Home > Berita > Umum

Gubernur Abdul Wahid Perbolehkan Siswa SMA di Riau Gelar Acara Perpisahan, asal Sederhana dan Jangan Bikin Orang Tua Berutang

<b>Gubernur Abdul Wahid Perbolehkan Siswa SMA di Riau Gelar Acara Perpisahan, asal Sederhana dan Jangan Bikin Orang Tua Berutang</b>
Jum'at, 02 Mei 2025 16:11 WIB

PEKANBARU, POTRETNEWS.com — Gubernur Riau, Abdul Wahid, menegaskan bahwa kegiatan perpisahan sekolah tetap diperbolehkan selama dilakukan secara sederhana di lingkungan sekolah, tanpa memberatkan orang tua siswa secara finansial.

Pernyataan ini disampaikannya usai memimpin upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 di halaman Kantor Gubernur Riau, Jumat (2/5/2025). Ia menyampaikan kekhawatirannya terhadap tren perpisahan sekolah dan study tour yang justru berujung pada pungutan biaya tinggi. “Saya tidak melarang perpisahan. Yang saya larang itu perpisahan bermewah-mewahan di luar sekolah,” ujar Abdul Wahid seperti dilansir GoRiau.com.

Ia menyebut, kegiatan perpisahan seharusnya menjadi momen sederhana namun berkesan, bukan ajang pemborosan atau ajang gengsi yang berpotensi membuat orang tua terjerat utang. “Silakan perpisahan di sekolah, yang penting sederhana,” tambahnya.

Wahid menekankan bahwa nilai kebersamaan bisa dibangun tanpa kemewahan. Ia menyoroti fakta bahwa banyak orang tua terpaksa meminjam uang demi membiayai kegiatan anak mereka agar tidak merasa malu karena tak ikut perpisahan. “Orang tua bisa pinjam sana-sini demi perpisahan anaknya, karena tidak ingin anaknya malu. Ini tidak boleh terjadi,” tegasnya.

Sebagai bentuk keseriusan, Pemerintah Provinsi Riau telah menerbitkan Surat Edaran melalui Dinas Pendidikan yang melarang seluruh sekolah menyelenggarakan kegiatan perpisahan di luar sekolah. Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa semua kegiatan siswa harus bersifat sukarela, tidak memungut biaya tinggi, serta dijalankan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.

Kepala sekolah diminta bertanggung jawab penuh agar tidak ada pelanggaran terhadap aturan ini. Wahid juga menyampaikan bahwa pendidikan seharusnya tidak menjadi beban biaya tambahan bagi masyarakat. “Kita sudah menggratiskan pendidikan. Tapi kenyataannya, masih banyak yang tidak sekolah karena tidak mampu membayar transportasi atau biaya tambahan lain. Ini harus jadi perhatian bersama,” katanya.

Terkait study tour, Wahid menjelaskan bahwa kegiatan belajar di luar kelas diperbolehkan sepanjang memiliki tujuan edukatif. “Study tour untuk ekspedisi pendidikan silakan, tapi kalau sekadar rekreasi, tidak boleh,” ujarnya. Abdul Wahid berharap seluruh pihak mulai dari kepala sekolah, komite sekolah, hingga pengawas pendidikan dapat bekerja sama menjaga agar sekolah tetap menjadi ruang yang ramah dan inklusif bagi semua anak, tanpa tekanan ekonomi yang tidak perlu. “Esensi pendidikan adalah keberpihakan kepada rakyat, terutama mereka yang kurang mampu,” pungkasnya. ***

Editor:
Roy Pribadi

Kategori : Umum, Riau
wwwwww
www.amsi.or.id