Anak Kepala SMP di Bekasi Pukul Siswa yang Diduga Mengkritik Dugaan Korupsi di Sekolah

Minggu, 25 Mei 2025 14:01 WIB
banak-kepala-smp-di-bekasi-pukul-siswa-yang-diduga-mengkritik-dugaan-korupsi-di-sekolahbUnggahan foto untuk mengkritik pengurus sekolah di sosial media yang berujung pada kasus penganiayaan terhadap seorang siswa SMP di Kota Bekasi, Mei 2025.

BEKASI, POTRETNEWS.com — Kabar terbaru datang dari kasus siswa SMP diduga dianiaya anak kepala sekolah. Pemukulan ini terjadi terhadap seorang siswa berinisial DMH (16). DMH merupakan siswa kelas IX sebuah SMP swasta di kawasan Kecamatan Bantargebang, Kota Bekasi.

Dia diduga dianiaya oleh siswa berinisial S, berusia 15 tahu, yang merupakan anak kepala sekolah. Menanggapi hal itu, Kepala SMP tersebut, Ujang Tholib membenarkan adanya kejadian putranya yakni S melakukan penganiayaan terhadap salah satu siswanya, ialah DMH.

"Pada dasarnya terkait penganiayaan terhadap DMH oleh anak saya benar," tegas Ujang seperti dilansir TribunBekasi.com, Minggu (25/5/2025).

Ujang memaparkan alasan penganiayaan itu karena S tersulut emosi dengan postingan DMH perihal manusia berkepala tikus. "Yang seolah-olah oleh anak saya menggambarkan bahwa manusia berkepala tikus adalah saya sebagai orangtuanya," paparnya.

Kini, Ujang mengungkapkan menghormati upaya DMH yang melaporkan S ke polisi. Hanya saja berharap persoalan itu dapat diselesaikan dengan kekeluargaan. "Tapi kami berharap tetap bisa diselesaikan secara kekeluargaan," pungkasnya.

Sementara diketahui sebelumnya berdasarkan keterangan DMH, dirinya dianiaya S usai mengkritik dugaan pemotongan Program Indonesia Pintar (PIP) oleh pihak sekolah.

"Saya mengkritik sekolah dan memposting di Instagram Stories (Akun sosmed) oknum guru berkepala tikus dengan AI, terus S mengira yang kepala tikus itu bapaknya (Kepsek)," kata DMH saat dikonfirmasi, Jumat (23/5/2025).

DMH menjelaskan dirinya sudah dua kali menerima pencairan dana PIP, dan nominalnya masing-masing Rp 750 ribu.

Namun nominal yang diterima kedua menurut pengakuan DMH justru tidak sesuai dengan jumlah bantuan yang seharusnya. "Yang pertama langsung dimasukkan ke SPP tanpa saya tahu wujud uangnya, yang kedua itu dipotong Rp150 ribu," jelasnya.

Akibat ketidak sesuaian itu, DMH menuturkan kecewa dengan pemotongan dana bantuan tersebut. Selanjutnya DMH langsung menyampaikan kritik melalui media sosial (medsos).

Kritik itu berupa unggahan gambar manusia berkepala tikus yang tengah memegang puluhan lembar uang pecahan Rp 100.000 dengan latar belakang gedung sekolah.

Menanggapi kritikan itu, DMH mengaku pihak sekolah justru menilai sebagai bentuk pencemaran nama baik. "Saya hanya curhat, ingin sekolah saya lebih baik, tapi pihak sekolah menganggap saya mencemarkan nama baik," tuturnya.

Selanjutnya DMH menyampaikan kelanjutan dari kritikan tersebut, pihak sekolah langsung menggelar mediasi dengan dirinya, wali murid, hingga jajaran sekolah.

Ketika melakukan mediasi, DMH mengaku mengalah karena khawatir perlawanannya akan menghambat kelulusannya.

Usai mediasi rampung, DMH masih menyimpan rasa kecewa karena dana bantuan yang dipotong tetap tidak dikembalikan. DMH pun kemudian tetap kembali menyampaikan keresahan isi hatinya melalui media sosialnya. Saat unggahan itu terunggah, S mengetahuinya dan kemudian mendatangi sekolah DMH pada Senin (19/5/2025).

Saat melihat DMH, S diduga langsung melakukan penganiayaan. DMH mengaku dianiaya S ketika hendak mengikuti ujian di ruang kelas. "Tiba-tiba dia masuk sambil teriak, terus dia (S) tonjok kening saya, kepala saya terbentur tembok, lalu dia tonjok lagi bagian rahang saya, sekarang masih sakit dan susah dibuka," ucapnya. Pada sore harinya, keluarga korban langsung melaporkan S ke Polres Metro Bekasi Kota. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Hukrim
wwwwww
www.amsi.or.id