abad ke-19. Pedagang sate kaki lima bermunculan di Jawa. Daerah seperti Ponorogo menjadi salah satu pusat penyebarannya, dengan modifikasi rasa dan bahan sesuai selera lokal.

Dari sana, sate menyebar ke seluruh nusantara, menciptakan berbagai varian unik seperti Sate Madura, Sate Padang, dan Sate Lilit Bali. Sate Madura menggunakan daging ayam atau kambing dengan saus kacang yang manis dan gurih.

Sate Padang dikenal dengan kuah kental berbumbu kunyit. Sate Lilit Bali dibuat dari campuran ikan dan kelapa parut, dibungkus pada batang serai.

Setiap daerah menambahkan elemen khasnya, baik dari segi bahan baku maupun cara penyajian, sehingga menciptakan keragaman tersendiri.

Seiring perkembangan zaman, sate telah menjadi lebih dari sekadar makanan jalanan. Hidangan ini kini hadir di restoran kelas atas dengan variasi yang lebih beragam. Tusukan bambu tradisional digantikan dengan jeruji logam, dan daging yang digunakan mencakup bahan premium seperti wagyu.

Di Indonesia, sate tidak hanya menggunakan daging ayam, kambing, atau sapi. Ada pula varian unik seperti sate kelinci, sate tahu, dan bahkan sate vegetarian. Akan tetapi, tiap bertepatan dengan momen Idul Adha, sate kambing dan sate sapi bakal sering dijumpai di rumah-rumah. Sate telah menjadi masakan favorit Idul Adha bagi masyarakat Indonesia. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Umum
wwwwww
www.amsi.or.id